Trafficking Dalam Second Sex

"Suatu ketika aku ingin menjelaskan diriku pada diri sendiri.. Dan perkara ini menohokku dengan sebuah kejutan bahwa hal pertamayang aharus aku katakan adalah 'Aku seorang perempuan'"-Simone de Beauvoir

0
524

         Ia selalu dijuluki dengan sebutan yang bersifat memojokkan, serta terkesan mendiskreditkan harkat derajat serta martabatnya sebagai seorang perempuan. ‘Tota mulier in utero’ atau berarti perempuan adalah rahim, sehingga perempuan selalu —jika tidak, berarti terkadang— menjadi sebuah objek atas sinonimnya, yaitu laki-laki. Karena laki-laki pada umumnya berasumsi bahwa perempuan tidak lebih dari sekedar mahluk manusia yang didesain dengan sewenang-wenang olah kata perempuan itu sendiri. Hal ini menimbulkan berbagai perspektif tentangnya (perempuan), lalu siapakah dia? kenapa dia ada? dan apa peran mutlaknya sebagai mahluk hidup?

Pada sisi bologisnya, ia merupakan sesuatu seperti apa yang dikatakan tadi, ‘perempuan adalah rahim’ yang dengannya ia bisa difungsikan sebagai alat produksi makhluk baru atau manusia baru melalui jalan perkawinan. Namun, seperti yang ditandaskan oleh Doroty Parker bahwa “Saya tidak dapat begitu saja menulis buku yang memperlakukan perempuan sebagai perempuan, ide saya adalah kita semua, kaum laki-laki dan kaum perempuan, seharusnya dianggap sebagai manusia.” Karenanya, jika mendiskriminasikan perempuan sebagai mahluk yang berbeda dengan laki-laki atau ‘sosok yang lain’ hanya dengan alasan biologis semata, maka kecederungan akan sifat ego bermunculan. Semisal sebagai seorang yang kuat, pemilik cikal bakal manusia umpamanya, atau sebagai sebagai pemilik perempuan dalam terminologi kekuasaannya. Walau pada kenyataannya dengan berjalan-jalan serta dengan mata yang terbuka saja sudah cukup untuk mendemonstrasikan bahwa manusia terbagi menjadi dua kelompok individu, yang mana pakaian, wajah, tubuh, senyum, gerak-gerik, dan lainnya telah membuktikan pembedaan yang bersifat dangkal dan ditakdirkan untuk dilenyapkan. Pembedaan itu telah menjadi sesautu yang lumrah sehingga ruang dikotomi terbuka lebar.

Terdapat dua istialah dalam penyebutannya feminim dan maskulin yang digunakan secara simetris semata-mata hanya sebagai masalah bentuk layaknya kertas-kertas resmi. Walau dalam aktualisasinya, hubungan antara kedua jenis kelamin ini tidak persis seperti arus listrik, karena laki-laki mewakili baik arus positif dan arus netral. Namun bukan berarti bahwa perempuan selalu mewakili dalam hal yang berkonotasi negatif yang didefinisiakan oleh kriteria-kriteria terbatas tanpa adanya hubungan timbal balik. Dalam realitasnya, istilah feminim dan maskulin sudah barang tentu menjadi sebuah pembeda dan memberikan ruang gerak yang terbatas bagi ‘si feminim’ tersebut. Sebaliknya maskulin adalah tipe manusia absolut, sementara perempuan memiliki ovarium, uterus sehingga kekhususan ini justru memenjarakan dalam subytektivitas yang melingkupi dalam batasan alaminya. Aristoteles berujar “Perempuan adalah perempuan dengan sifat khususnya yang kurang berkualitas, sehingga kita harus memandang sifat perempuan yang dimilikinya sebagai suatu ketidaksempurnaan alam.” Maka, perempuan bukanlah mahluk yang absolut dalam sifatnya sehingga pandangan Aristoteles tersebut menghantarkan para pembacanya terhadap sebuah nilai estetika kosmologis.Sedangakan St. Thomas mengasumsikan bahwa perempuan sebagai laki-laki yang tidak sempurna, bahkan sebagai mahluk yang tercipta secara tidak sengaja.

