Tahlil Sebagai Pemersatu Rakyat

“Bagaimana bisa engkau berhubungan dengan Tuhan kalau berhubungan dengan orang yang sudah mati saja tidak bisa,”

0
653

Mengutip sebuah tulisan dari buku karya Agus Sunyoto; Suluk Sang Pembaharu; Perjuangan dan Ajaran Syaikh Siti Jenar bahwa “Bagaimana bisa engkau berhubungan dengan Tuhan kalau berhubungan dengan orang yang sudah mati saja tidak bisa,” begitu kiraya suatu pleidoi yang bisa diucapkan, ketika mendapati sebuah situasi-kondisi yang menyudutkan seseorang atau sebuah kelompok dari sekte agama yang masih memegang erat sebuah tradisi Tawassulan di sekitarnya. Seperti Tahlilan atau ziarah kubur yang menjadi sebuah rutinitas konkrit masyarakat, atau seperti dalam momentum tertentu, masyarakat mengapresiasikan rasa syukur-nya terhadap Tuhan melalui ritual-ritual tersebut. Meskipun terdapat sebagian kecil masyarakat, yang memang secara terang-terangan melakukan suatu offensive atau serangan, baik lisan maupun tulisan, yang menyatakan ritual semacam tawassulan tersebut merupakan sesuatu yang Bid’ah (mengada-ada) bahkan Bid’ah Dhalalah, sebab hal-hal semacam itu tidak terdapat pada masa Nabi Muhammad, dan pada perspektif lain, adapula yang mengatakan Syirik. Dan dengan argumen yang sama; hal semacam itu tidak terdapat pada masa Nabi Muhammad, sehingga menurut mereka bagi siapapun yang mengaku beragama Islam namun melakukan hal tersebut maka ia akan masuk Neraka. Begitu sentilan-sentilan yang terlontar dari mereka yang mayoritas mengecap-nya sebagai aliran radikal, karena bukan hanya sentilan teologis semata yang ‘latah’ diucapkannya, melainkan dalam hal yang memiliki keterkaitan dengan kenegaraan pun tidak luput dari sambangannya ketika dakwah dari mimbar ke mimbar-nya.
Dan pada tempat yang lain H.M. Dian Nafi’ [2004;39] menuturkan persoalan yang terkait dakwah tersebut, bahwa “Problem dakwah yang disampaikan jauh dari dari muatan realitas manusia dan hanya berkutat pada persoalan teologis semata, karena dalam situai konflik berkekerasan (seperti) dewasa ini, (para juru) dakwah agama juga memperoleh pekerjaan penting untuk memperkuat landasan moral bagi pembangunan perdamaian, pemerintahan yang bersih, pembangnan yang berkelanjutan, pengarahan terhadap hak asasi manusia, dan pelestarian lingkungan hidup,” dalam Menimba Kearifan Masyarakat-nya. Sehingga belakangan, apa yang terjadi dengan fenomena ta’bidi dan takfiri tersebut merupakan sebuah indikator atas kegagalan dari dakwah itu sendiri, sebab hanya melulu dalam permasalahn teologis. Sehingga pada sisi fleksibilasnya masyarakat yang merupakan objek dari hal tersebut bisa seratus delapan puluh derajat berubah menjadi beringas, dan yang sangat dikhawatirkan ialah terpecahnya masyarakat, menjadi sesuatu yang sporadis, yang secara langsung atau tidak langsung akan mengancam nilai-nilai kebangsaan.

sumber; internet

Serta sebelum kita menelisik tawassul yang selama ini di dengungkan oleh mereka maka ada baiknya kita melihat sebuah teks-teks keagamaan yang melegitimasi ritual-ritual semacam itu, dan pada kitab al-Bayan al-qowim karya syaikh Ali Jum’ah dijelaskan bahwa; Tawassul atau wasilah merupakan suatu cara yang bisa mendekatkan diri pada Allah dengan adanya perantara. Jika dianalogikan maka seperti saat seseorang hendak menghadap raja misalnya, bahkan dalam al-Qur’an dinyatakan;

