Rajab, Isra Mi’raj dan Ketundukkan

اللّهمّ بارك لنا في رجب وشعبا ن وبلّغنا رمضا ن (البخاري)

0
426

Kita telah tiba di bulan mulia yang diantaranya adalah bulan Rajab yang memiliki berbagai peristiwa sejarah penting di dalamnya, seperti kemenangan Baginda Nabi Muhammad dalam pertempuran Tabuk yang terjadi pada 9 H, kemudian peristiwa pebebasan Yerssalem dari kekuasaan tentara Salib Eropa pada 1187 M oleh Salahuddin al-Ayyubi, dan yang paling menakjubkan ialah peristiwa Isra Mi’raj yang kemudian kita semua mendapatkan perintah berupa sholat. Sholat yang merupakan suatu ibadah yang bersifat mahdlah yang di dalamnya terdapat banyak sekali damapak-dampak positifnya dalam diri manusia, salah satunya ialah dapat mereduksi hawa nafsu yang negatif. Nafsu yang terdiri dari nafsu ammarah (nafsu atau hasrat negatif yang menghantarkan manusia kepada keburukan), lawwammah (nafsu yang ragu), dan yang berkonotasi baik ialag seperti nafsu muthmainnah (nafsu yang menghantarkan kita kepda kebaikan).Dan ia (sholat) merupakan sebuah upaya menundukkan tubuh ke tanah melalui tindakan kenosis yang dapat meminimalisir ego, begitu tulis K. Armstrong dalam Sejarah Tuhan-nya. Dan setiap saat dalam diri manusia tersebut terus terjadi pergulatan ketiga nafsu tersebut, dan karena sholat merupakan sesuatu yang sifatnya urgent maka sholat bukan semata-mata hanya sebuah relasi Tuhan dan manuisa secara secara personalitasnya karena, sholat merupakan sebuah kontrol atas nafsu yang terdapat dalam diri manusia tersebut.Seperti yang telah dikisahkan dalam teks skriptural (al-Quran), di dalamsurat al-Isra ayat pertama ;

سبحا ن الّذى اسرى بعبد ه ليلاً من المسجد الحرام الى المسجد الاقصا الّذى باركنا حوله لنر يه من ايا تنا انّه هو السّميع البصير

“Maha suci Allah yang telah memberi jalan hambanya pada suatu malam dari Masjidil al-Haram ke Masjidil al-Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Sekilas Isra Mi’raj Serta Hal Besar Di Dalamnya

Namun sholat tidak serta-merta ada begitu saja tanpa adanya sebuah latar belakang historis di dalamnya. Sholat yangmerupakan suatu perintah dari Allah secara langsung kepada nabi Muhammad saat isra mi’raj atau sebuah perjalanan yang dilakukan nabi dalam semalam, dari Masjidil Haram (Saudi Arabia) menuju Masjidil Aqsha (Yerussalem), dan kemudian menuju Sidratul Muntaha, yang merupakan sebuah pohon bidara yang sangat tinggi dan menjulang di langit ke enam dan ke tujuh, yang konon pohon ini yang menandai akhir dari langit dan menjadi semacam batas demarkasi dimana mahluk tidak dapat melewatinya, serta dengan mengendarai Buraq yang telah disiapkan oleh malaikat Jibril. Isra mi’raj sendiri terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M, dan menurut al-Allamah al-Manshufuri, isra mi’raj yang terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian. Dan meski setelahnya Nabi mendapatkan cemoohan hingga pemeo dari masyarakat sekitarnya (masyarakat Jahiliyah) atas peristiwa tersebut karena tidak masuk akal serta mengada-ada. Dalam Isra-nya atau perjalanan Baginda Nabi dari Masjidil Haram (sekarang Saudi Arabia) menuju Masjidil Aqsha (Yerussalem), dan di dalam masjid tersebut Baginda Nabi melakukan sholat yang konon pula diikuti oleh para Nabi, dalam sebuah ahadist diceritakan ;

عن ابن عبّاس قال : فلمّا دخل النّبي صلّى الله عليه وسلّم المسجد الاقصى قام يصلّي فالتفت ثمّ التفت فاذا النّبيوناجمعون يصلّون معه

“ketika Nabi memasuki masjid al-Aqsha, beliau sholat. Ketika selesai, beliau menengok ke belakang. Di situ beliau melihat para nabi ikut sholat di belakangnya.” (H.R. Ahmad)

