SYEKH AHMAD KHOTIB MINANGKABAU (1276H\1869M – 1334H\1916M)

Oleh : Nabil Ismatullah

0
308

Syekh Ahmad Khatib Al – Minangkabaoe adalah ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khotib dan guru besar di masjidil Haram, sekaligus mufti madzhab syafi’i pada akhir abad ke – 20. Beliau memiliki peranan penting di Makkah dan menjadi guru para ulama indonesia. Banyak murid beliau yang di ajarkan fiqih syafi’i yang kemudian hari menjadi ulama – ulama besar di Indonesia, seperti Abdul Karim Amrullah ayah dari Buya Hamka, Syekh Muhammad Jamil Jambek, dan Syekh Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad Afif Al – Banjari yang menjadi mufti kerajaan Indragiri. Kh. Hasyim Asyari dan Kh. Ahmad Dahlan, dua ulama yang mendirikan dua organisasi islam terbesar di Indonesia juga berguru kepada beliau.

Masa-Masa Belajar 

Nama lengkapnya adalah Ahmad Khotib bin Abdul Latif Al – Minangkabawy. Lahir di kota Tuo, Balai Gurah, Agam, Sumatera Barat, pada hari senin 6 Dzulhijjah 1276H (1860M) dan wafat di makkah hari senin 8 Jumadil Ula 1334H(1916M). Ahmad kecil sempat mengenyam pendidikan formal, mulai pendidikan dasar dan lanjut ke Sekolah Raja atau Kweekschool dan tamat tahun 1871M. Selain belajar di sekolah Belanda beliau juga belajar dasar – dasar ilmu agama dari Syekh Abdul Latif sang ayah. Dari sang ayah juga beliau menghafal al – qur’an beberapa juz. Pada tahun 1287H beliau di ajak sang ayah ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Setelah melakukan serangkaian ibadah haji, ayahnya pulang ke Sumatra Barat, sementara beliau tetap tinggal di Makkah untuk menyelesaikan hafalan al – qur’ annya dan menuntut ilmu dari para ulama di Makkah.

Di antara guru-guru beliau adalah Sayyid Umar bin Muhammad bin Mahmud Syatha Al-makky As – Syafi’i, Sayyid Bakri bin Muhammad Zainul Abidin Syatha Ad-Dimyati Al-Makki As-Syafi’i penulis Iqamah At-Tholibin, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan Mufti madzhab Syafi’i di Makkah.

Penolakan Terhadap Thoriqoh Naqsyabandiyah

Syekh Ahmad Khotib menulis kritik keras terhadap thoriqot naqsabandiyah dalam tiga risalah. Risalah pertama, berjudul izhhar zaghlil kadzibin fi-tasyabbuhim bish-shiddiqin yang merupakan jawaban dari pertanyaan Dr. Abdullah Ahmad mengenai beberapa amalan thoriqoh naqsabandiyah dan terbit pada tahun 1906. Risalah kedua, al – ayatul bayyinat  lil-munshifin fi-izalati khurafat ba’dhil mutasyabbihin, merupakan bantahan terhadap risalah irgham unufil muta’annitin karya Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi mungka yang mempertahankan thariqot naqsabandiyah. Dan risalah yang ketiga, berjudul As-saiful battar fi mahqi ba’dhi kalimati ahli ightiror yang merupakan bantahan terhadap surat Syekh Abdullah Al-Kholidi Batu Sangkar. Ketiga risalah ini merupakan penolakan keras Syekh Ahmad Khotib terhadap thoriqoh Naqsabandiyah.

Anti Ibnu Taimiyah yang Anti Taklid

Syekh Ahmad Khotib, selain menjadi imam dan khotib dalam madzhab syafi’i beliau juga mengajar di salah satu halaqoh di masjidil Haram dan kitab yang di ajarkannya I’anah at-Thalibin yang di karang gurunya Sayyid Bakri Syatha menjadi referensi mutakhir dalam fiqih syafi’iyah kepada murid-muridnya yang berasal dari Nusantara sehingga kitab ini menjadi populer di pesantren.

Cerminan sikap yang kuat dalam madzhab syafi’i tercermin dari risalah nya yang berjudul Al-Khutthah Al-mardhiyyah yang merupakan bantahan dan teguran keras terhadap muridnya Syekh Abdul Karim Amrullah yang terpengaruh oleh pemikiran Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim. Syekh Ahmad Khotib dengan keras menyatakan bahwa bertaklid kepada salah satu empat madzhab adalah satu – satunya jalan bagi seseorang yang tidak mampu berijtihad. Dengan demikian, Syekh Ahmad Khotib tidak mengajarkan muridnya keluar dari madzhab syafi’i, atau lainnya. Ketimpangan murid – muridnya yang tergolong kaum muda tak lebih dari akibat membaca kitab – kitab Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qoyyim.

Nabil Ismatullah

Adalah alumni Dar al-Tauhid dan saat ini melanjutkan di Sidogiri 

Comments

comments