Psikologi Pengurus

0
1146

Setiap lembaga, instansi, bahkan organisasi sudah barang tentu memiliki struktur kepengurusan yang di fungsikan sebagai roda penggerak menuju apa yang di cita-citakan oleh oraganisasi tersebut, juga memiliki visi dan misi yang jelas dalam menentukan arah yang akan ditempuh selama periode dalam batas waktu yang ditentukan dalam rapat pleno yang memunculkan kesepakatan waktu kinerja dalam periode yang ditentukan, dan struktur diharapkan tersebut berjalan dalam teritorial yang telah di mufakatkan dalam rapat atau sidang seperti  dalam pesantren, juga memiliki organisasi yang di bentuk dan di syahkan oleh pengasuh pesantren tersebut dan dalam rangka membantu pengasuh pesantren dalam mengarahkan santri-santrinya menuju arah yang lebih baik, baik secara moral juga intelektual, sehingga dalam menjalankan visi dan misinya akan jelas terarah, kemana akan pergi dan menuju perubahan bagi para santrinya dalam rangka menganut Undang-Undang Dasar Indonesia yang di sounding setiap seremoni upacara bendera : “mencerdaskan kehidupan bangsa”, hal ini ada bukan tanpa sebab juga alasan yang kuat, bahwa dalam pesantren terdapat santri yang senior dan junior, sehingga sebagai senior atau yang sudah berdomisili lama di pesantren tersebut di kenai taklif ijtima’i (pembebanan sosial) sebagai wadah tanggung jawab individu terhadap sekelilingnya juga melatih ke-peka-annya terhadap sekelilingnya, seperti batasan ketika ia sudah 3 tahun lebih berdomisili di pesantren tersebut, atau juga bila ia seorang junior yang memiliki jiwa kepemimpinan maka tidak menutup kemungkinan di angkat sebagai kadidat pengurus kedepannya, maka akan di angkat sebagai pengurus pesantren di bidang tertentu dengan pertimbangan-pertimbangan saat rapat santri yang senior untuk menciptakan regenerasi yang berkelanjutan yang nantinya akan di jadikan suatu pengalaman berharga saat kembali ke daerah asalnya masing-masing dalam membina masyarakatnya.

Apa yang telah di amatkan kepadanya sebagai pengurus dalam bidang tertentu mestilah di aplikasikan dalam sistem pendidikan pesantren yang penuh kearifan dan ke-bijak-an. Dalam struktur tersebut pemimpin pondok pesantren berada di bawah pengasuh pesantren yang memiliki otoritas penuh terhadap pesantren, hingga kepala pondok atau lurah pondok memiliki wilayah otoritas yang berbeda dengan pengasuh pesantren, keberbedaan tersebut dikarenakan bahwa di bawah kepala pondok terdapat badan-badan yang menangani masalah yang terdapat di pesantren seperti bidang keamanan, kebersihan,  jam’iyah, juga Sarana dan Prasarana (SasPran). Tak ayal jika pengurus dianalogikan atau qiyaskan dengan pemerintahan dalam sebuah negara yang di dalamnya terdapat badan-badan pemerintahan yang saling bersinergi antara yang satu dan yang lainnya yang memiliki tujuan kemaslahatan bersama bagi kesejahteraan dan kemakmuran bersama, pengurus juga idealnya seperti itu, mesti memiliki tujuan yang sama antara satu tertentu dan pengurus yang lainnya. Sehingga dalam kesehariannya selalu terpatri dalam hati dan pikiran pengurus dalam menghidupi pesantren (ngurip-ngurip pondok) bukan sebaliknya (hidup dari pesantren), hal ini senada dengan yang di katakan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj dalam salah satu ceramahnya, bahwa “jangan hidup dari NU tapi hidupilah NU”. Sehingga dalam pksikologi sosialnya apabila santri senior selalu menuntut haknya tetapi melalaikan bahkan apatis terhadap apa yang di amanatkan kepadanya sebagai pengurus atau santri senior tetapi tidak masuk dalam struktur kepengurusan, maka perlu adanya penataan ulang dalam menjemen kepengurusannya. Toh, ini bukan untuk kepentingan pribadi melainkan untuk kemalahatan bersama : kemajuan pesantren.   Pengurus senior tentunya telah belajar tentang kaidah fiqh atau teori hukum, yang salah satunya menyatakan bahwa :

المصلحة العا مّه مقدّ مة على المصلحة الخصّه

“Kemaslahatan umum di dahulukan dari pada kemaslahatan pribadi”

Sehingga dalam kepengurusan bersama-sama mencoba mendahulukan kepentingan, kebutuhan, dan kewajiban santri-santri juniornya, hal ini di implementasikan dengan saling mengingatkan dalam segala bentuk aktivitas keseharian para santri seperti sholat jama’ah, madrasah, musyawarah, dan piket kebersihan, yang manfaatnya di rasakan bersama-sama. Bukan mengatur, tetapi membimbing ke arah yang lebih baik sesuai apa yang ia cita-citakan dalam kehidupan dimasa mendatang.

Sejatinya pengurus bukanlah sebuah kekuasaan yang dibangun oleh rasa ego dan megalomaniak atas lamanya ia berdomisili atau tingginya jenjang pendidikannya, melainkan bahwa pengurus adalah sebuah badan atau wadah yang memabantu para santri : pembantu. Sehingga apabila terdapat sesuatu yang diinginkan,butuhkan oleh para santri bisa melalui pengurus dengan cara melakukan koordinasi dan komunikasi yang baik. Dan sebagai pengurus ia tidak bisa menggunakan haknya secara sewenang-wenang (abriter)dalam menangani sebuah problem atau permasalahan santri/masyarakat, apalagi mengunakan cara-cara yang represif, sehingga menimbulkan keretakkan dalam santri/masyarakat pesantren yang berimbas pada ketidaknyamanan santri dan kesenjangan dalam pertemanan dan apa yang dicita-citakan bersama oleh pengurus dalam memajukan juga mensejahterakan pesantren terbengkalai. Adanya agenda rapat dan evaluasi setiap bulannya merupakan representasi atas aksi kinerja selama satu bulan tersebut, juga dengan melakukan pembenahan terhadap kinerja mana yang perlu di perbaiki dan apa yang harus di revisi dari program kerja yang dulu dicanangkan/agenda bersama, seperti yang di pelintir oleh Jhon Locke (1632-1704) bahwa “bahwa yang mengatur hukum dalam masyarakat adalah hasil persetujuan individu (santri) yang menjadi satu badan (pengurus) harus berjalan satu arah, adalah perlu bagi badan tersebut dengan kekuatan besar yang dimilikinya, yaitu kesepakatan mayoritas, dan jika ini tidak mungkin ia harus bertindak sebagai, dan terus menjadi, satu badan”.

Dengan demikian kepengurusan akan berjalan sesuai apa yang dikehendaki bersama dan tercapai apa yang dijadikan visi dan misi dalam sebuah periode kepengurusan atau pemerintahan.

والله أعلم

Badar Atas, 01 Maret 2016

Arjawinangun, Cirebon

Comments

comments