Dan ketika setelah itu Baginda Nabi menyinggahi lima tempat yaitu (1) Yastrib, yang sekarang disebut sebagai Madinah al-Munawarah, (2) kota Madyan, yaitu tempat persembunyian Nabi Musa ketika dikejar oleh bala tentara Fir’aun, (3) bukit Thur Sina,yaitu tempat Nabi Musa menerima kitab Turat, (4) Bethlehem, yaitu tempat kelahiran Nabi Isa. Kemudian melanjutkan Mi’raj-nya untuk mencapaiSidratul Muntahayang merupakan tujuan akhir dari perjalanannya, Baginda Nabi melewati 7 (tujuh) lapis langit, yang disetiap lapisannya dijaga oleh Nabi-Nabi terdahulu; dan pada langit Pertama, beliau bertemu dengan Nabi Adam yang merupakan bapak seluruh umat manusia. Kedua, pada langit kedua ini Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya yang darinya Nabi memperoleh restu atas keselamatannya. Ketiga, pada langit ketiga ini Nabi bertemu dengan Nabi Yusuf yang dikaruniai wajah yang mempesona oleh Allah. Keempat, di langit ini Baginda Nabi bertemu dengan Nabi Idris. Kelima,di langit ini pun Baginda Nabi bertemu dengan Nabi Harun. Keenam, di sini Baginda Nabi bertemu dengan Nabi Musa, konon Nabi Musa menangis tersedu-sedu ketika Baginda Nabi sampai di tempatnya.Ketujuh, di tempat ini Baginda Nabi bertemu dengan Nabi Ibrahim, dan konon saat itu Nabi Ibrahim sedang bersandar di Baitul Ma’mur. Selain itu selama di perjalannya beliau banyak mendapatkan pelajaran berharga yang yang diberikan oleh Malaikat Jibril, seperti sebuah representasi atas penghuni Surga dan Neraka yang kelak menjadi sebuah preseden bagi umatnya.

Dan konon setelah Baginda Nabi menerima perintah sholat oleh Allah sebanyak 50 (lima puluh) waktu dalam satu hari. Dalam perjalanan pulangnya Baginda Nabi bertemu dengan Nabi Musa serta menceritakan apa yang didapatkannya, dengan penuh pertimbangan Nabi Musa ketika umatnya diperintahkan sholat, makaNabi Musa menyuruh Baginda Nabi untuk memintarukhsah atau dispensasi atas waktu yang diberikan, hingga Baginda Nabi beberapa kali meminta dispensasi tersebut hingga akhirnya sampai pada bilangan 5 (lima) waktu dalam mengerjakan sholat tersebut. Dan pada awalnya arah kiblat ketika sholat ialah menghadap Baitul Aqsha (Yerussalem), namun kemudian pada tahun 624 M ataupada bulan Sya’ban, seperti yang dikisahkan dalam surat al-Baqarah ayat 142-145 arah kiblat telah diganti (mansukh) berganti, hingga sampai saat ini menjadi ke Ka’bah. Dan perdebatan mengenai perjalanan Banginda Nabi tersebut hingga hari ini masih semerbak dalam ruang-ruang diskusi, namun terdapat sebuah pernyataan Siti Aisyah, ebagaimana disebutkan dalam Sirah Ibn Hisyam;

والله ما فقد جسد رسول الله صلّى الله عليه وسلّم ولكن عرج بروحه

“Demi Allah, tubuh Nabi tidak hilang. Ia diperjalankan ke langit dengan ruhnya”

Demikian sekilas pejalanan isra dan mi’raj Baginda Nabi yang pada dalam perjalanannya mendapatkan perintah sholat dari secara langsung, dengan “negosiasinya” kepada Allah semata-mata menunjukkan bahwa Baginda Nabi begitu sayang terhadap umatnya.

Sholat Sebagai Kontrol Atas Kesadaran Manusia

Sholat sebelum Islam datang juga telah dilakukan oleh masyarakat Jahiliyyah yang menganut paganisme (penyembah berhala), seperti dalam al-Qur’an surat al-Anfal ayat 35;

وما كان صلا تهم عند البيت إلّا مكاءً وتصديةً

“Sholat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan”

Namun makna esensial dari di syari’atkannya sholat itu sendiri ialah melatih disiplin solidaritas serta disiplin dalam menyikapi waktu. Sebab dunia tidak hanya mempunyai sumber daya alamdan manusiasemata, tapi dunia juga mempunyai sumber daya waktu yang menjadi titik tolak “penyatuan” antara sumberdaya alam dan manusia. Dan karena displin sholat adalah sesuatu yang sangat berat dan sulit kita wujudkan, sehinggadalam setiap geraknya terdapat faedah atau keutamaan di dalamnya, seperti saat intim dengan sang pencipta ialah ketika seorang hamba itu melakukan sholat seperti dalam hadist nabi ;

اذاقام احدكم يصلّي فانه ينا جي ربه

Manakala seorang hamba sedang shalat, maka sesungguhnya dia sedang berbicara intim dengan Tuhannya.”