Meski dalam realitasnya, ego yang lain serta kesadaran yang lain justru melakukan hal yang resiprokal yang pada ujungnya antara kaum laki-laki dan perempuan akan saling bersinergi dalam kehidupan sehari. Atau malah dominasi perempuan pada era post-modern seperti pada saat ini telah menguntungkan kaum perempuan. Dalam sejarahnya, perempuan mengalami perjalanan diskrimiatif dalam berbagai aspek, seperti dalam hal ekonomi yang harus menciptakan dua kasta; hal-hal lain disamakan, namun kaum laki-laki menduduki posisi yang lebih tinggi. Juga dalam kancah politik, pos-pos penting di isi oleh kaum laki-laki kemudian memonopolinya. Selain itu, mereka (kaum laki-laki) menikmati prestise tradisional, karena pendidikan bagi anak-anak memiliki kecenderungan dengan adanya fasilitas yang mendukung, dan di masa lalu sejarah selalu dibuat oleh laki-laki.

Wanita diposisikan dalam posisi yang ke-dua hanya karena alasan biologis, dibedakan dalam satu spesies karena fungsi reproduksinya. Kemudian saat laki-laki memperlakukan perempuan sebagai Sosok yang Lain, ia akan berharap perempuan memanifestasikan lebih jauh kecenderungan keterlibatannya. Dalam kurun sejarahnya, tokoh seperti Poulain de la Bare mengatakan perihal penulisan mengenai perempuan: “Apa saja yang pernah ditulis laki-laki mengenai perempuan harus dicermati, karena laki-laki berperan sebagai hakim sekaligus penuntutnya.” Lebih jauh lagi Poulain menulis “Menjadi laki-laki, mahluk yang membuat dan menyusun hukum demi kepentingan seks mereka, dan para juri mengangkat hkum-hukum ini menjadi prinsip-prinsip.” Miris memang apabila melihat perempuan dari sudut hukum pada masa lalu, dan apabila melihat hukum Romawi yang membatasi hak-hak perempuan dengan alasan “Mahluk dungu dan tidak stabil”, hingga pada abad keenam belas St. Agustinus menyatakan bahwa “Perempuan adalah mahluk yang tidak dapat bersikap tegas ataupun konstan”. Hal ini sudah barang tentu menjadi bias gender dalam era-modern seperti saat ini yang segala sesuatunya telah di dominasi oleh kaum perempuan. Baik karena aktivis yang menyebut dirinya atau kelompoknya sebagai ‘feminis’ atau karena oleh kata ’emansipasi’ sendiri yang akhirnya mereduksi paradigma abad enam belas tersebut. Seperti Montaigne yang berusaha memahami perempuan yang mengintepretasikan melalui hukum yang secara sepihak: “Perempuan tidak dapat disalahkan manakala mereka mereka menolak aturan-aturan yang diterapkan kepada mereka, karena kaum laki-laki membuat aturan-aturan tersebut tanpa berkonsultasi dengan mereka.” Pada abad kedelapan belas muncul tokoh seperti Diderot yang yang berusaha menunjukan bahwa perempuan —seperti halnya laki-laki— adalah juga manusia. Hingga pada abad kesembilan belas yang ditandai dengan adanya revolusi industri menjadi sebuah konsekuensi masuknya kaum perempuan menjadi buruh produktif.

Seperti halnya sebuah kebencian, dalam membuktikan inferioritas perempuan pun mengunakan manuver yang sekiranya argumen lain ‘kandas’ dalam sebuah perebatan. Sama seperti halnya agama, filsafat, teologi, dan sebagainya untuk membuka ruang “kesetaraan dalam perbedaan” kepada jenis kelamin yang Lain. Contohnya Jim Crow yang membuat adagium yang ditunjukan kepda bangsa Negro di Amerika Utara. Ia membuat kesetaraan namun terpisah, dan pada sejarahnya memang bangsa Negro dianggap sebagai manusia kelas dua. Ungkapan yang lebih gila dari itu ialah apa yang pernah diucapkan oleh George Bernard Shaw: “Seorang kulit putih Amerika menempatkan orang kulit hitam sekelas dengan tukang semir sepatu; dan ia lantas menyimpulkan bahwa orang kulit hitam tidak lebih baik dalam hal apa pun kecuali menyemir sepatu”.

