Ziarah Kubur dalam Etalase Tradisi

“Quidquid recipes recipitur secundum modum recipientis”/ apa yang diterima, (maka) diterima menurut cara si penerima.

0
449

Permasalahan furu’ yang memang khilafiyah, merupakan sebuah permasahalan yang bisa dikatakan sebagai permaslahan yang pelik belakangan ini. Meskipun telah terdapat berbagai ijtihad dari ulama salaf dan kholaf, dan dalam sejaranya telah di patenkan sebuah pakem “mujtahid mutlak” yang di dalamnya ialah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi’I, Imam Ahmad bin Hambal. Akantetapi permasalahan yang melingkupi kehidupan manusia tidak hanya berhenti pada saat itu saja, apalagi hanya berhenti pada saat “tertutupnya pintu ijithad” kala itu, sehingga ijithad-ijithad baru seringkali mendapatkan persepsi yang berbeda oleh penerimanya (masyarakat).dan dalam pepatah asing dinyatakan bahwa; “Quidquid recipes recipitur secundum modum recipientis”/ apa yang diterima, (maka) diterima menurut cara si penerima.

Sumber gambar; Internet

Seperti permasalahan mengenai ziarah kubur, permasalahan yang muncul dalam permukaanya pun mendapatkan respon yang variatif, juga menohok. Akantetapi dalam sebuah literature klasik disebutkan bahwa ziarah kubur memiliki sebuah legitimasi yang pasti, yaitu telah ditetapkan sebagai syari’at secara universal, hingga hal tersebut juga ditetapkankan sebagai sunah bagi laki-laki dan di sunahkan juga bagi perempuan dalam madzhab Hanafi, dan terdapat pengecualian bagi kaum perempuan (pendapat jumhur ulama) menetapkan status karahah atau makruh sebab memiliki perasaan yang halus dan dikarenakan akan hanyt dalam kenangan masa lalu, dan juga karena hal itu juga memiliki banyak pesan moral di dalamnya, seperti mengingat kematian serta mengunjungi persinggahan terakhir seorang manusia. Mayoritas umat islam pada masa lalu dan juga hari ini menetapkan ziarah kubur sebagai terhadap Nabi sebagai sebuah syari’at, dan ini diambil dari mayoritas ulama yang memumpuni atas sebuah fatwa dari madzhabnya masing-masing, bahwa ziarah kubur merupakan sebuah tradisi yang telah di kukuhkan (sunah mu’akadah), dan karenanya juga bisa mencapai (baca; mendekati) wajib. Dan ini merupakan fatwa dari mufti Tha’if penganut madzhab Hanafi/Hanafiyah.

Meskipun dari pendapat Imam madzhab tersebut telah ditetapkan namun persoalan yang mencuat kini berbeda dengan permaslahan pada masa lalu dengan konteks yang berbeda. Pada saat ini permasalahan ziarah tersebut legitimasi sebagai sesuatu yang “mengada-ada” atau dengan bahasa lain bid’ah, karena bagi yang menganggap hal tersebut bid’ah ialah dengan argumen bahwa ziarah tersebut tidak memiliki landasan hukum konstan dalam teks-teks keagamaannya, sehingga apabila mendapati seseorang yang sedang melakuikan ziarah kubur, maka justisfikasi atasnya ialah; bid’ah. Entah apa yang mendasari hal tersebut, sehingga kalim-klaim tersebut begitu mudah dilontarkan, kepada sesama agama bahkan.

Dalam surat an-nisa ayat 63 disebutkan :

ولو أنّهم إذظّلموا أنّفسهم جاءوك فا ستغفرواالله واستغفرلهم الرّ سول لوجدواالله توّاباً رّحيما

“Sekiranya mereka setelah mendzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.”

