Ro’an:Benih Dari Tanggung Jawab Terhadap Lingkungan Dan Implikasi Moral

0
1563

Dalam kesehariannya Pesantren juga memiliki serangkaian kegiatan yang tidak melulu berkutat pada lebaran-lembaran kitab klasik, seperti halnya pada setiap hari libur seperti jum’at dan minggu atau akan diadakannya moment tertentu maka bagi para santri bukanlah hal yang aneh ketika melakukan bersih atau mafhum dengan istilah ro’an halaman pondok pesantrennya sebagai wujud dari kecintaannya terhadap lingkungan juga sebagai baktinya dalam meniti kehidupannya di pesantren, namun secara terminologi ro’an yang menjadi istilah lazim bagi para santri ternyata berasal dari bahasa Arab al-ra’iyyatun yang memiliki definisi ternak yang merumput, dan secara epistemologi ialah berarti bahwa ro’an merupakan serangkaian acara yang dilakukan oleh para santri dalam terjun ke halaman dengan tujuan membersihkannya. Ro’an merupakan sebuah kegiatan yang dimonitoring oleh Dewan Kebersihan atau santri senior bukan hanya saja dalam rangka membersihkan halaman atau tempat yang menjadi fasilitas publik, seperti : WC, musolah, dan gedung madrasah. Bisa juga istilah tersebut digunakan bukan hanya dalam sektor kebersihan semata, namun dalam kegiatan membantu para pekerja dalam mengkonstruksi gedung baru (ng’cor). Ro’an dalam arti filosofis membersihkan segala sesuatu yang terlihat kotor, dan itu merupakan realitas dari serangkaian kegiatannya, namun, secara implisit ro’an berarti membersihkan segenap hati dari kotoran yang masih menepel dalam tubuh seorang santri, sehingga dalam perjalanan mencari ilmunya dimudahkan oleh pemilik ilmu tersebut. Tanpa upah atau bayaran, hanya minuman dan snack sekedarnya, namun terus semangat semala masih berdominsili di pesantren, maka ro’an akan selalu menjadi kewajiban baginya sehingga ahirnya menimbulkan integritas kesadaran yang tinggi dalam jiwanya.

Monitoring yang dilakukan dengan mengomandoi, namun komando yang tidak seperti pada era kolonial yang menerapkan sistem culturstelsel atau tanam paksa atau era feodal (era sistem kerajaan) yang di filosofikan dengan tiga alat kekuasaan : keris, golok, dan cangkul dan kesemuanya memiliki arti sendiri (keris : raja, golok pasukan perang/serdadu, dan cangkul : rakyat jelata). Komando yang dilakukan dengan  bertahap, hingga para santri yang melakukan kegiatan tersebut, serta di awali dengan mengadvokasi melalui mauidzah khasanah dan menjelaskan pentingnya ro’an, tujuannya, dan manfaat ro’an bagi para santri, ro’an yang kita ketahui bersama bahwa kita menemukan arti dari sebuah makna solidaritas dengan kebersamaan, juga menurut salah satu santri untungnya ro’an ialah “bisa makan gratis”, juga tidak terasa lelah karena di kerjakan bersama yang disertai canda dan tawa. Lebih dari itu terdapat makna transendental (habblu minallah) seperti yang sudah biasa diucapkan para santri “ngalap barokah”. Juga seperti dalam sebuah hadist yang sudah terlalu mainstream di kalangan para santri :

” النّظفة من الإيمن ”

Juga sebagai latihan atas ke-peka-annya terhadap lingkungan yang kotor supaya hendak di bersihkan tanpa di komandoi oleh seniornya lagi, dan hal itu merupakan harapan besar yang diidamkan oleh semua orang (yang mengeluhkan) yang bergumam dengan hal-ikhwal kebersihan pondok.

