Pesantren dan Budaya Pemiskinan

0
1234

Berawal dari sebuah keingintahuan akan pengalaman yang terus mendamba dan mengisi sebuah sisi imajiner manusia dalam menapaki kehidupan dan silih bergantinya sebuah pengalaman serta pengetahuan. Tentunya, kedua hal tersebut dijadikan sebuah modal untuk kehidupan selanjutnya. Jika dalam kalkulus ekonomi, hal ini lebih tepat dikatakan sebuah investasi. Hingga terlalu banyaknya pengetahuan yang diterima manusia, kadang menjadikannya lebih matang dan lebih arif dalam menapaki dunia yang fana ini. Tidak jarang hal ini malah menjadi paradoks yang turut menjadikannya semakin serakah dan semakin buas terhadap sesamanya. Klise pengetahuan bila dalam term ushul fiqh dikenal dengan kata nasikh wa mansukh atau meminjam bahasa Marxis-nya ialah negation der negation, yang kemudian menjadikan alam pikiran manusia kadang terus dalam fase labil, terlebih dalam mengambil sebuah keputusan. Dengan pengalaman dan pengetahuan pula manusia akhirnya membuatnya akan memberikan sebuah surplus dalam ruang kehidupannya. Seperti penghargaan masyarakat dan memiliki derajat yang tinggi dari yang lainnya, yang tentunya mereka atau manusia sekitarnya yang menjadikannya memiliki derajat yang tinggi atau buruk sama sekali.
Hari berlalu begitu saja dalam segmentasi pendidikan yang mengendap akhir-akhir ini, salah satunya di pesantren. Pesantren adalah lembaga yang memiliki validitas dalam menjamah tiga kerangka filsafat dan menjadikan seseorang menuju kearifan secara pengetahuan dan kelakuan. Hingga kadang pesantren mencuatkan tokoh-tokoh yang dikultuskan sebagai seseorang yang membawa seseorang yang mampu mebawah manusia lainnya.
Dalam tubuh pesantren sendiri jika dikatakan pesantren ialah objek, maka kurang tepat, karena pesantren ialah sebuah absrtaksi dari diri sebuah wujud konkrit sebuah terminologi awal jenjang pembelajaran manusia. Apabila objek ialah pondok itu sendiri, kata tersebut mafhum dalam terminologi yang berkaitan dengan sebuah tempat, dan berasal dari bahasa funduk atau tempat.

