Sya’ban dan Rapor Merah Manusia

Sya'ban adalah kegelisahan tiada tara bagi seorang hamba

0
558

Secara umum bulan ruwah atau sya’ban merupakan bulan yang memiliki suatu nilai sakralitas tersendiri. Sya’ban merupakam bulan ketujuh dalam sistem kalender Islam atau Hijriyah, dan sudah barang tentu banyak diantara umat yang melakukan ritual-ritual keagamaan di dalamnya, bukan serta-merta mereka melakukannya jika tanpa tendensi yang pasti, alih-alih mereka akan di cap sebagai ahlul bid’ah, seperti apa yang menjadi trend seperti saat ini,

Sumber Gambar: Internet

Kepercayaan yang diterus terpelihara sebagai sebuah tradisi yang baik, bagi seluruh kaum muslimin, yang dengan kesadaran penuh melakukannya, tanpa paksaan dan tanpa sesuatu apapun. Pertengahan sya’ban tepatnya tanggal 15 Sya’ban atau lazim disebut dengan Nishfu Sya’ban telah banyak memberikan dongkrak spiritual manusia secara personal dan juga komunal, yang sangat diperlukan bagi manusia itu sendiri. Selain sebagai pakem atas penghayatan – relijius manusia sya’ban juga memberikan implikasi positif bagi manusia dengan melakukan ibadah puasa di dalam bulan tersebut, sebagai bekal untuk menyambut datangnya bulan ramadhan setelahnya. Dan juga karena puasa sebagai latihan dalam mereduksi segala macam ego-negatif dalam diri manusia itu sendiri, sebab “bilamana manusia merasa resah karena sesuatu, maka dia merasakan sesuatau yang buruk di dekatnya” tukas Nietzsche, dan juga telah menjadi sesuatu yang lazim apabila seorang manusia melakukan suatu ritual keagamaan tersebut untuk memperbaiki kepribadiannya (impersoanality) yang selama ini dipersepsikan “jahat” olehnya, dengan ukuran; merugikan orang lain dalam laku serta ucapannya. Selain karena banyaknya kejahatan yang telah di perbuat oleh manusia maka moment seperti nishfu sya’ban menjadi bagian intens tersendiri bagi umat manusia, untuk meratifikasi dosa-dosanya selama ini.

Maka dengan membaca al-qur’an surat Yasin yang di ulang sampai tiga kali serta di akhiri dengan memanjatkan do’a, dengan meminta dipanjangkan umurnya untuk kerja-kerja yang berguna, dijauhkan dari segala bencana dan diberi kecukupan kebutuhan hidup dan mengakhiri kehidupan dengan Khusnul Hatimah. Maka sudah sepatutnya pertengahan sya’ban tersebut dipersepsikan sebagai pembagian rapot manusia, karena pada saat itu segala amal manusia yang telah di catat oleh malaikat Raqib dan ‘Atid, yang memiliki kewenangan atas hal tersebut melaporkannya kepada Allah pemilik semesta.  Seperti dalam hadist Nabi;

ذلك شهر يغفل النّاس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى ربّ العالمين فأحبّ أن ير فع عملي وأنا صائم

“Bulan sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu antara rajab dan ramadhan. Bulan tersesebut adalah bulan dinaikkannya segala amal kepada Allah pemilik semesta alam, oleh karena itu aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalku dinaikkan”

Dan karena bulan itu juga Allah turun ke langit dunia untuk melihat umat manusia di dalamnya, dan hal ini telah di singgung dalam hadist-hadist Nabi (mengenai turunnya Allah ke langit dunia) seperti ;

يطَلع الله الى جميع خلقه ليلة النَصف من شعبان, فيغفر لجميع خلقه الَا لمشرك او مشِاحن.

“Tuhan melihat semua ciptaan-Nya pada pertengahan sya’ban. Dia akan mengampuni mereka kecuali orang-orang yang menyekutukan-Nya, yang suka membenci orang lain dan mendengki (musyahin).”

