Pon. Pes. Dar al-Tauhid; Kelola Madrasah hingga Pendidikan Luar Biasa

0
2909

Pondok Pesantren Dar al-Tauhid al-Islami atau Pondok Pesantren Dar al-Tauhid berada di Desa Arjawinangun, tepatnya di Jalan KH Syathori Nomor 10-12 Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat. Pondok Pesantren Dar al-Tauhid didirikan KH Sanawi bin Abdullah bin Muhammad Salabi. Tanggal, bulan, dan tahun didirikannya tidak tercatat, tapi diperkirakan pada awal abad XX, karena KH A Syathori, putra KH Sanawi bin Abdullah pulang dari pengembaraan mencari ilmu pengetahuan tercatat pada tahun 1932, kemudian memimpin pesantren.

Dalam hal akademi pesantren, latar belakang pendidikan KH A Syathori sangat beragam. Awalnya beliau nyantri di Pesantren Kuningan pada KH Shobari, nyantri ke Pesantren Babakan Ciwaringin pada Kiai Ismail bin Adzra bin Nawawi dan Kiai Dawud, nyantri ke Pesantren Asmoro Majalengka pada KH Abdul Halim, lalu nyantri ke Pesantren Jamsaren Solo pada KH Idris dan terakhir ke Pesantren Tebuireng Jombang pada KH Hasyim Asyari (pendiri NU).

Ayat al Quran dan Kapur. Keragaman pendidikan pesantren ini menjadi dasar untuk melakukan perbaikan dan pengembangan sistem pendidikan pesantren yang menjadi amanah KH Sanawi bin Abdullah. Untuk sistem pendidikan pesantren, KH A Syathori menggunakan metode yang sudah popular di kalangan pesantren, yaitu halaqoh atau yang dikenal dengan bandongan dan sorogan. Di samping itu juga mengenalkan sistem madrasah (klasikal).

Proses pendidikan pesantren dilakukan dengan penjenjangan pembelajaran dengan menggunakan sebutan sifir awal (nol pertama), sifir tsani (nol kedua), dan sifir tsalits (nol tiga). Tiap sifir mempunyai tiga jenjang A,B, dan C sehingga semuanya berjumlah sembilan jenjang. Sebutan ini pada perkembangan selanjutnya dekenal dengan istilah Ibtidaiyah (enam tahun), dan Tsanawiyah (tiga tahun).

KH A Syathori melakukan pengembangan dan pembaruan, baik fisik maupun akademik pesantren. Pertama kali didirikan Madrasah Wathaniyah yang bisa berarti sekolah nasional atau sekolah lokal. Disebut demikian di antaranya karena pembantu/pengajar pada waktu itu sepenuhnya dari daerah lokal (abna al-wathan) sekitar pesantren. Atau untuk mengenang perjuangan kebangsaan (wathaniyah) yang dikobarkan KH Hasyim Asyari bersama ulama-ulama lain, termasuk KH A Syathori.

KH A Syathori juga melakukan renovasi bangunan fisik pesantren yang semula hanya satu dua kompleks, kemudian berkembang menjadi delapan kompleks. Nama-nama kompleks pesantren menggunakan abjad Latin A, B, C, D, E, F,G, dan H. Tidak menggunakan nama atau abjad Arab. Dibangun pula mushala di tempat yang lebih luas. Sementara mushala lama dijadikan kompleks asrama dengan nama kompleks H.
Ada suatu peristiwa yang sangat menarik dan pantas dicatat, yaitu tatkala KH A Syathori mengenalkan sistem madrasi. Sistem madrasi menggunakan ruangan, kapur, dan papan tulis. Beberapa tokoh masyarakat sempat protes karena ayat-ayat al Quran dan teks-teks hadis ditulis dengan kapur yang kemudian dihapus dan debuanya beterbangan ke lantai.

Kejadian ini oleh sementara tokoh-tokoh masyarakat dianggap merupakan bentuk penghinaan kepada al Quran dan hadis. Tetapi KH A Syathori berhasil meyakinkan mereka bahwa pendidikan adalah cara terbaik untuk mengagungkan al Quran dan meresapkan ayat-ayatnya pada hati murid-murid, sedangkan yang beterbangan adalah debu-debu kapur belaka. Mungkin karena kekuatan argumentasi atau mungkin karena ketokohannya, akhirnya mereka dapat menerima pendapatnya.

Tatkala KH A Syathori wafat pada 19 Februari 1969, umur putra beliau (KH Ibnu Ubaidillah) baru 20 tahun dan sedang melakukan proses belajar. Untuk sementara waktu pengelolaan Pesantren Dar al-Tuhid dipegang bersama-sama para menantu, yaitu KH A Badlawi, KH Muhammad Asyrafuddin, dan KH Mahfudz Thaha, Lc.

