Raisa dan Pemburu Ta’jil Gratis

Oleh : Agus Teriyana

0
331

Kak Raisa, kakak apakah sudah tahu kalau mempercepat berbuka puasa itu baik? Seperti yang tertera dalam kitab Bulughul Maram hadist nomor 652, Ibn Hajar menambahkan; dari Sahl bin Sa’ad rhadiyallahu ‘anhu bahwa Rasulalah shallallahu’alaihi bersabda, “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka” (Muttafaqun ‘alaih}. Dari hadist yang sudah mashur tersebut sepertinya kak Raisa juga paham bahwa menyegerakan berbuka puasa itu sangat dianjurkan, dan mengakhiri waktu berbuka adalah perkara yang dianggap sombong.

Oh iya kak, satu hal sebelum aku bercerita, perlu kakak ketahui terlebih dahulu. kalau di Indonesia itu waktu menahan haus, lapar dan maksiat masih dalam kisaran setengah hari. Dari data yang di rilis Tirto.co waktu berpuasa di Indonesia adalah kisaran waktu 13 jam.  Berbeda kak dengan waktu berpuasanya muslim di Islandia degan kisaran waktu 22 jam, disusul Swedia 20.17 jam,  Alaska 19.03 jam, Jerman 19.03 jam , Inggris 18.5 jam dan negara lain yang tidak bisa adek sebutkan satu-persatu.  Jadi kakak jangan sombong gitu yah ketika menahan puasa 13 jam saja.

Selama adek menuntut ilmu di kota Yogyakarta, adek sibuk safari masjid kak untuk mencari ta’jil. Di masjid-masjid kisaran Yogyakarta. Karena hampir seluruh masjid di sini membuka ta’jil cuma-cuma bagi semua orang kak. Ditambah ta’jil-nya makan-makanan berat lagi, seprti nasi ayam plus teh panas, nasi ikan plus air putih dan berbagai macem coraknya.

Tapi yang lebih menarik disini kak, dalam pikirku orang-orang yang dulunya akhi-ukhti jarang sekali ke masjid, tiba-tiba menjadi akhi-ukhti pegiat safari masjid. Dari masjid satu berpindah ke masjid yang lain hanya untuk mencari ta’jil yang ideal. Padahal sebelum bulan ramadhan suasana masjid cenderung sepi dan di isi oleh para takmir serta oang-orang tua.

Secara mekanis kak, sebelum ta’jil itu dibagikan, akhi-ukhti lebih dahulu mendengarkan tausyiah ramadhan. Dan baru sebelum detik-detik berbuka puasa, ta’jil mulai dibagikan. Ada pula dibagikan minuman ringan terlebih dahulu, baru setelah shalat berjama’ah magrib makanan mulai dibagikan. Ada yang langsung makan di masjid dan ada juga bentuk kotak makanan yang bisa di bawa pulang.

Tapi sangat disayangkan kak, masjid mulai rameh ketika 10 menit sebelum berbuka puasa. Mereka datang ke masjid hanya ketika mendekati waktu berbuka dan meninggalkan tausyiah adalah hal yang dianggap lumrah. Dan dari pihak masjid pun tidak akan mungkin mengindentifikasi orang-orang yang ikut tausyiah dan tidak. Ataukah seprti di masjid Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan menggunakan kupon, siapa yang lebih dahulu mendapatkan kupon, dia yang berhak mendapatkan ta’jil. Ya kak, mungkin tausyiah tidak sewajib Khutbah jum’at dalam kaidah hukumnya.

