Stop, Mebeda-bedakan Ilmu Ukhrowi dan Duniawi

oleh : Faisal Musafir

0
353

Ilmu adalah semua anugrah yang dikarunia oleh sang Maha Pencipta, sejak zaman Nabi Adam .as diturunkan dari surga oleh Allah ke bumi sekaligus sebagai manusia pertama. Ilmu pengetahuan seperti nama-nama benda yang diwariskan kepada Adam oleh Allah. Sehingga, sejak diturunkan dibumi Adam sudah memiliki bekal ilmu pengetahuan. Akar ilmu pengetahuan hakikatnya berasal dari Allah. Namun, masih banyak dari kalangan alih-alih ilmu pengetahuan di zaman sekarang yang membedakan ilmu pengetahuan yaitu antara ilmu agama (ukhrowi) dengan ilmu Umum (Duniawi). Macam-macam ilmu agama yang biasa dikaji dalam dunia pesantren adalah seperti tafsir al-qur’an, ushul fiqh, mantiq, balaghah, ilmu hadits dan lain-lain masih banyak lagi. Ilmu umum yang dimaksud disini adalah seperti ilmu sains (Chemistry, Physics, Biology, Mathematics), ilmu sosial, (Psychology, Economics, Geography, Anthropology) semua ilmu pengetahuan umum itu lahir setelah lahirnya ilmu filsafat yang berasal dari Yunani kuno.

Sejak itu Islam mulai mengembangkan ilmu pengetahuan umum tentang dunia, untuk mempelajari tentang dunia para alih muslim kala itu berijtihad dengan berbagai macam eksperimen sekaligus pemikiran yang kritis. Seperti bapak ilmu bedah modern El-Zahrawi (Abul Qasim Khalaf ibn al-abbas az-Zahrawi) yang sampai sekarang buah pemikirannya dianut sebagai referensi sedunia dalam dunia kedokteran (Iswara N Raditya, Tirto.id). tidak berhenti pada masa itu saja di masa yang lainpun banyak cendikiawan muslim lainnya banyak menemukan ilmu pengetahuan seperti, al-Khawarizmi (penemu Aljabar dan Algoritma), Ibn Battuta ( Panduan my trip my adventure), ibn al Haytham (penemu kamera) Al Jazari (penemu Ilmu kimia) dan masih banyak lagi (muslim heritage). Lalu apa kaitannya dengan ilmu agama, mereka para cendiakiawan muslim berpendapat bahwa semua ilmu yang diperoleh berasal dari sang Maha Pencipta. Di dalam Al-Qur’anpun sudah dijelaskan bahwasannya semua yang terjadi dimuka bumi sudah terangkum dalam kitab suci Al-Qur’an hanya saja mereka yang ingin berijtihad yang gila akan ilmu pengetahuan, maka akan terus mencari tahu tentang dunia sekaligus alam semesta yang diciptakan oleh Allah. Seandainya para cendikiawan muslim tidak mengemukakan hasil riset tersebut maka dunia yang sekarang akan gelap dengan teknologi sedangkan zaman terus berpacu dengan waktu bagi para ilmuan satu detik yang terbuang sia-sia itu sangat disayangkan. Namun adapula ahli yang ahli agama gelap akan pemikiran yang luas mematok ilmu dari segi akhiratnya saja sehingga islam menjadi keterbelakangan zaman. Buta akan kemajuan ilmu pengetahuan yang modern dan tidak dikekang oleh suatu agama, guna agama adalah untuk mempermudah sekaligus meringankan kehidupan.

Jadi jangan pernah mebedakan ilmu agama dan ilmu umum karena itu semua masih bersinambungan. Bayangkan jikalau tidak adanya ilmu pengetahuan, dunia tidak akan bisa hingar bingar hingga sekarang ini. Selain itu para cendikiawan muslim tidak pernah membedakan ilmu agama dan ilmu umum. Sehingga kita bisa mengambil tindak laku para muslim hebat terdahulu untuk bisa menumukan riset baru tentang masalah dimuka bumi ini. Contoh kecil yang menjadi tolak ukur dalam kontroversi polemik dalam ilmu agama itu sendiri, antara ilmu tafsir al-Qur’an dan ilmu hadits. Syarah hadits yang menjadi sebuah perdebatan merupakan hadits tentang lalat yang diriwayatkan oleh shohihul bukhari yang artinya “Apabila lalat jatuh dalam minuman salah seorang di antara kamu, maka benamkanlah, kemudian buanglah karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayapnya yang lain terdapat obat.” Mengenai hadits tersebut ada beberapa tokoh islam yang menolak hadits tersebut oleh imam Muhammad Taufiq Sidqiy dan Abd al-Waris al-kabir karena menurutnya tidak sesuai dengan rasio.