Perempuan yang telah dielaborasikan dalam sejarah merupakan sebuah prototype oleh sebuah akar dari adanya budaya patriarki yang menempatkan perempuan sebagai posisi kedua dalam kehidupan ini. Seperti halnya dalam keluarga, perempuan tampak memiliki martabat sosial yang sama seperti laki-laki dewasa lainnya. Ketika laki-laki bersikap kooperatif dan menjalin hubungan dengan penuh kebjikan dengan perempuan, motifnya berupa prinsip kesetaran yang abstrak. Namun saat terjadi konflik dengan pasangannya, maka situasi berbalik. Motif utama yang diajukan berupa ketidaksetaraan yang ada. Sehingga subordinat tak terelakan dalam kehidupan keluarga. Hal ini menyebabkan banyak orang yang berusaha mencari cara untuk membuktikan bahwa perempuan itu superior, inferior, atau setara dengan laki. Sebagian pendapat mengatakan bahwa perempuan diciptakan setelah Adam, maka perempuan jelas mahluk yang sekunder. Sedangkan pendapat lain mengatakan sebaliknya, bahwa Adam hanyalah sketsa kasar dan Tuhan berhasil menyempurnakan mahluk manusia ketika menciptakan Hawa. Apabila otak perempuan memang lebih kecil, Memang benar tetapi secara relatif lebih besar. Begitulah yang diargumentasikan oleh kelompok yang berjuang mempertahankan hak-haknya yang kian larut menjadi perdebatan, bahkan hingga era kekininan.

Dalam dinamika modern seperti saat ini, perempuan telah menempati pos-pos penting dalam kancah publik seperti dalam ekonomi, politik, serta budaya. Peranan perempuan kini tidak bisa dinafikan lagi eksistensinya. Misalnya dalam era industri, perempuan telah banyak direkrut oleh perusahaan, terutama yang masih dalam usia remaja. Hal ini tentu saja telah banyak menyisakan ruang tanya bagi kaum laki-laki yang ‘semestinya’ berada dalam pos-pos tersebut. Belajar dari deretan kasus yang menimpa perempuan tersebut, dalam hal ini perempuan masih sebagai objek oleh mahluk di atas laki-laki yang menerapkan pola en-soi – yaitu kehidupan brutal untuk memenuhi kebutuhannya. Maka asumsi-asumsi bahwa kaum feminis telah berhasil mengangkat derajat kaum perempuan menajadi semacam blue print jika praktik-praktik semacam kekerasan terhadap perempuan masih sering terjadi. Sehingga bagaimanapun juga, masih ada di antara para laki-laki yang masih menganggap perempuan sebagai Sosok yang Lain, meskipun laki-laki telah mencoba menstabilisasikan perempuan sebagai objek dan menempatkannya pada imanensi.

Mengingat transendensinya dibanyang-bayangi oleh ego lain yang esensial dan berdaulat. Maka permasalah yang dihadapi perempuan pada abad ini begitu pelik, mulai dari dogma yang mengikat hingga penyudutan-penyudutan perempuan pada masa lalu, seperti halnya dalam Kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang begitu dinikmati. St. Paulus menyatakan “Laki-laki bukanlah bagian dari perempuan, melainkan perempuan bagian dari laki-laki. Demikian juga halnya dengan laki-laki bukan milik perempuan tetapi perempuan adalah milik laki-laki.” atau di lain tempat dituliskan bahwa “Suami adalah pemimpin bagi istri, sebagaimana Kristus adalah pemimpin gereja, yang oleh karenanya sebagaimana gereja tunduk pada Yesus, maka istri harus tunduk pada suami dalam segala hal.” Serta norma sosial yang ketat membuat perempuan seperti ‘tersudutkan’ dalam kehidupannya yang seharusnya mendapatkan porsi yang sama seperti laki-laki. Namun dengan adanya norma sebagai tali pengikat pada kaum perempuan maka telah patut laki-laki pun mendapatkan perlakuan yang sama seperti halnya perempuan. Ungkapan satir pernah ditulis oleh Tertullianus “Perempuan kau adalah pintu masuk setan, kau membuat orang tersesat yang setan sendiri pun tak berani menyerangnya secara langsung.”