Dengan relasi teologis yang langsung menuju kepada sang pencipta, maka sholat, terlebih ketika dalam keadaansujud, merupakan sebuah ketertundukan ego juga kesombongan manusia, karena dalam konteks kekinian manusia sering lalai dalam “mengingat siapa dirinya” sehingga peluang besar terjadinya pemberhalaan manusia sering muncul, baik karena materinya atau parasnya. Dengan sholat maka sudah seyogyanya menjadi kontrol atas kesadaran manusia yang hanya tunduk pada penciptanya.Bukan sebaliknya, manusia tersebut menjadi arogan megalomaniak dan sebagainya, yang menciptakan kerusakan-kerusakan di bumi, seperti upaya eksploitasi manusia lainnya, serta merusak alam dengan mengabaikan dampak ke depannya, al-Qur’an telah memberikan sebuah titik terang atas fungsi sholat yang dapat mereduksi perbuatan keji dan munkar, al-Qur’an menyebutkan;

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya sholat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar”-Q.S al-Ankabut: 45.

Meski begitu, masih saja terdapat kontrversi mengenai perayaan semacam ini (baca; Rajaban, Muludandll), mengutip dari pendapat KH. Husein Muhammad bahwa masih kasus semacam ini mendapatkan vonis “bid’ah”, kesesatan, atau bahkan penyimpangandalam agama, hingga mengklaim bahwa pelakunya masuk neraka. Ini karena hal semacam itutidak ditemukan pada masa Nabi, hingga banyak komentar atas hal tersebut ; bahwa itu adalah pemahaman agama yang dangkal, kering, hingga memungkinkan bahwa mereka tidak pernah mendapatkan pemahaman agama yang luas dan lues. Dan karena hal tersebut merupakan suatu perspektif yang tekstual, rigid,kasar, tak tersentuh pengetahuan dan keindahan sastra. Karena tak setiap hal yang tidak ada pada masa Nabi juga harus tidak boleh pada masa yang lainnya. Dan karena begit banyak jumlah peristiwa manusia pasca Nabi yang tidak terdapat dalam catatan tekstualnya dari Nabi. Mengingat dan mencintai Tuhan, mencintai dan mengikuti jejak langkah Nabi ialah merupakan sesuatu yang esensial (inti)dalam agama, mengenai cara, jalan, bentuk, serta mekanisme mencintai adalah sebuah kreasi yang profan, dan seperti apapun model dan bentuknya, asalkan tidak meninggalkan hal-hal yang bersifat esensial maka ia dalam status kebolehan, terlebih jika bermanfaat.

Banyak dari kalangan nonmuslim yang memuji kepribadian serta kepiawaian Baginda Nabi, seperti seorang peneliti Michael H. Hart yang melakukan riset terhadap tokoh-tokoh besar dunia dan pada akhirnya menetapkan Baginda Nabi dalam peringkat pertama sebagai manusia paling berpengaruh sepanjang sejarah, kemudian ia mengatakan “Saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa, baik dilihat dari sisi agama maupun ruang lingkup duniawi.” Atau juga seperti seorang sekaliber Mahatma Gandhi (1869-1948M) menuliskan “..Saya semakin yakin bahwa bukanlah pedang yang menaklukan sebuah daerah bagi islam untuk hidup di zaman itu. Kesederhanaan yang teguh, Nabi yang sama sekali tidak menonjolkan diri, loyalitasnya yang luar biasa terhadap janjinya, kasih sayang yang amat besar kepada sahabat dan para pengikutnya, keberaniaannya, kepercayaan yang mutlak kepada Tuhan dan kepada misinya. Inilah, dan bukan pedang, yang mengantarkan segala sesuatu di hadapan mereka dan mengatasi setiap masalah.” Demikianlah Baginda Nabi yang dalam hidupnya selalu mengaplikasikan nilai-nilai universal kemausiaan serta selalu mengasihi semua mahluk ciptaan-Nya, dan semoga pada bulan Rajab ini kita dapat memetik hikah (wisdom) dari peristiwa Isra Mi’raj yang sangat dahsyat tersebut. Dan marilah kita seraya berdo’a agar kelak kita dapat bertemu dengan Rjab-rajab berikutnya dengan hati yang berrsih. Amin.

اللّهمّ بارك لنا في رجبٍ وشعبا ن وبلّغنا رمضا ن

“Ya Allah, berikanlah pada kami bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan (hidupkan) kami ke bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

 

والله أعلم

 

 

Sabtu, 1 April 2017 M/4 Rajab 1438 H

Ahonk bae

Comments

comments