Sejarah IPMADA, Respon Terhadap Pendidikan

0
946

(Interview Dengan KH. Husein Muhammad*)

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa dalam rangka upaya untuk mencerdaskan para santri, Pesantren memiliki lembaga di luar Madrasah seperti Musyawarah, Musyawarah sendiri dimaksudkan sebagai sebuah wadah yang menampung aspirasi pemikiran-pemikiran yang segar yang di keluarkan oleh para santri dengan jalan berretorika, (baca:berdebat), dengan argumen yang bertendensi dari kajian-kajiannya di Madrasah, sehingga apa yang disampaikan dalam Madrasah bisa dipahami secara mendalam oleh semua para santri dengan metode mempresentasikan ulang oleh seorang presentator (ra’is) tentang apa yang disampaikan seorang guru ketika di Madrasah.
Namun dalam perjalannya yang gemilang, juga telah banyak menciptakan embrio-embrio yang bermental baja sekaligus tangguh dalam mentalnya, dan juga berpengaruh dalam ceramahnya, orasinya, dan dakwahnya, Musyawarah sendiri memiliki wilayah otoritatif yang telah dibentuk sejak lama, yaitu sejak tahun 1980an yang digagas oleh KH. Husein Muhammad beserta dewan guru lainnya, waktu itu. Dengan hanya halaqah-halaqah dalam skala kecil juga dalam kurun waktu yang sekian lama beliau-beliau berjuang untuk membuat sebuah naungan dalam rangka menampung wadah kreatifitas pesantren yang mampu menghantarkan para santri menuju pencerahan-pencerahan yang mampu mendobrak cakrawala pengetahuan yang tidak hanya berkutat pada “itu-itu saja”, yang dengannya beliau-beliau menaruh harapan besar terhadap terciptanya pemikiran-pemikiran menyegarkan, progresif, dan tidak kaku (baca: konservatif). Dengan bergulirnya waktu Musyawarah kini lebih lebih tertata dalam menejemennya, dengan terciptanya ruang-ruang yang tersdia untuk Musyawarah dan dipenuhi setiap jenjang kelasnya, dan tidak lupa pula mengagendakan Musyawarah kubro pada setiap bulannya, juga acara bahsu mas’il pada satu semesternya, yang di dalamnya membahas suatu masalah yang sedang hangat dibicarakan. Pada lain kesempatan Musyawarah merupakan cikal-bakal dari sebuah pemahaman yang ekstra dalam memahami tiap lembar teks klasik (baca : kitab kuning), yang menjadi bagian utama dalam perjalanan kehidupan di Pesantren.
Dalam kesempatan pada sela-sela kesibukannya, Buya, begitu sapaan akrab KH. Husain Muhammad menceritakan kronologis tentang apa, bagaimana, dan mengapa membentuk wadah dari Musyawarah tersebut dengan di namai IPMADA, kepanjangan dari Ikatan Pelajar Madrasah Dar al-Tauhid. Yang dengannya perjalanan dimensi keilmuan seorang santri dalam menuangkan kreatifitasnya seperti beretorika, menulis, dan yang lebih penting ialah mengasah mental seorang santri agar supaya lebih terkordinir dalam menjemennya. Dalam era yang serba digital (baca : IT), kini media sangat bisa untuk menuangkan pemikiran seseorang terbuka secara luas, dan tidak hanya terkungkung pada pola-pola yang seperti dulu, tentu dengan permasalahan yang lebih kompleks. Dengan adanya kemudahan dalam menyampaikan aspirasi tersebut seperti dalam media sosial yang kian marak digunakan oleh setiap individu, sekiranya bisa menjadi sarana untuk bertukar pikiran dan memperoleh pelajaran baru. Akan tetapi kontraksi-konrataksi kian menggeser budaya dalam sudut keilmuan, seperti budaya membaca, beretorika, dan berdebat. Kecenderungan ini lebih mengalihfungsikan dari budaya tersebut kedalam budaya instan (baca : praktis), sehingga yang terjadi adalah budaya oral, atau menjadi pendengar setia yang tidak mampu mengkritik atau menanyakan segala sesuatu yang bersifat keilmuan pada saat pendengar tersebut belum mengerti atau terasa janggal dalam pikirannya, sehingga tidak heran ketika budaya tersebut kini telah mengakar dalam benak peserta didik yang kurang peka atau cakap terhadap apa yang di sampaikan oleh gurunya. Berdebat adalah budaya klasik yang mulai bergeser, jika tidak di tinggalkan, hingga ketika berdebat adalah sebuah cara dalam memecahkan sebuah permasalahan kemudian mendapatkan respon dari pendengar,sehingga kemudian pendengar tersebut menyampaikan kembali rasa kejanggalannya dengan memberikan sebuah solusi berdasarkan argumen yang