Dari sederatan kasus yang sebagian besar di dalamnya menyeret kaum perempuan ialah kausus trafiking atau perdagangan manusia. Secara garis besar, trafiking tersebut merupakan tali estafet dari perbudakan pada masa lalu yang pernah terjadi pada sebagian besar belahan bumi. Trafiking pada saat ini lebih terstruktur dan sistematis, dan objek vitalnya ialah kaum perempuan yang sering mengalaminya. Karena dalam siklus ekonomi dengan pola pragmatis, manusia, terutama perempuan yang seringkali terjebak pada ranah prostitusi yang semakin hari hari semakin semi-legal dan dengan didukung oleh onkum-oknum pemerintahan yang terlibat dalam drama perselingkuhan kaum elit tersebut. Walaupun Schopenhauer dengan sentimen mengatakan “Pelacur adalah tumbal manusia di altar monogamy.” pelacuran yang terkadang —jika tidak sering— terkonstruksi dari trafiking yang semakin ‘cantik’ dalam administrasinya dan mengelabui masyarakat dengan euforia materi berlimpah atasnya. Tidak sedikit perempuan yang mengalami jebakan-jebakan prostitusi berkedok pekerjaan, atau dalam relevansi keindonesiaannya ialah TKI yang semakin hari semakin mengahwatirkan.

Perempuan dalam kuantitas serta kualitasnya memang begitu relatif, sehingga perempuan sudah seharusnya mendapatkan hak previlise yang sebagaimana Rousseau berbicara kepada kaum kelas menengah bahwa keseluruhan pendidikan perempuan harus relatif bagi laki-laki, perempuan diciptakan untuk mengalah pada laki-laki dan menjadi objek bagi ketidakadilannya. Perlakuan proporsional yang semestinya diberikan kepada semua manusia secara universal. Permasalahan yang menimpa pada perempuan dalam kisruh ekonomi, sehingga istilah yang disematkan pada perempuan yang bekerja sebagai TKI adalah ‘pahlawan devisa’ ahirnya terselubung pada sisi administrasi yang rapih tersebut. Sudah banyak menjadi korban atas kecerobohan alam pemikiran praktis permpuan yang sarat akan modern style-nya. Kasus semacam ini sering menimpa perempuan-perempuan desa yang ‘lugu’ serta didukung oleh minimnya informasi mengenai trafiking tersebut. Idealnya, di pedesaan perempuan petani mempunyai peran penting dalam bertani, walau ia diperlakukan tak ubahnya seorang pembantu karena ia bekerja lebih keras hingga ia tidak dapat makan semeja dengan keluarga. Namun pada akhirnya meraka memilih jalan lain dari koridor ideal tersebut, dengan menjadi buruh yang pada perjalanan sejarahnya merupakan manusia, atau perempuan yang merdeka. Karena ketika perempuan memegang peranan ekonomi, maka menjadi mungkin bagi pekerja perempuan untuk meraih berbagai hak dan previlise yang tidak pernah diperoleh sebelumnya.

Berbeda dengan perspektif Balzac yang mengatakan “perempuan yang telah menikah adalah budak bagi seorang yang harus dapat menetapkan singgahsananya.” walau terkesan sinis atas apa yang di ucapkan oleh Balzac tersebut. Jika dilihat dari sudut pandang kredo-teologis serta hukum reproduksinya, peran mutlak atas perempuan ialah sama halnya dengan laki-laki yang sama-sama memiliki hak hidup serta melanjutkan kehidupan dengan semestinya. Karena perbedan jenis kelamin merupaka sebuah kodrat dalam pada hukum alam ini. Namun hal-hal yang fundamental dalam kehidupannya adalah sama. Menstruasi, yang oleh orang Anglo-Saxon di sebut sebagai “kutukan bulanan” merupakan sebuah pernyataan yang dapat mengisoalasi keberadaan perempuan. Sama halnya seperti yang terjadi pada orang Yahudi bahwa ketika perempuan yang dalam masa menstruasi harus berada di luar rumah, kandang misalnya. Hingga tiba pada kesimpulan bahwa perempuan sepenuhnya belum merasakan kemerdekaan dari apa yang diperolehnya selama ini. Dengan merebaknya kasus seperti trafiking, dapat menjadi sebuah indikator terdegradasinya nilai seorang perempuan yang pada hakikatnya ia adalah manusia seperti halnya laki-laki, jika bertukar posisi pun mereka akan melakukan hal yang sama seperti perempuan, atau mungkin lebih tertindas dalam tafsir gender hari ini.

 

         Selasa, 07 Maret 2017

Ahonkbae

Comments

comments