Riwayat Hidup dan Pendidikan Harun Nasution

Oleh ; Ahmad Zahid

0
510

Harun Nasution lahir di ‘‘Tanah Dolar’’ keresidenan Pematang Siantar, Sumatera Timur (sekarang Sumatera Utara) pada hari Selasa tanggal 23 September 1919. Pematang Siantar merupakan kota dekat dengan Danau Toba dan Medan (kurang lebih berjaral 128 kilometer). Menurut T.B. Simatupang merupakan miniatur negara.

Ayah Harun adalah Abdul Jabbar Ahmad Nasution, seorang ulama tradisional dari Mandailing yang mendalami ilmu fikih, menduduki jabatan sebagai qadi, penghulu, kepala agama dan imam masjid di Simalungun. Sedangkan ibunya bernama Maemunah Nasution yang juga berasal dari Mandailing adalah seorang putra ulama yang masa mudanya pernah bermukim di Masjidil Haram dan memahami aktivitas intelektual di Masjidil Haram.

Harun merupakan anak ke empat dari lima saudaranya, yakni abangnya yang tertua Mohammad Ayub, diikuti Khalil, kakak perempuannya Sa’adah, serta dik perempuannya Hafshah.

Keluarga harun termasuk golongan yang berpendidikan, maka tak heran jika orang tua Harun sangat memberikan sumbangan dan peran penting dalam menanamkan pendidikan untuk Harun. Perjalanan pendidikan Harun dapat dibagi menjadi tiga fase, yakni fase Sekolah Dasar dan Menengah, fase keluar negri : Mekkah dan Mesir (menjadi mahasiswa dan berkarier), dan fase kembali berkiprah di Indonesia.

  1. fase Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah

Harun memulai pendidikannya di sekolah HIS Hollands Inlands School atau Sekolah Belanda Bumiputra-sederajat SD sekarang-di Pematang Siantar, dari tahun 1927 sampai 1934 (usia 7 sampai 14 tahun). Selama di HIS harun mempelajari bahasa belanda dan pengetahuan umum. Karena di HIS tidak di dirikan pendidikan agama, pada sorenya ia belajar mengaji dikampungnya. Hal ini juga tak lepas dari keluarga yang notabene santri, religius, taat agama, suasana keagamaan yang bercorak tradisional seperti Washliyah semacam Nahdatul Ulama di Jawa atau PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) organisasi kaum Tuo di Sumatera Barat. Alumnni HIS kebanyakan mempunyai jiwa Nasionalisme yang sangat tinggi. Walaupun sekolah itu merupakan sekolah belanda.

Setelah Harun selesai sekolah di HIS dengan predikat murid pilihan (terbaik), ia mendapat rekomendasi untuk masuk ke sekolah MULO (Meer Mutgebreid Lager Onderwijs)-setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama. Sebuah harapan bagi alumni HIS untuk lanjut ke MULO, begitu-pun Harun. Namun keinginannya untuk melanjutkan ke MULO kalah dengan keinginan orang tuanya yang menginginkan Harun melanjutkan sekolah ke MIK (Moderne Islamietische Kweekschool). Sekolah Guru Menengah Swasta modern milik Abdul Ghaffar Jambek putera ulama ternama di Minangkabau, Syeikh Jambek. Selama tiga tahun belajar dengan bahasa pengantar yaitu bahasa belanda.

Di sekolah guru yang berada di Bukit Tinggi ini, mulai terlihat daya kritisnya terhadap hukum-hukum islam yang bertolak belakang dengan apa yang dianut oleh orang tuanya. Harun menemukan wacana baru yang cenderung rasional seperti dalam hal sholat dan lainnya. Tentu hal ini salah satu faktornya di pengaruhi cara berpikir ulama-ulama modern di MIK waktu itu, seperti Jamil Jambek, Abdullah Ahmad dan Abdul Karim Amrullah. Hingga sampai orang tuanya menginginkan harun untuk melanjutkan pendidikannya ke Mekkah, walau sebenarnya harun mempunyai cita-cita untuk melanjutkan ke Solo.

  1. fase keluar negeri : Mekkah dan Mesir

Harun Nasution berangkat ke Mekkah pada tahun 1936, belajar di Masjidil Haram, menunaikan ibadah haji, membaca kitab kuning terutama tafsir, hadis, tauhid dan fikih, seperti pengalaman ibunya. Beliau di Mekkah tidak terlalu lama dikarenakan melihat suasana Mekkah menurut pandangan Harun tidak kondusif untuk belajar. Kesannya seperti abad pertengahan diabad modern, sarana transormasi masih menggunakan keledai dan unta, fasilitas belajar masih sederhana, tidak ada meja kursi. Dilihat dari prespektif perjalanan keilmuan pemikiran islam, Arab Saudi tidak dikenal sebagai tempat belajar yang menuntut untuk kritis. Dengan kondisi yang demikian, akhirnya Harun pun minta restu kepada orang tuanya untuk pindah ke Mesir.

