SLB, Potret Kemanusiaan Yang Tersisihkan

0
868

SAM_5637Sebelum mencapai segala keinginan dan cita-cita besar yang ada dalam alam pikiran manusia, tentunya tidak serta merta mengunggulkan apa yang ia punya dalam dirinya, baik secara fisik dan psikis, dan kadang itu menjadi sebuah modal dalam mencapai segala sesuatu dalam usaha untuk mencapai kehidupannya, akan tetapi kekurangan-kekurangan kadang ditutupi dengan segala manipulasi yang bisa dilakukannya untuk cita-cita tersebut, seperti kekurangan yang bersifat materi yang ada dalam tubuh atau immateri yang sifatnya abstrak. Sebelum menjadi diri yang memiliki keunggulan-keunggulan diantara manusia lainnya, ada baiknya sejenak melihat apa yang disekitar, seseorang yang tidak seperti pada umumnya, kadang menjadi bahan pemeo, cibiran, bahkan juga  dimarjinalkan oleh manusia-manusia lainnya yang “merasa” sempurna dari dia, atau bahkan mereka. Terutama dalam daya intelektual mereka, yang secara otomatis mengarah pada kualitas pendidikan yang disediakan oleh pemerintah bagi mereka memiliki kekurangan dalam dirinya, akan tetapi potensi, bakat, dan keterampilan dari mereka patut di perhitungkan oleh yang merasa “sempurna” atas ego-nya tersebut. Atau kesanggupan imajinasi kita membayangkan mereka dalam menjalin pola relasi seperti manusia pada umumnya, seperti, bagaimana ia melakukan proses tawar-menawar dalam jual-beli, bertanya mengenai sesuat, jalan misalnya, atau bagaimana cara mereka melakukan relasi vertikal (ibadah) dengan Penciptanya, memahami teks agama, contohnya.

Berkaitan dengan hal ini SLB Wathaniah Arjawinangun di dirikan sebagai wujud dari rasa kepedulian terhadap sesama manusia yang di gagas oleh pengasuh Pesantren Dar al-Tauhid, KH. Mahfud Toha, pada tahun 1987, yang hingga kini lembaga tersebut telah memposisikan lembaganya sama dengan lembaga formal lainnya, yaitu terdiri dari SD LB, SMP LB, dan SMA LB (12 Tahun), dan sekarang  di kepalai oleh Dra. Siti Basiroh M. Mpd.dengan tenaga pendidik sebanyak 13 guru. Dan didalamnya terdapat klasifikasi jenjang (baca : kelas), seperti Tuna Rungu (pendengaran), Tuna Grahita (daya tangkap lemah), Tuna Netra (pengelihatan), juga Tuna Daksa, Hingga dalam pengeloalaan dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang begitu menentukan masa depan sebuah bangsa dengan segala kesabaran dan keuletan staf pendidik dalam membimbing peserta didiknya, Sekolah Luar Biasa (SLB) memang sudah seharusnya mendapat perhatian penuh dari pemerintah dengan mengalokasikan dana bagi mereka yang memang secara potensial memiliki kemampuan namun mendapat kekurangan. Selain mendapat perhatian yang serius. dengan alasan lain, bahwa mereka memilik bakat yang rata-rata dari manusia yang secara jasmani di katakan sempurna tidak memilikinya, yaitu kekuatan, kesabaran, dan rasa percaya diri, sehingga dengan modal tersebut mereka bukan saja membuktikan eksistensinya melainkan menunjukkan kekuarangan manusia yang “biasa” memarjinalkan mereka dengan endapan alasan yang tidak berkemanusiaan.

