Tumpukan tanah yang menyelimutimu masih terlihat basah, air mata yang menetes di setiap pipi orang yang menyayangimu pun masih terlihat terharu biru, memakai pakaian gelap melambangkan rasa hormat kepadamu karena berduka, bersedih dan merasa kehilangan. Aku duduk di teras rumah setelah pemakaman papaku, pandangan ku pun kosong hanya ruang hampa yang ku lihat, menyesali semua yang terjadi, sembari mengingat masa masa bersama papa, dan seketika itu aku ingat suatu masa di mana aku tak menghargai keberadaan papa di sisiku.
“Fia papa pulang nak” teriak mama yang sedang menyiram bunga di halaman depan, aku pun tak menghiraukan mama yang memanggilku, aku lanjutkan mengerjakan tugas sekolah ku. Papa ku itu jarang sekali pulang, setiap bulannya ia pulang bisa di hitung antara satu sampe empat hari, karenanya aku tak terlalu dekat dengan papa. Tanpa sepengetahuanku papa membuka pintu kamarku lalu mendekati ku yang asyikmengerjakan tugas sembari tiduran di atas tempat tidur, kemudian papa mengusap kepalaku lalu berkata “lagi belajar ya nak?, sampe-sampe papa pulang ga’ di sambut” ujarnya yang mencoba memaklumi keadaan ku “ ga juga ko’ pa ,” jawabku cuwek, aku tak banyak menjawab, hanya beberapa kata tapi mewakili semuanya, ku lihat papa tak membawa apa apa di tangannya, tapi aku tak mempermasalahkan itu namun nampaknya tidak bagi papa “papa ga bawa apa-apa nak, soalnya papa buru buru ,” ujarnya yang merasa bersalah, karena biasanya papa setiap pulang dari kerjaannya, ia selalu membawa buah tangan entah itu makanan atau sekedar souvenir atau buku-buku, karena pada kali ini ia tidak membawa oleh-oleh, maka papa pun memberi hiburan kepadaku atas keburu-buruannya, dengan mengajak aku dan mamah jalan-jalan “ok gini aja buat ganti oleh-olehnya papa mau ngajak kamu dan mama jalan jalan” tawar papa yang masi duduk di samping ku,“ kapan pa?” tanyaku menengok ke arah papa yang menatapku penuh cinta seorang ayah “ besok aja gimana?” tanya papa pada ku, dengan harapan aku mengiakan nya “ihh, pa besok kan aku ada les fisika , ga bisa deh pa” jawabanku itu nampaknya membuat papa kecewa “terus ganti oleh olehnya apa dong?” tanya kembali papa yang masi menawarkan sesuatu yang ku inginkan “ya udah, papa kasi aku uang aja nanti aku jalan-jalan sama temen aja deh pa !“ jawab ku, papa pun mengalah atas permintaan ku itu, ku lihat bola mata papa banyak menyimpan kekecewaan dengan keputusanku itu, tapi aku harus berbuat apa lagi di sisi lain pelajaran atau sekolahku pun lebih penting juga “kan bulan depan papa pulang lagi kan ?, ya udah bulan depan aja, aku janji pasti bisa, asal jangan mendadak, ok pa” sambungku mencoba menghibur papa yang tampak kecewa menginginkan kebersamaan di luar rumah itu, ingat ku pada masa itu.
Ku pandangi foto papa yang nampak gagah memakai jas kebanggaannya, dan saat itu air mata ku tak terasa membasahi pipiku dan membasahi foto papa yang tersimpan rapih di dalam bingkai kayu, dan aku pun mulai ingat lagi saat-saat aku membuat papa kecewa untuk sekian kalinya “Fia!” sapa papa lembut pada ku yang nampak merapikan buku buku yang berceceran sehabis belajar “gimana pa?” sahutku bertanya “tadi kan papa liat liat di internet ada film bagus loh di bioskop, kita nonton yuk,? lagian besok kan hari libur, mumpung papa ada di rumah ni Fi” ajak papa pada ku yang begitu antusias “boleh tuh pa, jam berapa ?” tanyaku lagi pada papa yang duduk di samping ku “jam 9 pagi aja Fi” jawab papa ,” ok pa” aku pun menyetujui tawaran papa, sore itu kita larut pada rasa antusias, tanpa terasa pagi pun menyapa dengan bangga dan memberi kecerahan pada sang surya, papa pun sudah bersiap siap, tapi betapa menyesalnya aku pada saat itu, saat itu temanku Riska dia menghubungi ku secara tiba-tiba, dan betapa teledornya aku saat sehari sebelum papa mengajak kunonton, Riska sudah terlebih dulu mengajak ku mengikuti acara sekolah bersama teman-teman pada hari Minggu ini di sekolahan, spontan aku pun bingung, bagaimana bicara sama papa?, namun pada saat itu aku berfikir acara sekolah itu diadakan satu tahun sekali, sementara momen jalan jalan dengan keluarga itu bisa kapan pun. Dan bodohnya aku saat itu, aku pun lebih mementingkan acara sekolah yang sekarang menurutku itu semua ga’ begitu penting namun karna aku tak mau melewat momen kebersamaan dengan teman-teman, aku pun merelakan kehilangan momen kebersamaan dengan papa dan mamah. Dengan rasa tak enak, aku katakan permohonan maafku itu “papa maafin Fia ya pa, kemaren Fia ga’ bilang sama papa kalo hari ini Fia udah terlanjur ada janji sama temen-temen Fia, kan ga enakkan pa kalo ngebatalin gitu aja” ujar ku sambil duduk di samping papa manja, tapi perkataanku nampaknya membuat papa kecewa, namun papaku itu sangatlah mengerti aku, ia selalu punya alasan untuk gak memaksakan keinginannya demi kebahagian anaknya “ya udah papa jalan sama mama aja deh, sayang kan papa udah booking tikenya kalo ga jadi” ujar papa menenangkanku, tapi sebelumnya aku kaget, begitu antusiasnya papa sampe-sampe sudah booking tiket segala “makasi ya pa”,. Memori lamaku itu membuat air mata ku meleleh begitu saja, betapa egoisnya aku saat itu mengorbankan kehangatan keluarga demi ambisi bersama teman-teman, dan aku pun bingung harus menyalahkan siapa? namun ku coba tak menyalahkan siapa-siapa, ini adalah rahasia Tuhan yang sangatlah indah.
Setelah aku sudah mulai menyadari prilaku diriku yang sering mengecewakan papa, memang bukan tindakan yang menyimpang yang aku lakukan namun kejadian-kejadian kemarin adalah sikap mengecewakan secara tidak langsung. Dan saat aku ingin memperbaiki kesalahan ku itu, dengan mengutamakan kepentingan keluarga dia atas kepentingan peribadiku papa pun mendapatkan musibah yang amat mengguncang batinku, sebulan setelah papa mengajakku ke bioskop itu, papa kupun di vonis oleh dokter telah mengidap penyakit gijal dan paru-paru, aku pun tak menyadari itu, memang sebelumnya papa sering mengeluh sakit, tapi papa selalu punya cara agar tidak membuatku cemas dan tidak fokus pada belajarku. Aku yang baru mengetahuinya setelah beberapa hari papa menolak ajakan ku untuk liburan ke puncak, karena yang aku tau papa sangat suka jalan jalan apa lagi ke puncak, dan pada saat itu aku pun sangat kaget dan tak percaya.