Memang secara tekstual tidaklah rasional karena sangat bertentangan dengan pedoman suci al-Qur’an yang dimana diharuskan untuk menjaga kesucian (kebersihan). Maka dengan itu islam sendiri akan dipandang sebelah mata oleh bangsa luar yang sudah maju dalam segi pemikiran. Mereka yang non-muslim mungkin akan berkata “kenapa islam semakin keterbelakangan ideologinya dalam ilmu pengetahuan, padahal penemu semua kemodernan sekarang ini dilandaskan oleh banyaknya pemuka-pemuka muslim yang hebat di kala itu. Oleh karena itu banyak orang non-muslim mengambil alih dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang sekarang ini. Maka dari itu kita sebagai muslim sejati jangan hanya bergelut dalam dunia agama saja tapi dunia umum (sains) yang kerap kali untuk menjadi pembukti maksud dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, guna tidak adanya kekeliruan dalam pemahaman tekstualitas. Seperti yang dilansir dalam hadits diatas bahwasannya kenapa rasulullah sampai menyampaikan seperti itu, karena kalau dilihat dari kacamata sejarah letak geografis pada masa rasulullah adalah padang pasir. Lalu spesies lalat yang berada disana pada saat itu sangatlah berbeda dengan lalat yang sudah banyak perubahan genetika dan evolusinya terutama dalam spesies yang sangat beragam. Lalat yang dimaksud rasullah adalah lalat yang tidak seperti sekarang ini yang hinggap pada kotoran hewan, tempat sampah dan tempat kotor lainnya, mungkin saja lalay yang dimaksudkan rasulullah tersebut adalah lalat buah. Sehingga, perlu adanya muslimin yang ahli dalam bidangnya (lalat), karena baru-baru ini ada sebuah riset yang membenarkan hadits tersebut, justru malah membuat islam semakin tertinggal. Pemikiran yang kolot membuat islam akan berputar-putar dalam problem islam itu sendiri, bahkan tidak akan bisa menjawab persoalan yang akan terus bermunculan yang lagi mana zaman akan terus maju. Apabila islam tidak bisa mengaitkan atau menghubungkan ilmu agama dan ilmu umum bahkan sampai ada yang anti dengan ilmu umu(sains) maka agama hanya untuk mematok jalan pikiran permasalahan. Untuk yang di kalangan pesantren jangan pernah lagi membeda-bedakan ilmu karena semua ilmu yang dilahirkan itu semuanya hakikatnya berasal dari allah. Gunanya ilmu untuk menyelesaikan maslahat dimuka bumi bukan sekedar untuk saling adu argumentasi dari semua bidang, mari kita berpikir positif dan menggabungkan semua argumen menjadi sebuah kunci jawaban permasalahatan yang sekarang ini.

Karena non-muslim sekarang ini mengembangkan ilmu pengetahuannya terkadang masih melenceng dengan apa yang sudah dijelaskan didalam al-Qur’an, untuk itu perlu ada yang namanya agama untuk bisa saling menguatkan. Memang setiap manusia memiliki bidangnya masing-masing, namun apasalahnya untuk bisa saling mengaitkan ilmu agama dengan ilmu umum. Dalam dunia sosiologi ada yang namanya inter subjektifitas yang dimana manusia itu sendiri akan mendapatkan Feed back yang akan diperoleh dari eksperiment dan observasipun untuk muslim sendiri, karena apabila menjadikan objek maka akan terjadi eksploitasi terhadap daerah-daerah yang hasil buminya melimpah. Oleh karena itu, jangan jadikan yang dimuka bumi ini sebagai objek tapi jadikanlah sebagai subjek, karena semua yang ada di muka bumi ini baik sesuatu hidup maupun sesuatu yang mati itu semuanya sama tidak ada perbedaan di mata Tuhan.

Faisal Musafir

Adalah alumni Pon-Pes Dar al-Tauhid dan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments

comments