vertikalisasi perjuangan (Mi’raj)

0
1207

IMG_1322Terasa indah dua hari ini, dimana dua agama samawi saling berdampingan memberikan angin segar kepada umatnya untuk menghela nafas yang penat dari polusi, atau bahkan kolusi yang menyesaki ruang politik bumi ini.

Agama sudah menjadi watak dan karakteristiknya menyelami dinamika kehidupan manusia yang penuh aral melintang dan terus mengisi gelora kosmologi kehidupan manusia, selain fungsinya yang menentramkan dan menenangkan kehidupan, agama juga memberi mencipta ruang gerak dengan koridor-koridor yang telah tentukan atau di nashkan melalui dimensi wahyu yang tak kasat mata. Hal ini berdampak pada upaya-upaya seperti ritual pemujaan yang dilakukan bagi pemeluk agama tersebut, seperti sembahyang atau sholat sekalipun yang dilakukan secara kontinu oleh setiap individunya. Seperti pada historikal yang merepresentasikan “souvenir” berupa shalat bagi umat Islam telah melalui “travel” panjang. Isra Mi’raj merupakan sebuah perjalanan lintas dimensi yang dilakukan oleh seorang rasul sebagai pebuktian atas eksistensinya sebagai seorang utusan, juga dalam rangka mengajarkan umatnya tentang dialektika intuitif yang tentunya menyangkut kepercayaan, atau biasa di sebut iman. Dalam perjalanan tersebut tidaklah mesti dipahami sebagai perjalanan fisik, karena Isra merupakan sebuah perjalanan dari masjidil Haram (Arab) menuju Baitul Muqaddas (Palestina) yang jika dalam term logika hal itu merupakan sesuatu yang absurd dilakukan hanya waktu malam hari, kemudian pada waktu tersebut teknologi belum memadai untuk menopang perjalanan tersebut. Mi’raj, ialah sebuah dimensi yang jauh dari kata mungkin bagi manusia biasa, mengingat bahwa Mi’raj tersebut merupakan perjalanan dari Palestina menuju Sidratul Muntaha atau biasa di sebut langit lapisan ke tujuh, juga dalam perjalanan tersebut ia (rasul) tidak sendiri namun dipandu (guide) oleh Jibril.

Dalam kaitannya atas sebuah sejarah sebagai diskursus ilmu maka sudah selayaknya fenomena tertesebut bukan hanya di tersendat pada sebuah selbrasi keagamaan (baca : PHBI), namun dalam perjalanan lintas dimensi tersebut Nabi berhasil menjadi seorang negosiator dengan pencipta semesta. Dengan merumuskan hasil sementara kepada nabi-nabi yang lain, maka musyawarah sebagai wujud sebuah demokrasi terjadi pada fenomena tersebut, dengan pertimbangan kemanusiaan dan komparasi dari umat sebelum Muhammad, maka beliau beberapa merevisi keputusan perintah sholat, dari yang awalnya 50 waktu hingga 5 waktu dalam 24 Jam/sehari, dan ketika apa yang telah terjadi pada beliau, beliau memproklamirkan pesan dari pemilik semesta tersebut, meski banyak yang bernegasi atas apa yang disampaikannya, akan tetapi ada yang percaya dengan apa yang beliau sampaikan, meski awalnya dalam jumlah yang sangat minim. Betapa terasa menyentuhnya demokrasi tersebut. Kemudian nabi Isa, harus menjadi altruis sejati dengan mengorbankan dirinya demi pengikutnya dan rela menjadi bulan-bulanan pasukan kerajaan yang tidak sejalan dengan apa yang ia sampaikan pada saat itu. Hingga berujung pada tuduhan tak berdasar dan penangkapan karena penghkhianatan salah seorang muridnya, namun ahirnya sang pencipta mengangkatnya ke langit dan menyamakan rupa Isa dengan muridnya yang berhianat tersebut, meski dalam sejarah mainstream berkata lain. Betapa banyak nuansa kehidupan yang dialami oleh seorang pemula, meski tidak ada sebuah kemustahilan bagi pemilik semesta, akan tetapi dari hal kecil di atas dapat dijadikan sebuah parameter perjuangan dalam melakukan sebuah kebenaran dalam skema pembenaran yang sejatinya penuh keabsurdan.

Rasul bukan semata-mata penyuplai pesan-pesan keagaman yang sifatnya vertikal, namun dalam eksistensinya pesan tersebut banyak mengandung nilai-nilai kemanusaian yang hingga hari ini harus diperjuangkan, bukan hanya dengan jalan retorika (dakwah), namun dalam aksi konkrit yang menyentuh gress root, yang dalam realitasnya banyak kemungkaran-kemungkaran hingga pendzaliman terjadi. Shalat, sembahnyang atau apapun namanya bukan hanya di definisakan sebagai do’a, atau sebuah aktifitas takbir hingga salam, namun lebih didefinisikan sebagai sebuah pengahayatan kepada sebuah intropeksi terhadap diri sendiri dan tanggung jawab kemanusiaan yang tunduk pada pemilik kebenaran.

Comments

comments