The story of Nahwu (Edisi I)

0
1287

Siang hari di sudut wihdah, ada dua santri sedang bersiap-siap berangkat madrasah, seraya mempersiapkan kitab terjadi satu obrolan menarik. Kebanyakan santri, mengobrol merupakan cara lain mendapatkan ilmu dengan cara bertukar pendapat.

Seorang santri bernama Dul Kenyot sedang frustasi dengan ilmu nahwu yang menurutnya sangat sukar dipelajari, ia pun ngobrol dengan temannya.

Dul Kenyot     : “Pli, pernah merasa bosan nggak sih belajar nahwu terus?”

Dul Kipli         : “Bosan kenapa? karena sulit dipahami?”

Dul Kenyot     : “Bukan begitu, saya rasa kalau mau bisa bahasa arab langsung aja pergi ke arab, praktik di sana. Seperti orang arab, enggak perlu pusing belajar ilmu nahwu lagi, karena bahasa arab sudah menjadi bahasa sehari-hari.”

Dul Kipli         : “Ya enggak gitu juga lakh, kamu tahu nggak sejarah asal mulanya ilmu nahwu?”

Dul Kenyot     : “Hah (melongo), emang ada? Kamu pikir manusia ada asal-mulanya.”

Dul kipli          : “Ada lah, masa belum tahu. Semua makhluk Allah yang ada di dunia ini pasti ada asal mulanya.”

Dul kenyot      : “Iya, iya,, bagaimana memang asal-mulanya?”

Dul kipli          : “Dih,, kepo ya.”

Dul kenyot      : “Haruh, cepetan lah (tidak sabar, sehingga tidak ada selera buat guyon)

Dul kipli          : “Begini ceritanya:

“Pada suatu malam Abu Aswad (bapak ilmu nahwu) sedang duduk di pelataran rumah bersama anak perempuannya, sang anak memandang langit beserta bintang gemerlap yang indah dalam langit gelap. Kemudian ia bertanya pada sang ayah.

Anak              : “Wahai ayahanda, ” مَا اِحْسَنُ السَّمَاءِ “ ?”

Maa ihsanussamaai (dengan mengkasrohkan hamzah dan mendhommahkan nun pada kalimat ihsanu {kalimat istifham}) yang bermakna “apa yang menjadikan langit itu indah?”

Abu Aswad     : “Serangkaian bintang-bintang di langit” (dengan mengira anak perempuannya itu bermaksud mengatakan bahwa : “sesuatu apa yang menjadikan langit itu indah?”)

Anak               : “wahai ayahanda, saya tidak bermaksud dengan apa yang ayahanda katakan, melainkan saya kagum dengan keindahannya.”

Abu Aswad     : “kalau itu kehendakmu nak, maka katakanlah “مَا اَحْسَنَ السَّمَاءِ“!

Maa ahsanussamai (dengan memfathahkan hamzah dan memfathahkan nun pada kalimat ahsanu {kalimat ta’ajjub})

Kemudian pagi harinya, Abu Aswad melapor kepada Sayyidina Ali ibn Abi Tholib,

Beng Rahadian - Ngaji Era Digital - Jakarta - [ Foto: Muller Mulyadi ]Abu Aswad     : “Wahai Amirul Mukminin, telah terjadi sebuah percakapan antara aku dan anakku, yang di mana aku tidak memahami maksud perkataan anakku” (Abu Aswad menceritakan percakapannya dengan anaknya).

Sayyidina Ali  : “Itu dikarenakan pengaruh tercampurnya bahasa ‘ajam (Selain Arab) dengan bahasa arab sehingga menjadi rancu”.

Kemudian Sayyidina Ali memerintahkan Abu Aswad untuk membeli

lembaran dan menuliskannya.*

Bel, tanda masuk Madrasah berbunyi.

Dul Kipli         : “sudah harus masuk madrasah tuh, nanti saja yah saya lanjutin ceritanya!

Dul kenyot      : “Tanggung keles” (dengan muka kesal)

Dul Kipli         : “Belajar itu harus sabar”

Dul Kenyot     : “nggihhhhhh yai” (pasrah)

Bersambung………………….

 

 

 

 

 

 

*cerita di ambil dari kitab “شرح محتصر جدا : على متن الجرومية

Tulisan ini kiriman dari Santri putra kelas 2 Tsanawiyyah

Comments

comments