ياأيّها الّذين آمنوا اتّقواالله وابتغواإليه الوسيله {المئدة:35}

أولئك الّذين يدعون يبتغون إلى ربّهم الوسيلة أيهم أقرب ويرجون رحمته ويخافون عذابه إنّ عذاب ربك كان محذورا {الإسراء:57}

ولو أنّهم إذظّلموالأنفسهم جاءوك فاستغفرواالله واستغفرلهم الرّلوجدواالله توّابا رّحيمّا {النّساء:64}

“Sesungguhnya jikalau mereka menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

Dan terdapat dalam hadist Nabi Muhammad SAW; disebutkan bahwa satu waktu ada seorang laki-laki tunanetra yang datang kepada Nabi dengan maksud untuk bisa menolongnya dari kebutaan, kemudian Nabi memerintahkannya untuk berwudhu dengan baik seraya membaca do’a yang telah dilafalkan Nabi kepadanya, hingga kemudian setelah berwudhu laki-laki tersebut dapat melihat kembali seperti semula, seperti dalam teks hadist;

عن عثمان بن حتيف أن رجلاً ضرير البصرأتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ادع الله أن يعافيني. قال:{ إن شئت دعوت, وإن شئت صبرت فهو خير لك} قال: فادعه. قال: فأمره أن يتوضأ فيحسن وضوءه ويدعو بهذا الدعاء : [اللّهمّ إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد نبي الرحمة, يا محمد إنّي توجهت بك إلى ربيّ في حا جتي هذه لتقضى لي, اللّهمّ فشفعه في]. {أخرجه أحمد, والترمذي, والنسائي, وابن ماجه, والحاكم, والطبراني, والأوسط, والكبر}.

Dan dari imam empat madzahab (Malik, Hanafi, Syafi’i, Ahmad bin Hambal) menyatakan kesepakatannya/itifaq dan jawaz atau boleh dalam hal tawassul terhadap Nabi, baik sewaktu Nabi masih hidup atau telah wafat, karena hal itu merupakan sesuatu yang baik. Seperti disebutkan;

وقد انتفقتالمذهب الأربعةعلى جوازالتوسل بالنبيي صلى الله عليه وسلم بل استحباب ذلك, وعدم التفريق بين حياته صلى الله عليه وسلم وانتقاله الشريف صلى الله عليه وسلم.

Hingga pada akhirnya syaikh Ali Jum’ah menyimpulkan atas istidlal tersebut bahwa tawassul merupakan sesuatu yang juga sunah buakn sebaliknya. Seperti dalam teksnya;

ولكل هذه الأدلة الصريحة الصحيحة من من كتاب ربّنا وسنّة تبينا صلى الله عليه وسلم أجمع علماء الأمة من المذاهب الأربعة وغيرها على جواز واستحباب التوسل بالنبي صلى الله عليه وسلم في حياته وبعد انتقاله صلى الله عليه وسلم واتفقواعلى أن ذلك لا يحرم قطعًا, وهو ما نراه أن التو سل بالنبي صلى الله عليه وسلم مستحب وأحد صيغ الدعاء إلى الله عزوجل المندوب إليها, والله تعالى أعلى وأعلم.

Oleh karenanya, menjadi sesuatu yang absurd apabila tawassul tersebut dikategorikan sebagai sesuatu yang bid’ah, khurafat atapun yang lainnya.