Sesampainya ia (santri) di rumah atau dimasyarakat maka ia tidak heran bahkan akan sedikit tergugah karena apa yang dilakukan sebelumnya : dejavu, di pesantren diaplikasikan kembali di rumahnya meski dengan istilah lain seperti gotong-royong, bakti sosial atau istilah yang lainnya namun esensinya tetap, yaitu membersihkan segala sesuatu yang kotor. Seperti yang dijabarkan dalam muqaddimah/prolog kitab Qomi’u at-Tughyan karya syekh Zainuddin bin Ali bin Ahmad Syafi’i yaitu iman terdiri atas 77 cabang yang di awali dengan menegasikan selain Allah dan diahiri dengan menyingkirkan duri atau sesuatu yang berbahaya dari jalan. Dan dari kutipan itu menyiratkan bahwa kebersihan/ro’an bukan saja melulu ketika di pesantren, namun harapan besarnya bahwa ia kelak akan memimpin atau menjadi leader dari kegiatan-kegiatan sosial yang menyangkut kebersihan dilingkungannya tersebut dengan demikian karakter sosial yang dulu pernah dilakukannya tetap melekat dalam sanubarinya. Begitu pula dengan jargon GO GREEN yang selama ini menyesaki baliho juga reklame di jalanan yang tidak lebih dari “embel-embel” dari roda ekonomi sebuah perusahaan dalam menarik konsumennya namun dalam fenomenanya bahwa produk tersebut justru mengotori lingkungan sekitar tanpa ada tindak ataupun kelanjutan dari jargon tersebut.

Dalam salah satu kesempatannya Dewan Kebersihan Pesantren mengutarakan beberapa “unek-unek” yang dirasakan oleh crew  yang beranggapan bahwa ro’an ialah “beres-beres semua lingkungan pesantren” namun kontras pada realitasnya, hal tersebut terjadi karena beberapa faktor seperti : kurang efektinya kegiatan ro’an selama ini dengan fakta di lapangan bahwa kurangnya fasilitas kebersihan berimbas pada keengganan santri dalam melaksanakan kebersihan sehingga yang terjadi hanya berjalan mengitari tempat-tempat yang semestinya dibersihkan, ditambah budaya “sok elit” yang menjangkit dikalangan santri, seperti rasa jijik yang tinggi ketika membersihkan selokan, WC, juga yang berkaitan dengan sesuatu yang berifat kotor. Dengan adanya koordinasi yang telah dijadwalkan oleh crew Kebersihan seperti membuat zona lokasi yang harus dibersihkan juga pengawasan yang intens dalam menjalankan aktifitas tersebut . juga dalam perjalanannya menuju generasi sehat, apalagi mengahadapi musim pancaroba seperti sekarang tentunya Dewan Kebersihan memiliki beberapa terobosan dalam mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti wabah DBD dan sakit yang lainnya, dengan melakukan pembersihan pada selokan, WC, juga mengumpulkan pakaian kotor (gombal) yang berseraka, pengurangan pakaian dalam castok kamar, memberantas tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya genangan air (aqua gelas, piring, ember). Juga faktor yang lebih krusialnya bahwa sering timbul kemalasan pada santri dalam menjalankan piket yang sudah di jadwalkan oleh Dewan Kebersihan, sehingga beberapa langkah yang harus dilakukan oleh Dewan Kebersihan ialah mengambil salah seorang anak yang berpengaruh pada teman-temannya untuk dijadikan leader dalam mengkoordinasi teman-temannya untuk melaksanakan piket tersebut dengan ajakan yang cara yang persuasif, kemudian membuat semacam kampanye dalam bentuk pamflet yang bertuliskan ajakan untuk saling menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempat yang disediakan, dan pamflet tersebut ditempelkan pada zona rawan kotor. Dan yang lebih penting adalah tersedianya alat-alat kebersihan yang telah disediakan oleh Dewan Kebersihan, juga lebih penting dari tersedianya alat-alat ialah menjaga alat-alatnya, karena seringnya didapati para santri yang mengunakan alat tersebut untuk media bermain.

Dalam persepsi pesantren, kegiatan seperti ro’an adalah salah satu kegiatan rutin yang harus di lakukan oleh para santri, dengan harapan bahwa ketika ia membersihkan lingkungannya maka bersih pula hatinya, dan tidak menutup kemungkinan bahwa ketika hatinya bersih ilmu yang ia pelajari dapat dengan mudah masuk dalam pikirannya juga sebagai penerang bagi hatinya yang telah dibersihkan dengan kegiatan tersebut, maka dari itu perlu diniatkan dalam hati bahwa ketika melakukan kegiatan semacam ro’an di niatkan pula menjadi sebab membersihkan hati.

والله أعلم

Badar Atas, 03 Maret 2016

Arjwinangun, Cirebon

Comments

comments