Event Perlombaan pra-Imtihan 2016
Event Perlombaan pra-Imtihan 2016

Pesantren dalam realitasnya ialah sebuah wadah bagi mereka yang hendak belajar menggali ilmu pengetahuan agama pada umumnya. Akan tetapi, dengan rotasi kehidupan yang kian curam dalam rivalitas pada era global dan sumber daya manusia (SDM) yang kian terdegradasi dan memprihatinkan dari segi kualitasnya, maka pesantren kini tidak hanya berkewajiban membimbing peserta didiknya, yaitu santri. Pada penyebutannya, santri ditelisik dari track record hanya dikaitkan dengan keagamaan semata. Namun pada kali ini, santri juga bisa dikaitkan dengan upaya literasi dan aksi nyata. Dinamika keseharian santri disibukkan dengan aktifitasnya yang selalu bergelut dengan keilmuan, baik dari sisi pendidikan keilmuan yang bersifat religi dan juga duniawi (baca: fomal & non-formal). Hal ini membuat mereka memiliki nilai lebih dalam sebuah sudut pandang masyarakat ketika pulang dari pesantren. Akan tetapi, kesiapan dan persiapan untuk hal ini tidaklah sesingkat jenjang pendidikan yang dijalani seorang santri. Karena sebuah proses belajar memiliki makna luas dan mengisi sub-sub pesantren dalam proses tersebut. Terdapat life skill yang harus diasah secara simultan untuk persiapan santri pada masa yang akan datang. Mengingat orientasi pesantren bukanlah melulu menjadikan santrinya sebagai pemuka agama (fundis) di desanya masing-masing. Karena dengan hal itu, pesantren idealnya harus menyiapkan sebuah wadah yang mampu menampung segala kreatifitas santri, baik dalam bidang seni, mekanika, atau juga yang lainnya. Sehingga dalam kemelut pergulatan roda perekonomian setelah para santri kembali ke rumahnya tidak terjadi kebingungan pasca pesantren dalam mendulang perekonomiannya dan tidak terjerumus dalam arus urbanisasi seperti pada umumnya.
Dalam tiga aspek pendidikan, baik sisi afektif, psikomotorik, dan kognitif telah dilakukan oleh pesantren. Pendidikan karakter juga telah diaplikasikan oleh pesantren sejak dulu. Terminologi sosial juga telah menjiwai alam pikiran seluruh santri. Maka dalam hal ini, pesantren telah sejak lama mengaplikasikan pendidikan yang dicanangkan oleh dunia pendidikan formal, baik dalam lembaga pesantren atau juga dalam keseharian para santrinya. Dalam teorama budaya, pesantren telah sejak lama memodifikasi dirinya dalam khazanah di luar mainstream kehidupan manusia pada umumnya. Karena hal, mereka menerapkan nilai-nilai asketis seperti zuhud atau qona’ah. Betapa tidak, realitas dalam pesantren telah mengatakan bahwa mereka terbiasa tidur di tempat yang tidak layak secara medis misalnya di tempat yang terbuka dan tanpa alas untuk melindungi tubuhnya dari cekaman angin malam. Atau budaya meminum air bukan dengan gelas tapi dengan gayung yang kadang merinding dalam kaca mata masyarakat umum dengan berbagai alasan. Dalam hal demikian, pandangan santri tentu berbeda karena dalam ilmu terdapat sebuah term teologi adat dan hakikat yang kadang menyertai kosmologi pesantren yang membuat para santri berbeda pada umumnya.
Perbedaan adalah sebuah fitrah dalam kehidupan. Bhineka Tunggal Ika yang dipegang teguh oleh bangsa ini telah diterapkan oleh pesantren yang menjadi cikal bakal dari perbedaan tersebut. Pesantren juga mengajarkan secara intensif akan sebuah toleransi sejak awal. Seperti dalam diskursus fiqh yang terkandung banyak sekali ikhtilafdari imam madzhab yang menulisnya. Signifikansi dari pembelajaran tersebut ialah aplikasi terhadap apa yang didapat manusia, santri khususnya yang telah menerapkan indahnya perbedaan tersebut.
Hal di atas yang berkaitan dengan budaya dalam pesantren tentu sering ditemukan dalam ranah grass root,karena dalam pesantrenpun tidak lepas akan adanya strata sosial yang membedakan santri junior dan senior. Sebagai contoh dalam munada atau panggilan dalam pesantren biasa menggunakan kata ’kang’ untuk yang senior dan de’, nang, cung atau yang lainnya. Pada penyebutannya tergantung wilayah geografis. Dalam kesehariannya, para santri sering mendengar kata pengurus. Pengurus didaulat oleh pesantren untuk memobilisasi para santri menuju arah yang yang diharapkan oleh para wali santri serta kiai, dan masyarakat pada umumnya. Melalui bimbingan pada kesehariannya, pengurus khususnya, telah menciptakan sebuah sistem dan menerapkannya secara konsisten sesuai dengan mandat dan wilayah otoritasnya masing-masing. Namun dengan sedemikian kompleksnya pesantren telah mempersiapkan santrinya dalam jenjang perpolitikan, atau untuk menangani masalah sosial yang berkaitan dengan kemaslahatan semua manusia, seperti pembelajaran untuk menangani para santri yang sedemikian banyak dan tentu harus mengorbankan kepentingan dirinya (baca: altruis). Kepengurusan tidaklah berbeda secara konotasinya dengan politik yang ia (politik) ialah ‘the art of possible’, dan tentu erat kaitannya dengan seni, yaitu seni dalam sebuah menjemen. Seperti tercermin dalam rapat kepengurusan yang dilakukan secara simultan dan pengurus tersebut “Harus secara penuh memperhatikan keinginan mereka (santri); menghormati pendapat mereka, memperhatikan masalah mereka. Dan sudah menjadi kewajibannya untuk mengorbankan waktu luangngnya, kesenangannya, keinginannya demi kepentingan mereka, dan hal ini menjadi utama”. begitu kira-kira dalam perspektif Edmund Burke (1729-1779). Hal ini menjadi krusial ketika demikian tidak melekat dalam nafas kepengurusan pesantren yang telah banyak mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan serta tanggungjawabnya sebagai manusia. Dalam terminologi ushul fiqh telah disebutkan mengenai sebuah taklif atau pembebanan kepada manusia, seperti yang tercermin dalam lima rukun Islam. Namun hal itu belakangan hanya dipahami sebagai pembebanan yang bersifat personal, bukan universal. Jika taklif tersebut ditarik maknanya dalam ranah sosial, maka ia akan mengalami signifikansi terhadap makna tersebut, seperti taklif ijtimai’ atau pembebanan sosial. Hal ini mengacu pada beberapa aspek dalam lingkup kehiduapan yang sedang ditapaki dan yang akan dilalui.
Sistem pendidikan pesantren yang tradisional atau salaf dalam penyebutanya, telah banyak mengajarkan berbagai diskursus keilmuan seperti yang telah disebutkan diatas. Pastinya pada segmen pendidikan, ilmu bukanlah sebuah pengantar manusia dalam menguasai segala sesuatu (tamak, serakah, dan mengeksploitasi). Akan tetapi, ilmu adalah sebuah alat dalam mencapai kebahagiaan, kemakmuran, dan kenyamanan. Sehingga dengan hal ini, taklif ijtimai’ yang sangat jarang diangkat dalam kehidupan pesantren menjadi urgen dalam penjiwaannya (self determination).