Pada tahun 1938 Harun mulai menuntut ilmu di Mesir, sebuah negeri yang memberi atmosfir baru bagi Harun. ada beberapa faktor yang mendorong Harun untuk melangkahkan kaki di tanah Mesir yaitu, pertama, lembaga pendidikan di Mesir, seperti Universitas Al-Azhar, Universitas Cairo, Universitas Helwan dan Universitas Ain Syams. Keempat Universitas utama yang berada di Mesir. Kedua, gelora pembaruan pemikiran di Mesir, negara arab yang terkena pengaruh langsung dari Eropa, dimuli sejak masuknya Napoleon ke Mesir. Disamping itu banyak pemikir dari Mesir seperti Muhammad Ali Pasya, Al-Tahtawi, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh beserta murid dan pengikutnya ; Rasyid Rida, Mustafa Al-Maraghi, Tantawi Jauhari, Farid Al-Wajdi, Qasim Amin, Toha Husein dan lain-lain. Ketiga, Nasionalisme Mesir, ide-ide nasionalisme mesir antara lain dalam rangka melawan penjajahan Inggris.

Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan republik Indonesia, setelah mendapatkan pengakuan dari liga Arab di Kairo. Kemudian didirikan kantor delegasi yang diketuai oleh M. Rasjidi. Pekerjanya terdiri dari pelajar dan mahasiswa indonesia termasuk harun. dia memulai karirnya sebagai pegawai pemerintah yakni diplomat (diplomatic service) dan resmi diangkat sebagai pegawai negara sipil. Pada tahun 1953 ia ditugaskan di Departemen luar negri di Jakarta sebagai seksi arab, pekerjaannya membaca surat kabar dari timur tengah. Pada tahun 1954 harun ditugaskan ke Saudi Arabia dalam urusan haji. Pada tahun 1955 harun ditugaskan di Brussels, Belgia sebagai sekretaris duta besar.

Setelah menempuh masa yang cukup lama, pada tahun 1960 harun kembali masuk dunia intelektual dengan belajar di Al-Dirasat Al-Islamiyyah. Disini harun belajar dengan Abu Zahrah.

Masa ini merupakan masa yang paling sulit bagi harun dalam masalah moneter. Akan tetapi harun tak putus asa, dia selalu berusaha dan berdoa tiap malam serta meminta petunjuk kepada tuhan yang maha esa, dalam doanya “tabunganku habis, barang-barangku satu persatu kujual. Keadaan semakin tak menentu”. Sampai akhirnya datanglah tawaran ke McGill University, Kanada. Hingga sampai selesai masa studinya. Untuk tesis magisternya, harun menulis tentang politik dengan judul : “the islamic state in indonesia the rise of the ideology , the movement for its creation dan the theory of the masjumi”. Adapun untuk disertasinya, harun menulis tentang teologi islam dengan judul : “the pleace of reason in abduh’s theology its impact on his theological system and views”.

  1. Fase Kembali Berkiprah di Indonesia

Setelah menggali lubang sampai mencapai kedalaman yang tak terhingga kemudian muncullah sumber air itu untuk berdialektika dengan historisitasnya. Harun memulai kegiatannya di iain syarif hidayatullah jakarta. Kurang lebih mengabdi selama empat tahun di iain, harun diangkat menjadi rektor oleh menteri agama yang waktu itu adalah mukti ali lulusandari mcgill university.

Setelah dilantik, harun sudah mempersiapkan beberapa pembenahan yang akan dilakukannya selama ia menjabat rekror. Pertama, memperbaiki kurikulum yang di pakai di iain. Untuk mengsukseskan konsep ini harun mengumpulkan seluruh rektor iain seindonesia. Dan atas diskusi yang sangat panjang diterima konsep dari harun walaupun ada penolakan dari rektor tertua h. Ismail ya’cub dan k.h. bafaddal. Namun akhirnya mereka menerima dengan syarat mata kuliah fiqh, tafsir hadis tidak dihilangkan dengan alasan menjaga nuansa keilmuan islam di iain.

Pandangan terhadap teologi rasional, harun merujuk kepada tradisi pemikiran yang di pakai mu’tazilah dan tokoh-tokoh pembaharu seperti muhammad abduh. Sedangkan terhadap teologi tradisional harun memakai teologi asy’ariyah. Dengan memakai titik pijak ini harun membawa pemikiran-pemikiran yang di introduksi di iain.

Setelah selesai tugasnya sebagai rektor iain syarif hidayatullah, harun nasution dipercaya sebagai direktur pasca sarjana uin syarif hidayatullah. Berkat ketekunannya mengelola pasca sarjana ini telah hadir ratusan doktor dalam bidang studi agama islam yang memimpin di lembaganya masing-masing.

Manusia ingin yang cepat tapi allah memilih yang tepat. Pada tanggal 18 september 1998, empat hari sebelum hari kelahirannya menjelang usia 79 tahun ia meninggal dunia, setelah dirawat satu malam di rumah sakit pertamina kebayoran jakarta selatan.

Ahmad Zahid

Adalah Alumni Pesantren Dar al-Tauhid dan Mahasiswa Institut Agama Islam Negri (IAIN) Cirebon

Comments

comments