اِن الله عزّوجلّ ينزل ليلة النَصف من شعبان الى شماء الدّنيا فيغفر لِاَ كثر من عددِ شعرغنم كلب

“sesungguhnya Allah yang maha agung turun ke langit dunia pada malam nishfu sya’ban dan mengampuni (dosa) hamba-Nya yang jauh lebih banyak dari jumlah bulu domba Bani Kalb.”

Dan menurut informasi lain mengatakan;

يطّلع ربّنا ليلة النّصف من شعبان فيغفر للمستغفرين ويرحم المسترحمين ويترك اهل الحقدِ.

“Tuhan menampakkan Diri pada malam pertengahan sya’ban. Dia mengampuni mereka yang meminta ampun dan menyayangi mereka yang ingin disayang, dan mengacuhkan mereka yang mendengki.”    

            Sehingga pada malam sya’ban itulah moment intim seorang manusia dengan Tuhan tercipta, dengan berlumuran dosa serta kesalahan yang tak terhingga jumlahnya, sampai-sampai Nabi pun menginformasikan dosa seorang manusia melebihi bulu kambing, tak terbayangkan sama sekali. Dengan moment seperti sya’ban ini maka sudah sepatutnya di isi dengan sesuatu yang bersifat positif serta bermanfaat bagi orang lain, dan karena sya’ban pula, banyak coretan merah yang menggantung dalam rapor amal manusia, khususnya amal buruk yang semakin hari semakin banyak kita tanam. Maka sudah selayaknya dalam pembagiam rapor tersebut manusia memperbaiki segala tingkah lakunya, dengan harapan agar Allah SWT. mengampuni dosa-dosa kita selama ini, yang hingga akhirnya kita semua termasuk dari manusia yang disenangi oleh-Nya (ridha). Dan juga Rapor Dengan Coretan Merah yang terus membuat manusia itu dalam ambang kegelisahan dapan berubah menjadi suatu ketenangan, serta di jauhkan dari kebinatangannya, sehingga sudah menjadi suatu tradisi yang lazim dilakukan oleh masyarakat; pembacaan surat Yasin pada pertengahan malam di bulan Syaban itu. Masjid dan surau ramai bergemuruh melantunkan bacaan-bacaan do’a sebagai permintan atas maaf seorang hamba kepada Tuhannya, serta banyak harapan yang diucapkan kepada-Nya; itulah do’a, dan dibawah ini merupakan do’a yang lazim dipanjatkan kepada Allah ketika Nishfu Sya’ban tersebut.

اللّهمّ ياذاالمنّ ولا يمنّ عليه, ياذاالجلال والاكرام, ياذاالطّول والانعامِ, لااله الّا انت ظهر اللّاجين, وجارالمستجرين, ومأمن الخا ئفين.

اللّهمّ ان كنت كتبتني عندك في امّ الكتاب شقيّا او محرومًا او مطرودًا او مقتّرًا عليّ في الرّزق فامح من امّ الكتاب شقاوتي وحرماني وتقتيررزقي, واثبتني عندك سعيدًا مرزوقًا موفّقًا للخيرات, فانّك قلت وقولك الحقَ في كتابك المنزل  على لسان نبيّك المرسل { يمحو الله ما يشاء ويثبت وعند ه امّ الكتاب }.

الهي, با لتّجلّي الا عظم في ليلة النّصف من  شعبا ن المكرّ م الّتي يفر ق فيها كلّ ا مر حكم ويبر م، اكشف عنّي من البلاء ما اعلم وما لا  اعلم واغفر لي ما انت به اعلم.

اللّهمّ اجعلني من اعظم عبادك حظّا ونصيبًا في كلّ شيء قسمته في هذه اللّيلة من نور تهدي به، او رحمة تنشر ها، اورزق تبسطه، يا اللّه يا اللّه لا اله الّا انت.