valid dan logis terhadap sebuah permasalahan, dengan cara berdebat yang sama sekali tidak keluar dari koridor etika dan saling menghargai pendapat yang lainnya merupakan sebuah wujud konkret dari IPMADA tersebut, untuk mencetuskan pemikiran-pemikiran baru yang tetap berpegang pada prinsip-prinsip dasar keagamaan, hal ini merupakan sebuah upaya besar IPMADA dalam membangun sebuah paradigma keilmuan yang unggul dalam kancah global, dengan slogan “Santai Dalam Penampilan Serius Dalam Pemikiran” merupakan sebuah representasi akan karakter kesantrian yang kuat, dan dengan nilai filosofis yang tinggi, dan tentunya hal ini senada dengan apa yang di ucapkan oleh guru bangsa sekaligus bapak pluralisme : KH. Abdurrahman Wahid atau akrab di sapa Gus Dur mengatakan “Bertindak Lokal, Berfikir Global”.
Juga dalam skala besarnya, dari beberapa kemunduran budaya khususnya dalam budaya pendidikan disebabkan karena adanya sistem pendidkan yang merupakan warisan dari tinggalan-tinggalan era feodalisme, seperti sistem pendidikan yang menghegemoni, disorentasi, dan pendidikan ala feodalnya sendiri, representasi dari terciptanya rasa minder, takut, hingga berujung pada mitologi-mitologi yang irasional merupakan keterwakilan dari beberapa sebab dari sekian banyaknya kemunduran-kemunduran dalam kualitas pendidkan bangsa, pada umumnya, dan pelajar khususnya. Hal ini sekiranya berdampak pada karakter sebuah bangsa yang pasif, apatis, irasional terhadap problem-problem yang memang harus di hadapi secara rasional, dan yang paling menjadi anacaman adalah fanatisme yang berlebihan terhadap sesuatu, yang jika di kembalikan dalam tiga aspek dasar Nahdlatul Ulama (NU): Tasamuh, Tawazun,Tawassuth atau toleran, seimbang, moderat sudah barang tentu melenceng dari apa yang diharakankan dampaknya seperti itu, dan nilai dari tiga prinsip tersebut sekiranya bisa di aplikasikan dalam atmosfir pendidikan agar lebih bermartabat, baik dari sisi akhlak dan keimuannya. Dengan adanya proses dialektika diantara para santri sekiranya mampu mengembalikan roda kejayaan pada masa lalu (baca : romantisme sejarah), dan pada sesi berikutnya Buya menambahkan, bahwa “teks hanya menyajikan sesuatu yang sifatnya terbatas”, atau bila ditarik dari pengertian ini maka muncul terminologi baru, bahwa apa yang di sampaikan dalam Sekolah atau Madrasah ialah bersifat terbatas, maka dari itu adanya IPMADA merupakan sebuah respon terhadap sesuatu yang bersifat terbatas tersebut. Kanal dari kreatifias yang di olah dalam IPMADA pada era dulu ialah penguasaan Mading atas informasi keilmuan dan pembuatan buletin bernama al-Fiqrah, yang mampu menuangkan ide-ide pemikirannya ke dalam tulisan hingga 48 halaman pada saat dead line penerbitan, meski dengan menggunakan mesin ketik, namun semangat yang tidak lekang oleh keterbatasan pada saat itu menghasilkan buah yang manis pada saat ini. Pada saat ini menurut Buya, santri haruslah banyak berdiskusi dan bertukar pikiran supaya cakrawala keilmuan terbuka lebar. Hingga Buya menambahkan bahwa fenomena yang terjadi saat ini seperti adanya kenakalan yang dilakukan oleh para remaja ialah memiliki sebab kurangnya rasa perhatian dari oarang tua atau guru pada ahir-ahir ini, kenakalan adalah sebuah pelarian dari rasa tekanan yang berlebihan terhadap sesuatu, hingga harus memilih tempat yang lebih luas dalam mengeluarkan diri dari cengraman tekanan tersebut. Geng motor, tawuran, dan kenakalan yang lainnya merupakan keterwakilan atau representasi dari rasa tertekan tertekan tersebut.

Besar harapan dari adanya IPMADA tersebut merupakan sebuah upaya Pesantren dalam memajukan pendidikan bangsa Indonesia yang sudah lama tertidur pada derasnya arus dominan yang mendominasi kehidupan yang dekat dengan ambang batas kehancuran, baik sisi moral dan intelektual. Dan dengan adanya wadah tersebut Founding Father IPMADA menaruh cita-cita besar yang dengan adanya hal tersebut bisa membawa dampak-dampak positif bagi kehidupan para santri di masa mendatang. Dan harapannya ialah semoga IPMADA tetap ada dan ide-idenya berlipat ganda.

والله أعلم

Badar Atas, 12 Maret 2016
Arjawinangun, Cirebon

Comments

comments