Siang itu pukul 13.24, papa di larikan ke rumah sakit dengan menggunakan mobil ambulan setelah pingsan sehabis sholat dan mengeluarkan darah melalui mulutnya, papa pun langsung di tempatkan diruangan ICU, setelah papa dirawat, selama 1 hari papa koma. Papa pun mengalah pada penyakitnya, papa menghembuskan nafas terakhirnya di hari kelahirnku. Pada saat itu penyesalanku pun menjadi-jadi, saat tim medis memberikan kabar buruk itu, mama dan aku menangis histeris, rasa tak percaya, kehilangan, bingung, berpadu menjadi satu .
Nafasku pun tersenggal, terhalang oleh isak tangis yang selalu merasa bersalah dan menyesal, dan air mataku pun sudah kehilangan rasa sabarnya, berbondong-bondong keluar dari asalnya saat jenazah papa mulai terkubur dan rata dengan tanah dan sebagai penghormatan terakhirku, ku taburkan bunga di pusara papa dan ku cium nisan yang basah karena air do’a, dengan langkah yang masih berat aku meninggalkan makam papa
Saat sedang menatap foto papa, mama pun memberikan sepucuk surat terkhir papa “Fia maafin mama ya nak, selama ini mamah merahasiakan semua penyakit papa, tapi itu semua demi kebaikkan kamu nak. Sebelum papa pergi, papa sempat menitipkan surat ini sama mama untuk kamu, mama juga ga tau apa isinya, tapi papa bilang surat ini diberikan saat papa sudah ga ada” ujar mama yang bercampur dengan isak tangis, aku pun mulai membuka isi surat dari papa yang berisi :
“Anakku Fia Arifin jangan bersedih kalau papa tidak bisa menemani setiap waktu bersamamu, maafkan papa kalau gak bisa lagi ajak kamu jalan jalan, gak bisa ajak kamu nonton film lagi, papa percaya kamu anak yang hebat, berbakti, dan baik. Papa pesan sama kamu jangan lupakan shalat, jagalah persaudaraan, selalu menjaga prestasi belajarmu jangan sampai menjadi benalu dikehidupan orang lain, dan papa yakin kamu bisa menaklukan panas dan kerasnya kehidupan karna kamu anak papa, since you are our gemand forever be our games” secara spontan ku peluk mama, ku tuangkan semua rasa penyesalanku, aku pun mulai mengeluarkan air mataku lagi. Dengan harapan tak akan ku tuangkan lagi air mata ini di hari esok , aku tak mau mengecewakan papa di alam sana, aku ingin mewujudkan semua harapan papa. Menjadi pribadi yang tangguh menghadapi kehidupan yang keras ini.

****

Comments

comments