Dan dalam sebuah hadist nabi di sebutkan dengan isyarat dilalah yang mengindikasikankan sebuah perintah ziarah sebagai pengingat akan perkara eskatologis (hari akhir);

 قال نبى صلى الله عليه وسلم : {إني كنت نهيتكم عن زيا رة القبور فزوروها, فإنها تذكر با لآ خرة}

Juga apabila seseorang melangsungkan ziarah (mengunjungi) kepada Nabi semasa beliau wafat, maka derajatnya sama seperti mengnjungi beliau ketika masih hidup;

قال نبي صلى الله عليه وسلم : { من زارني بعد موتي فكأنما زارني في حياتي }

Dan terdapat juga hadist-hadist yang berkenaan dengan syafaat yang diberikan oleh Nabi apabila seseorang menziarahi makam Nabi;

قال نبي صلى الله عليه وسلم : { من زار قبري وجبت له شفاعتي }

                Dan dengan adanya sebuah dalil-dalil tersebut, maka indikasi atas ziarah menjadi semakin kuat untuk di jadikan hujjah atas sebuah hukum yang telah dilegitimasi sebelumnya, dan bagi mereka yang mereka melarang dengan alasan bid’ah  hingga syirik (polyteis), sangatlah disesalkan, karena dengan melihat adanya sebuah teks keagamaan yang memang mengindikasikan perintah tersebut. Kemudian dengan mengutip sebuah tulisan dari buku Agus Sunyoto; Suluk Sang Pembaharu; Perjuangan dan Ajaran Syaikh Siti Jenar bahwa “Bagaimana bisa engkau berhubungan dengan Tuhan kalau berhubungan dengan orang yang sudah mati saja tidak bisa,” yang mana di dalamnya terdapat pola relasi antara yang telah tiada dan yang masih ada atau hidup, juga sebagai pengingat atas siklus waktu yang singkat ini, sehingga Imam al-Ghazali mengatakan “Ilmu itu luas, sedangkan usia kita sangat singkat.”

Sumber gambar ; Internet

Hingga sebuah tradisi ziarah kubur terhadap para wali di bumi Jawa sejak dahulu telah menjadi sebuah rutinitas bagi masyarakat, dengan dilakukan secara bergerombol, komunal serta dengan banyak tujuan, sehingga ziarah kubur baik kepada Nabi, para wali, dan orang tua menjadi sebuah kebutuhan spiritual manusia, dan oleh karenanya tradisi ziarah kubur terhadap orang tua sering dilakukan pada kamis sore di pejaratan-pejaratan (tempat pemakaman) kota hingga pelosok desa, sebagai upaya pendekatan manusia terhadap Sang Pencipta juga dengan membangun sebuah relasi yang saling bersinergi. Dengan maksud dan tujuan tersebut ulama ushul memberikan sebuah kaidah;

الوسائل حكم المقاصد

“hukum atas sarana (wasa’il) itu mengikuti tujuannya”

 Dan melakukan sebuah perjalanan untuk berziarah kubur pun merupakan sunah, hal ini bertendensi pada sebuah hadist Nabi bahwa ;

قوله صلى الله عليه وسلم : { لا تشد الرحال إلا إلى ثلا ثة مساجد: مسجدي هذا, والمسجد الحرام, والمسجد الأقص}

Dan makna dari tersebut dalam kitab Futuhatul wahab dijelaskan bahwa masjid dalam matan hadist tersebut ialah bermakna (menuju masjid dari masjid) danjuga dengkan konteks yang menyeluruh seperti dalam mencari ilmu atau melakukan aktifitas ekonomi.

Sehingga syaikh Ali Jum’ah menyimpulkan dalam karya monumentalnya (Bayan al-Qowim);

فإن شد الرحال لزيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم مستحب, لأ نه الوسيلة الوحيدة لتحصيل المستحب وهوالزيارة, وكذلك شد الرحال لزيارة قبور الصالحين والأقارب مستحب, لأنه وسيلته, وشد الرحال للأ مور المبا حة مباح.

Ziarah kubur kepada Nabi merupakan suatu kesunahan, begitu pula ziarah kubur kepada shalihun para wali dan kerabat juga termasuk dalam kesunahan, karena merupakan sebuah sarana (was’il). Dan perjalan yang pada asalnya dihukumi mubah (boleh) namun karena niat untuk mendekatkan diri kepada Allah maka status hukum mubah tersebut berganti menjadi sunah, sesuai dengan kaidah di atas tadi.

Selasa, 18 April 2017

Ahonk bae

Comments

comments