Puasa dan Ukuran Kesalehan Seseorang

Oleh : Nursodik El-Hadee

0
189

Sudah sepekan kita menjalankan puasa dengan menahan diri dari lapar dan dahaga, dari terbit fajar sampai maghrib tiba. Ritual tersebut di lakukan karena kita yakini merupakan sebuah ajaran yang sudah  disebutkan dalam kitab suci, yang  juga telah menjadi kewajiban bagi umat manusia sejak zaman nabi-nabi yang terdahulu.

Puasa  sejatinya  bukan hanya sebatas menahan diri dari lapar dan haus, lebih dari itu, kita diminta untuk menahan hawa nafsu dari  perbuatan -perbuatan yang membatalkan puasa. Oleh karenanya, puasa dalam hal ini  memiliki peranan penting yang  dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya terkait, ukuran kesalehan seseorang di bulan puasa dan soal  Kepantasan.

Lalu, bagaimana mengukur kesalehan  seseorang? Mengutip dari pendapat  KH. Ahmad Mustofa Bisri atau yang kerap disapa Gus Mus,  istilah Saleh dikelompokkan menjadi dua macam. Yakni, saleh ritual dan saleh sosial. Saleh yang pertama merujuk pada ibadah yang dilakukan dalam konteks memenuhi haqqullah dan hablum minallah seperti shalat, puasa, haji dan ritual lainnya. Sementara itu, yang kedua istilah saleh sosial merujuk pada berbagai macam aktivitas dalam rangka memenuhi haqul adami dan menjaga hablum minan nas.

Saleh Ritual dan Sosial

Akhir-akhir ini, banyak orang  yang saleh secara ritual, namun tidak saleh secara sosial; begitu pula sebaliknya. Padahal,  Islam mengajarkan keduanya; dimensi ritual dan dimensi  sosial. Bahkan dalam perjalanan taklif ibadah yang diajarkan Islam  lebih hebat lagi, didalam ritual sesungguhnya juga ada aspek sosial. Seperti Ibadah Puasa, shalat berjamaah, ataupun zakat, juga merangkum dimensi ritual dan sosial sekaligus. Jadi, jelas bahwa kedua jenis kesalehan tersebut harus  bisa seimbang, artinya kita dituntut harus  menunjukkan kesalehan ritual (baca; pribadi) dan kesalehan sosial (baca; bermasyarakat). Jadi, bahwa ukuran yang terbaik yang menunjukkan kesalehan seseorang  adalah kesalehan total, bukan salah satunya atau malah tidak menjalankan keduanya, itu namanya kesalahan bukan kesalehan.

Di dalam dunia yang penuh kemodernitasan ini, terkadang harus diakui seringkali seseorang bingung dalam memilih mana yang didahulukan antara ibadah atau amalan sosial. Jangan sampai kita salah menentukan skala prioritas tersebut. Jangan lupa pula, orang Saleh bukan berarti tidak punya kesalahan dan sebaliknya orang salah bukan berarti tidak bisa menjadi saleh. Ungkapan ini sering dianggap remeh oleh sebagian pihak yg telah meyakini kebenaran dirinya adalah absolut, menganggap paling benar sendiri, yang lainnya salah. Apalagi jika sudah disisipi “truth claim” pada agamanya.  ini yang melatarbelakangi munculnya tudingan, hujatan kafir, ahli neraka dan lain-lain. Memang menyakini bahwa ajaran agama kita  yg benar adalah Hak, tapi bukan berarti kita menafikan agama atau ajaran yang lain.

Sudah saatnya pola pikir inilah yang seharusnya kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di bulan Puasa ini. Secara substansi merangkum dimensi personal dan sosial sekaligus ini menjadi ukuran kepatutan dan nilai  kepantasan Salehnya seseorang.

Jangan hanya mendapat sebutan ustadz lalu menunjukkan kesalehan ritualnya semata tanpa melakukan kesalehan sosial. Jadi ukuran kepantasan untuk seseorang disebut Saleh sangat penting adanya. Karena konsep kesalehan pada seseorang berbeda-beda, sesuai dengan porsinya masing-masing. Misalnya perbedaan ulama dan polisi dalam ukuran kesalehannya. Ulama yang baik yang punya ukuran nilai kepantasan. Sebutan ustad atau ulama yang mendadak melekat pada diri seseorang seharusnya menunjukkan kesalehan Pribadi dan sosial nya. Jangan sampai menjadi  ustadz yang bermoral dalil teks  Al-Quran dan Hadits terjemahan sedikit-dikit  menghujat, menkafirkan, membid’ah kan sesuatu yang tidak ada di zaman nabi, dan lain-lain. Sementara itu, Polisi yang baik bukan polisi yang terus wiridan, ibadah demi mdnunjukkan kesalehan pribadinya sampe lupa kerja untuk masyarakat.

Nursodik El-Hadee

(Alumni Santri Dari Al Tauhid Arjawinangun, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang)

 

Comments

comments