Dalam proses belajarnya, siswa dan siswi SLB pada hari Senin rutin melakukan seremoni upacara bendera dengandi pandu dengan musikalisasi pada scene Mengenikan Cipta dan Pengibaran Bendera, khidmatan yang jarang ditemukan dalam sekolah-sekolah biasa, hingga setelah melakukan acara tersebut para guru dan siswa secara rutin bersalaman, sebagai wujud pererapan pendidikan moral bagi para siswanya, hingga dalam sebuah kelas Tuna Rungu (pendengaran), sebelum melukan proses belajar, anak-anak membaca surat-surat dalam Al-Qur’an secara hafalan (bil ghaib) sedang melakukan proses belajar menulis huruf braile dengan bantuan reglet. Dan pada kelas Tuna Grahita (daya tangkap lemah)yang dibagi dua kelas (ringan dan sedang), biasanya dalam kelas tersebut menyajikan materi menulis angka dan huruf dengan ketekunan dan ketelitian guru kelasnya yang satu demi satu perkembangan siswanya di ikuti, yang pada saat itu sedang belajar menulis, dan diikuti oleh peserta Tuna Daksa (kurang dalam hal tubuhnya), yang juga di bimbing oleh guru dalam kelasnya. Dan terdapat perbedaan antara SLB dan sekolah formal lainnya, yaitu bakat dan juga potensi yang di miliki oleh peserta didik terus diarahkan, dan mendapat perhatian yang seriu dari guru kelasnya, bahkan hingga perindividunya, dengan maksud memantau sejauh mana perkembangan seorang siswa tersebut, dengan adanya materi yang berbeda dalam satu kelas dan perindividu mendapatkan materi yang berbeda pula, sesuai kadar kebutuhan dan berjalannya kemampuan seorang siswa. Selain dalam hal intelektual, mereka juga dididik dalam hal skill atau kemampuannya dalam keterampilan, yang dalam hal ini orientasi mereka jelas akan arah roda perekonomian yang nanti mereka jalankan dalam kehidupannya, beberapa, sarana atau fasilitas penunjang dalam mengasah bakat mereka di sediakan ruang yang secara khusus di pergunakan bagi pelajaran keterampilan, terdapat mesin jahit, batok kelapa yang diperoleh dari Java Rotan yang dipergunakan untuk membuat panel dan sudah barang tentu memiliki nilai jual, juga fasilitas olahraga yang memadai, dan juga terdapat terdapat ekstra kulikuler seperti pramuka dalam SLB tersebut. Dan pada proses kenaikan kelas, juga terdapat ujian sekolah seperti pada umumnya. Pada suasana yang asri dan nyaman, mereka belajar untuk membuktikan bahwa mereka “ada” dengan segala kemampuannya, potensinya yang kebanyakan dari manusia hanya bisa bicara tanpa realisasi yang nyata.

Segala bentuk bantuan yang diterima oleh lembaga tersebut direalisasikan bagi kebutuhan siswa-siswinya, juga keperluan sekolah untuk metode belajar diluar kelas seperti study tour dan berenang dengan jumlah 78 siswa seluruhnya, menjadikan siswa-siswinya terus mengikuti ajang perlombaan pada tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional, hingga sedert prestasi diperoleh oleh SLB Wathaniah tersebut. Selain kedekatan emosional dan spiritual yang terus ditanamkan dalam diri setiap peserta didiknya, juga menjadikan kedekatan tersebut begitu nyata dan sudah seperti kumpulan keluarga dalam sekolahnya. Tidak henti do’a yang terus mengalir deras dari lisan guru-guru yang mendidik mereka, dengan harapan besar mereka menjadi manusia yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa.

Dan apa yang gunjingkan adalah isu kemanusiaan seperti radikalisme, arogansi par-pol, dan ketidakpedulian pada alam, telah menjadi trend dalam dialog-dialog media, seminar, dan pengajian, sehingga terkadang melupakan sesuatu yang pokok dalam teriminologi “memanusiakan manusia”. Atau seperti para birokrat, agamawan, dan kaum intelektual yang sibuk memperdebatkan sesuatu yang terlalu “berisik” dalam retorika keilmuan, akan tetapi melupakan pokok atau esensi dari ilmu tersebut. Apa menjadi kelemahan mental dan moral yang hinggap dalam benak manuisa adalah enggan untuk introspeksi dirinya sendiri  yang lebih memprioritaskan egosentrisnya dan lebih gemar menggunjingkan sesuatu di luar dirinya yang nyatanya ia juga sudah pasti memiliki kelemahan, entah secara fisik atau psikis. Kenyataan di sekitar sudah pasti dapat melatih ke-peka-an perasaan (intuitif) seorang manusia dan selalu bersyukur atas apa yang dikaruniakan terhadap dirinya, sehingga terus memacu langkahnya dengan tidak melupakan bahwa “di bawah bumi masih ada bumi, dan diatas langit masih ada langit”. Juga tidak adil bahkan juga bukan seorang manusia bila hanya menyudutkan seseorang hanya karena kekurangannya.

والله أعلم

Badar Atas, 14 Maret 2016

Arjawinangun, Cirebon

Comments

comments