Paguyuban Sebagai Pemersatu

Dalam realitasnya, tahlil selalu diidentikkan oleh masyarakat dengan kata selametan yang apabila didapati kerabatnya, kolega atau tetangga di sekitarnya telah meninggal dunia. Maka acara semacam tahlilan tersebut menjadi sesuatu yang mafhum dilakukan oleh sebagian besar masyarakat (terutama pedesaan) yang sangat lekat akan solidaritasnya, sehingga tahlilan tersebut menjadi sebuah media pemersatu masyarakat juga sebagai sebuah alat untuk mencapai kerukunan dalam masyarakat itu sendiri. Umpanya, seperti setelah acara selesai mereka membicarakan permasalah seputar sawah, atau menginformasikan sebuah berita yang lebur dalam dialog penuh tawa. Namun, lain kota lain pedesaan, yang dalam ruang lingkup perkotaan telah banyak menjamur sekte-sekte yang telah ‘merenggut’ rasa kerukunan tersebut dan yang di alihfungsikan menjadi sebuah alat propaganda dalam masyarakat kota untuk tujuan-tujuan tertentu, politik misalnya. Dan karena begitu pentingnya membangun sebuah solidaritas maka dalam sebuah literatur berjudul Humanisme dalam Islam dikatakan bahwa “Solidaritas persaudaraan masyarakat Islam adalah suatu keharusan kemanusiaan, digandakan dengan rasa saling bersandar yang sangat perlu, yaitu rasa yang dihayati oleh kaum mukminin dalam mengimplementasikan hukum Islam,” (Prof. Dr. Marcel A. Borisad: 1980: 174). Juga karena begitu pentingnya hal demikian sebagai respon atas hari ini dalam membangun sebuah solidaritas, di atas kemelut sosial yang ditimpa kesakitan yang berlarut-larut, baik yang berkenaan dengan moril ataupun materil. Namun adakalanya tahlilan dalam masyarakat perkotaan, kadang juga diikuti oleh penganut agama lain, meskipun terlihat sesuatu yang kontras akantetapi hal itu merupakan sebuah representasi akan adanya toleransi antar umat beragama, serta menunjukkan adanya sifat kemanusiaan seperti yang dikatakan oleh Agus Comte sebagai zom politicon. Dan sesuatu yang sifatnya offensive tadi, yang dilancarkan kepada tradisi Islam bukan hanya datang dari luar, seperti kolonial, namun hal itu datang dari tubuh Islam sendiri yang menyerangnya dengan clotehan semacam tahayul, bid’ah dan khurafat. sehingga seperti apa yang dikemukakan oleh Snouck Hurgronje yang berkata bahwa “Untuk mnghancurkan Indonesia adalah dengan menghancurkan tradisi-tradisi Islam di sana,” dan dalam konteks keindonesiaan, tahlilan menjadi sesuatu yang sifatnya begitu urgent dan karena memang telah terawat sedari dulu, yang konon hal ini muncul ketika masa Hindu-Budha juga pada momentum yang sama seperti tahlilan hari ini, namun dahulu acara tersebut hanya sekedar berkumpul dalam momentum berkabung tersebut, sehingga dengan keberadaan para wali (wali songo) di Indonesia hingga kemudian ‘di renovasi’ oleh para wali yang ditugaskan di Jawa, dan tradisi berkumpul tersebut yang dulunya digunakan hanya untuk melekan semata, kini telah diganti ganti dengan do’a-do’a yang dipanjatkan kepada Allah.

Dan sebagai catatan bahwa tradisi-tradisi yang telah ada dan terawat sebagai sebuah warisan budaya bukanlah semata-mata sesuatu yang bersifat teologis semata, terlebih claim paganisme yang selama ini, seperti asumsi-asumsi syirik yang disematkan pada saudara seagama. Dan yang diperlukan hari ini adalah bagaimana membangun sebuah solidaritas sosial yang hampir dipecah-belah oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan dirinya sebagai mujahhid tersebut. Bagaimana sebuah ukhuwah wathaniyah terbentuk apabila menafikan hal-hal yang selama ini terawat dengan baik? kemudian ukhuwah islamiyah hanya menjadi sebatas euforia atau bahkan utopis, apabila masih upatan-umpatan penghalalan darah masih terus digencarkan sebagai sebuah dogma didalamnya?

Rabu, 05 April 2017
Ahonk bae

Comments

comments