13221024_1304983669531026_5603045527581278113_n(1)
Taklif ijtimai’ sebagai tanggung jawab semua manusia kepada sesamanya, alam, bahkan hewan sekalipun. Kepengurusan atau dewan parlemen dalam sebuah negara haruslah mentransformasikan taklif tersebut dengan memodifikasi maknanya. Contohnya istilah Wajib biasa di definisikan sebagai “Segala sesuatu yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan mendapat dosa/siksa”, dimodifikasi menjadi pemaknaan yang bersifat sosial “Segala sesuatu apabila dikerjakan mendatangkan manfaat,dan jika ditinggalkan mendatangkan bahaya”. Hal ini perlu, selain menjadi sebuah kontrol terhadap pesantren sendiri, juga sebagai tendensi saat para santri telah pulang ke rumahnya masing-masing.
Dengan cara mentransformasikan teori-teori dalam literatur klasik tersebut, maka khazanah pesantren tidak pernah habis baik pengajiannnya bahkan dalam kajiannya. Titik tolak dari representasi pesantren sebagai sebuah implementasi nyata dalam sebuah praktis kenegaraan dan kebudayaan menjadi sorotan oksidentalis dalam beberapa dekade kebelakang. Kembali pada titik awal bahwa dalam sistem kepengurusan pesantren tidak bisa di pisahkan dari makna politik yang senantiasa menyelimuti alam sebuah bangsa dan negara.
Pesantren bukanlah melulu sebuah lembaga atau instansi yang berbasis keilmuan yang bersifat ukhrawi saja. Tetapi lebih kompleks dengan sebuah sistem yang memobilisasi sebuah sistem dalam menghantarkan santrinya kepada euforia “sukses” atas distribusi terminologi khazanah kitab klasik atau lebih akrab dengan penyebutan kitab kuning/kitab gundul. Namun dalam internal pesantren sendiri belum mampu menghadirkan khazanah fiqh syiasah sebagai pisau bedah analisis terhadap masyarakat dalam lingkup kehidupannya. Dalam teorikal, fiqh syiasah langsung diimplementasikan pada pesantren oleh kepengurusan dalam pesantren. Sehingga jika hal itu telah diterapkan pada kurikulum pesantren, maka sudah sharih (jelas) pesantren tersebut mampu dalam menjawab sebuah tantangan akan isu global dalam skema politik negara yang carut-maurut seperti saat ini. Dengan sebuah tujuan kemaslahatan bersama (general adventage) mengacu pada Jeremy Betham bahwa “Manusia tidak boleh dicampuri dalam upaya mereka mengejar kesenangan selama tindakan tersebut tidak mengurangi kebahagiaan total dari masyarakat”. Representasi dari term ushul fiqh telah dipelajari dalam pesantren dan implementasi nyata pada skema kepengurusan. Maka sudah menjadi titik urgensi pesantren dalam memenuhi tantangan global yang kian mencengkram kelas mustdzafin atau proletariat dalam masyarakat di kemudian hari nanti. Juga dalam menimbang kembali keputusan pesantren dalam memobilisasi para santrinya, serta menganalisis sebuah kebijakan yang diputuskan pesantren. Mengingat sebuah aturan harus kompatibel dengan kondisi sosial baik aspek geografis, antropologis, tipologi masyarakat sekitarnya. Dan mengacu pada teroritis dari term ushul tersebut, seperti:

” تغيّرالأحكام بتغيّر الأزمنة والأحوال والفوائد والنّيات “

“Perubahan hukum mengikut isebab berubahnya zaman, situasi, adat, dan niat.”