KH Ibnu Ubaidillah lahir di Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat pada 10 Mei 1949. KH Ibnu Ubaidillah nyantri ke berbagai pesantren sebelum akhirnya menemukan pesantren yang sesuai dengan keinginannya, yaitu Pesantren KH Muslih di Tanggir Tuban, Jawa Timur Selama enam tahun beliau belajar di pesantren ini, dan kemudian melanjutkan belajar ke Makkah al-Mukarramah dalam asuhan Syekh Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki selama dua tahun.
Setelah kembali ke tanah air pada tahun 1982, KH Ibnu Ubaidillah memegang pimpinan pesantren dibantu oleh kakak-kakak dan keponakannya, yaitu Dr KH Khozin Nasuha; KH Husein Muhammad; KH A Zaeni Dahlan; KH Hasan Thuba; Dr KH Ahsin Sakho; Kiai Luthfillah Baidlawi, dan KH Mahsun Muhammad, MA.

KH Ibnu Ubadillah juga melakukan renovasi bangunan fisik pesantren. Pada awalnya pesantren ini dikenal dengan sebutan al-Mahad al-Islami, kemudian KH Ibnu Ubaidillah mengganti namanya menjadi Mahad Dar al-Tauhid al-Alawi al-Islami, dan terakhir disederhanakan menjadi Mahad Dar al- Tauhid al-Islami. Beliau juga melakukan beberapa perubahan dan perkembangan dalam sistem pendidikan pesantren. Berbagai lembaga-lembaga lain non-pendidikan, juga tumbuh subur melengkapi detak kehidupan santri-santri di pesantren.

Lembaga pendidikan

Pesantren Dr al-Tauhid memiliki lembaga pendidikan dan lembaga non-pendidikan (ekonomi dan sosial). Lembaga pendidikan terdiri dari Madrasah Diniyyah Dar al-Tauhid dari tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Madrasah Tahfidz al-Quran; Markaz Talim al-Lughah al-Arabiyyah; Majelis Talim Kaum Ibu; Madrasah Aliyah Nusantara (kurikulum Depag); SMP Maarif (kurikulum Kandepdikbud); Taman Kanak-kanak Islam Wathaniyah; TKA/TPA Dr al-Tauhid; Sekolah Luar Biasa, sub A (Tuna Netra); sub. B (Tuna Rungu) sub. C.

Sistem pendidikan pesantren, yaitu salafi (tradisional) dan ashri (modern). Salafi untuk merujuk pada tradisi pembelajaran yang tidak mengikatkan santri pada kelas-kelas, jenjang gradasi dan kurikulum. Pembelajaran hanya dilakukan dengan cara sorogan (kiai membaca suatu kitab dan santri-santri mencatat keterangan sang kiai) dan bandongan (santri satu per satu membaca kitab di depan kiai). Sementara ashri merujuk pada sistem klasikal yang memiliki penjenjangan dan mendasarkan pada kurikulum. Kedua sistem ini dipraktekkan dalam aktivitas pembelajaran di Pesantren Dar al-Tauhid.
Pengajian dengan sistem salafi dilakukan pada saat-saat santri tidak memilki jadwal belajar di kelas, seperti pagi hari setelah shalat subuh atau sore hari menjelang shalat magrib, atau dikhususkan untuk santri-santri senior yang sudah tidak memiliki kewajiban jadwal belajar di kelas. Yang ketiga ini merupakan proses awal dari tradisi pendidikan tinggi di pesantren (mahad ali). Sistem salafi juga digunakan untuk pengajian kitab-kitab kuning pada setiap bulan puasa yang dikenal dengan sebutan pasaran.

Santri terdiri dari putra dan putri berjumlah sekitar 725 orang. Dari jumlah ini yang mukim sebanyak 540 orang. Asal daerah santri beragam, terbesar dari daerah Jawa Barat, utamanya Cirebon dan Indramayu. Ada juga santri dari DKI Jakarta.

Fasilitas pesantren berupa gedung sekolah dan asrama santri. KH Ibnu Ubaidillah mengganti nama-nama gedung asrama yang semula menggunakan abjad Latin diganti menjadi Badar, Uhud, Hudaibiyah dan Khandak (asrma santri putra), sedangkan asrama santri putri gedung lama bernama Umm Kaltsum dan gedung baru Fathimah al-Zahra (lambang keteguhan, kepatuhan, kemandirian, dan kesabaran).[]

Sumber: http://kbi.gemari.or.id

Comments

comments