Disini ada semacam pembelokan niat kak, yang seharusnya ketika berbuka puasa di masjid-masjid mengadakan agenda ramadhan dengan niatan syi’ar Islam, tapi dengan iming-iming konsumsi yang enak akhi-ukhti dari berbagai penjuru, baik dari kalangan miskin kota, anak-anak, remaja, dewasa hingga kelas menengah mulai bebondong ke masjid-masjid. Rasionalnya kak ke masjid itu niatnya karena Allah ta’ala semata kak, bukan karena konsumsi ta’jil yang lezat. Bisa di qiaskan kak, engefansnya adek kepada kak Raisa itu 100% karena Allah ta’ala, bukan karena cantik, imut dan harta ataukah alasan lainnya kak. tapi sangat disayangkan bila ngefansnya adek kepada kak Raisa hanya karena kecantikannya belaka.

Perlu diketahui kak, niat yang semula karena Allah semata ini bisa bercabang, satu sisi karena Alah ta’ala datang ke masjid, sisi yang lain iming-iming ta’jil (duniawi). Itu bisa diartikan kak sebagai ibadah yang dimaterialkan kak. Meskipun bagus untuk konteks Indonesia, karena daya iman (mungkin) akhi-ukhti kita masih perlu penujang terutama penunjang perut.

Yang paling adek khawatirkan kak, niatan tersebut menjadi niatan utama bagi akhi-ukhti untuk mencari ta’jil semata di masjid-masjid kak. Memang kak yang namanya niat sifatnya habluminallah dan susah untuk di tebak niatan seseorang itu. Tapi adek lihat kebanyakan, mereka mulai berdatangan hanya ketika menkakati waktu berbuka saja, padahal agenda masjid sudah dimulai sejak pukul 16.30. Lebih parah lagi, ada sebagian orang yang datangnya hanya ketika waktu pembagian ta’jilnya saja. Perihal ta’jil ini hanya mengkokohkan kekonsumtifan warga negara Indonesia sebagai negara konsumtif kedua setelah Singapura.

Hal tersebut tidak semata-mata disalahkan kak, kakak tahu sendiri kan minimnya kualitas tausyiah di masjid-masjid menjadi persoalan utama. Apalagi tausyiah yang di bawakan hanya berkutat di sekitaran ubudiah saja, dan jarang sekali kak tausyaih-nya terkait hubungan sosial kemasyarakatan itu sendiri. Seharusnya, habluminallah itu kak sangat berhubungan erat dengan habluminannas. Islam kan kak agama yang rahmatan li’alamin, bukan rahmatan lil muslimin ataukan rahmatan lil ta’jilin.

Perihal lain yang bisa menggandakan niat ini kak, karena besarnya ketimpangan ekonomi nasional antara orang kaya dengan orang miskin. Kakak tahu kan kalau 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 49.3% kekayan nasional. Maka tidak aneh kak, bila negara kita menjadi negara dengan kesenjangan tertingg nomor 4 di dunia, dengan presentasi 40.3%. ini mungkin masih lebih baik kak dibandingkan Rusia dengan kesenjangan 74.5%, India 58,4% ataukah Thailand 58.0%. Akibatnya kak, agenda keagamaan di masjid-masjid ketika bulan ramadhan hanya dijadikan sebagai tameng belaka kak, yang utamanya adalah persoalan perut.

Kak Raisa yang cantik, bukannya aku menolak untuk bukber dengan kakak, tapi lihat saja kak, harga gorengan di warung-warung untuk berbuka puasa saja sudah tidak matematik lagi kak. Masa harga gorengan 2000 dapat 3 biji, Kan kalau di matamatikakan perbijinya harga gorengan sebesar 666,6666666667 perak kak. Dan itu sangatlah tidak mungkin warung menjual dengan harga seaneh itu. Dan bagaimana mungkin aku harus berbuka dengan kakak, sedangkan harga-harga pangan saja masih cukup tiggi kak. Cukup mungki lebaran saja kak kita bisa berjua bersama sambil menertawakan keanehan negeri kita kak.

Agus Teriyana

Adalah fans mutlak Raisa ketimbnag Isyawa, selain juga alumni pon-pes Dar al-Tauhid dan mahasiswa UIN Sunan KalIjaga Yoyakarta

Comments

comments