Pada hal ini pengurus pesantren harus mampu menerapkan posisinya sebagai organisasi yang mengawal sebuah garda pada kehidupan masyarakat dalam lingkup kecil, pesantren misalnya. Karena dalam pesantren mau tidak mau tidak terpisah dari sebuah lapisan, seperti santri junior dan santri senior dalam tubuh pesantren. Maka dalam skema dikotomi tersebut sering terjadi gesekan sosial atau chaos dalam wacana anarkisnya, karena terkadang kebijakan yang diterapkan oleh pesantren belum melalui mufakat seluruh kepengurusan akan tetapi hanya seogolongan saja misalnya. Pada dasarnya, asas musyawarah sudah lama diterapkan dalam pesantren, akan tetapi dalam mengambil kebijakan tersebut kadang tidak melalui proses tersebut. Menimbang kesejahteraan pesantren juga harus melingkupi para santri tanpa terkecuali:

المصلحة العا مّه مقدّ مة على المصلحة الخصّه

“Kemaslahatan umum didahulukan daripada kemaslahatan pribadi”

Dengan ini pesantren telah menandaskan sebuah ideologi dengan asas kemaslahatan bersama, dengan karya, dengan kerja nyata, dan tidak hanya berkubang pada retorika yang tiada kunjung habis, dalam skema materi dari literatur klasik.
Pramoedya Ananta Toer menegaskan dalam Jejak Langkah “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah peguasa dengan perlawanan”, dan konotasi perlawanan bukan semata-mata ditafsirkan dalam konotasi negatif seperti memberontak, membangkang, atau membelot sekalipun. Namun pelawanan sejatinya ialah sebuah keadaan yang memaksa seseorang harus keluar dari sebuah keadaan yang telah keluar dari koridor norma dan estetika kehidupan. Tentu pesantren memulainya dengan sebuah organisasi kepengurusan yang pada sisi teologis dan antropologisnya sampai pada setiap individunya (santri).
Dengan konotasi khidmah atau berdedikasi kepada sebuah tempat yang telah memberikan banyak bekal untuk kehidupan. Karena begitu lekatnya tabarukkan atau lebih dikenal ngalap barokah kepada pengasuh pesantren (Kiai). Hal ini merupakan persiapan para pengurus secara individu dalam mengorganisir sebuah masyarakat pada saat mereka kembali ke kampung halamannya. Sehingga dengan ini timbul pertanyaan: Apalah artinya jika apa yang didapat ketika di pesantren tidak dilakukan di rumah? Apa arti nasionalisme terhadap desanya masing-masing, jika toh akhirnya harus berpaling dari garis nasionalisme itu sendiri? Mengingat desa adalah objek vital kapitalisme yang begitu urgen dan rentan disusupi kepentingan penguasa, baik agama, budaya, ekonomi, bahkan pendidikan sekalipun. Sehingga peran santri yang progresif begitu dibutuhkan, guna menjaga sebuah tradisi yang mulai teralienasi di tengah hiru-pikuk hedonisme, dan pragmatisme seperti pada saat ini. dan juga mengembalikan sebuah citra santri dalam lingkup kehidupan dengan stigma yang melekat dalam jiwa santri tersebut, seperti hanya mampu berkutat pada segmen teologis semata.
Perlawanan terhadap agresi pemiskinan yang mendiskreditkan mental, budaya, ilmu, bahkan ekonomi dan politik sekalipun idelanya telah ditanamkan sejak dini di pesantren, bukan tidak mungkin, dengan setoran hafalan dan punishment yang beragam telah mewakili pembentukan mental dan moral setiap para santri tersebut. Atau dengan makan bersama (baca: mayoran) telah merepresentasikan cara hidup bersosialdengan mental sama rata, sama rasa. Hal sepeti ini membuat pesantren semakin menjadi sebuah lembaga pendidikan yang urgen ditengah kemelut kehidupan bermasyrakat yang tentu semakin menghawatirkan pada setiap sendi-sendinya.

Pojok Badar Atas, 31 Mei 2016

Comments

comments