اللّهمّ هب لي قلبًا  تقيّا نقيّا من الشّرك بريًّا، لا كا فرًاولا شقيًّا، وقلبًا سليمًا خاشعًا ضارعًا. اللّهمّ املأ قلبِي بِنورك وانوارِمُشاهدتِك وجمالِك وكمالِك ومحبَتك وعِصْمتِك وقدرتِك وعِلمِك ياارحم الرّاحمين. وصلّى اللّه تعالى على سيّدنا محمّد وعلى اله وصحبه وسلّم.

Wahai Tuhan, pemilik anugerah, bukan penerimanya.

Wahai Tuhan, pemilik Keagungan dan Keagungan.

Wahai pemilik Kekuasaan dan Segala nikmat.

Tiada Tuhan selain Engkau:

Engkau penolong mereka yang memohon pelindung para pencari perlindungan, penjamin keamanan mereka yang gelisah.

 

Wahai Tuhan.

Jika Engkau telah menulis nasibku sebagai orang yang tak beruntung, yang malang dan yang melarat.

Aku mohon kepada-Mu,

Hapuskan dan gantikan semuanya sebagai anugerah

Tulis aku menjadi orang yang beruntung

Berilah aku kecukupan dan selalu dalam bimbingan-Mu

Sungguh Engkau telah bicara

Kepada kekasih-Mu dan bicara-Mu adalah kebenaran semata,

“Allah menghapus keputusan yang apa pun Dia kehendaki.

Wahai Tuhanku.

Demi keagungan malam pertengahan Sya’ban yang mulia, ketika segala urusan diputuskan

Jauhkan aku dari segala bencana,

Entah aku mengetauhianya atau tidak.

Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang tak kasatmata.

 

Demi Rahmat-Mu, wahai Yang Maha Kasih.

Limpahkan kesejahteraan dan keselamatan kepada panutan kami Muhammad SAW.

Kelurga dan para sahabatnya.

Amin……

 

Dan terdapat juga yang membaca do’a susunan syekh Abdul Qadir al-Jilani;

اللَهمَ اِذ اطلعت ليلة النصف من شعبان على خلقِك فعد علينا بمنَك وعتعك وقدَرلنا من فضلك ووسَع رِزقك واجعلنا ممَن يقوم لك فيها بِبعض حقَك.

اللَهمَ من قضيت فيها بوفاته فاقض مع ذلك رحمتك ومن قدَرت طول حياته فاجعل مع ذلك نعمتك. وبلَغنا مالا تبلغ الامالُ اِليه يا خير من وقفت الاقدام بين يديه يا ربَ العالمين. برحمتك ياارحم الرَاحمين. وصلَى الله على سيَدنا محمَدٍ خير خلقه وعلى اله وصحبه اجمعين.

Duhai Tuhan.

Jika engkau telah menghadirkan malam pertengahan Sya’ban,

Curahkanlah anugerah-Mu dan pembebasan dari api neraka atas hamba-hamba-Mu.

Putuskan umtuk kami segala kebaikan dan kemuliaan.

Bentangkan limpahan karunia-Mu untuk kami.

Jadikan kami malam itu sebagai hamba yang tulus mengabdi hanya kepada-Mu.

 

“Duhai Tuhan kami.

Orang yang Engkau tentukan kematiannya malam ini.

Berilah dia Kasih-Mu.

Dan orang yang Engkau panjangkan usianya, berilah dia Anugerah-Mu.

Antarkan kami memperoleh harapan-harapan yang sulit.

Duhai, Yang kepada siapa kaki bersimpuh di hadapan-Nya.

Duhai Tuhan alam semesta. Kasih-Mu selalu kami harapkan, Duhai Yang Maha Kasih.”

 

Semoga kedamaian dianugerahkan kepada pemimpin kami,

Ciptaan terbaik-Mu: Muhammad Saw, keluarga dan para sahabatnya.

Selasa, 25 April 2017

Ahonk bae

Comments

comments