Pemuda Desa Yang Sakit (Desa Luka Negara)

0
2861

DSCF9928Semenarik ini Indonesia dengan segala keragamannya juga dengan dengan puspawarnanya dalam ruang dimensi keberagaman suku, ras, bahasa, dan agama menjadi sebuah pelangkap dalam sebuah bangsa yang dalam dalam karya Otto Bauerlah menyatakan “bangsa ialah sebuah persatuan perangai yang terjadi dari persatuan hal-ikhwal yang terjalani oleh rakyat itu”, dan tak lekang oleh waktu dan deburan ombak besar dalam segmen politiknya, meski dengan politik gaya baru atau adopsi dari “tamu kurang ajar” dengan politik Etisnya yang meninabobokan semangat perjuangan kala itu, belum lagi politik Swadesinya.
Lebih meneropong jauh dari semua kesemerawutan itu, Bangsa yang kukuh dengan nyala api nasionalismenya mampu bernegasi dari sekedar taklid terhadap luapan omong kosong fraksi yang semakin tidak menentu arah kebijakannya, lebih dari membuat rakyat sengsara dan nir-kesejahteraan seperti yang selalu menjadi manuver sakti ketika pesta demokrasi berlangsung, segudang muslihat dilancarkan demi sepenggal kepentingan individu dan golongannya yang tidak lain dari tameng akan rasa kekhwatiran tidak terpenuhinya nutrisi dalam tubuhnya (baca:takut miskin/kelaparan), peduli apa dengan pendidikan rakyat, peduli apa dengan kesehatan rakyat, dan kesejahteraan adalah ilusi dalam hakikatnya. Meski dalam usahanya selalu memanfaatkan sektor-sektor krusial dalam negri, tetapi kesemuanya tidak lebih dari pencitraan yang secara langsung akan memiliki posisi di hati rakyat yang telah terbuai dengan janji palsunya, dengan donasi dan kunjungan berkala yang di agendakan oleh setiap fraksi merupakan sebuah representasi dari awal kesengsaraan rakyat yang “memang” di tunda. Karena apa yang harus diperjuangkan? Berbicara ideologi? Atau kemaslahatan hanyalah sebuah reruntuhan retorika yang berahir pada kubangan-kubangan aspal saat menjamu pancaroba. Semuanya telah diberangus atasnama kepentingan dan kebutuhan, pribadi atau golongan demi dapur yang harus mengepul. Bhineka Tunggal Ika tidak hanyalah logo beku tanpa falsafah, pada hari ini. Varietas kebencian, keserakahan, dan ketidakmasukakalan telah ditanamkan sejak dini melalui pelulusan sensor televisi yang tidak layak, namun kini mampu menjadi preseden bagi rakyat, dan terbukti sekarang muncul pemuda bermentalitas pabrikan dan sektarian agama yang “unyu-unyu” yang hanya mampu menebar terror dan bertindak anarkis dengan alasan yang mendiskreditkan ke-Bhineka-an tadi, dan sama sekali belum mampu melaksanakan dua dari sebuah teori hukum yang terlanjur masyhur.
المصلحة العا مّه مقدّ مة على المصلحة الخصّه
Pada sektor makro sudah terjajah oleh imprealisme gaya baru, bernama kapitalisme yang mampu mereok aset vital negara, dengan melepaskan BUMN bukan berarti rakyat tidak tau juga diam, tetapi usahanya selalu disekat dan pionirnya di sekap. Dan bukan hal yang heran apabila sektor makro berimbas pada sektor mikro, yang juga “terdzalimi” dengan mahalnya bahan baku untuk produksi perekonomian rakyat. Pada diskursus pedesaan umpamanya, mental dan semangat akan pembangunan mengalami abrasi besar-besaran, dengan adanya arus urbanisasi yang mampu merenggut tombak dari pionir-pionir desa tersebut. Meski dengan kualitas pendidikan rendah dan euforia kemapanan menjadi tolok ukur utama dalam pemberangkatan pemuda tersebut menuju lumbung perekonomian yang “katanya” mampu menolong dapur keluarganya. Akan tetapi dengan rendahnya kualitas pendidikan acap kali mereka dipekerjakan dengan durasi waktu yang tidak balance dengan ujrah atau upah yang diterima, sehingga tidak menutup kemungkinan monopoli terjadi pada level atas, seperti : mandor atau kontraktor, yang dalam usahanya untuk menghisap mereka dalam tumpuan harapan sejahtera “menurut mereka” tersebut. Evaluasi akan fenomena kekerasan baik verbal atau psikis, juga penghilangan nyawa yang menimpa “pahlawan devisa” atau TKI/W hanya tersudutkan dalam meja parlement dan ramai-ramai belupa diri setelah memasuki mobil milik rakyat (inventaris).
Dengan minimnya penegasan dan penekanan pemerintah desa akan pentingnya pendidikan, wajib belajar 12 tahun umpamanya, belum terrealisasikan secara maksimal, sehingga opsi pasca Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama hanyalah dua : menikah atau budak industri. Penanaman bidang usaha kreatif jarang ditanamkan di Desa dan jika ada harus melewati rimba prosedural yang sama sekali awam di kalangan masyarakat desa dan sudah pasti haruslah ada bimbingan dari pihak desa dengan tangan atau kroni-kroninya, sebelum terhegemoni oleh para centeng, cukong, dan tuan tanah daerah setempat, yang secara tidak sadar juga telah menutup akses bagi pemikiran-pemikiran kreatif desa. Hal ini di tutupi dengan di bukanya pasar modern sebagai modal dari pembekuan kekreatifitasan para pemudanya, dan memilih hengkang ke kota sebagai prioritasnya. Sawah dan ladang adalah keengganan untuk di lakukan oleh pemuda tersebut, dengan penolakan yang tidak masuk akal pada sisi argumennya, sehingga dengan leluasanya penjualan tanah untuk di sulap menjadi pusat perbelanjaan atau tempat hiburan yang pasti menghasilkan pundi-pundi rupiah dari usaha penghisapan yang dilakukan pemodal atas tanah milik rakyat tersebut, tetapi ketidaksadaran telah menyeruak masuk dalam fikiran pemuda tersebut, yang sudah mantap hatinya untuk menjadikan sawah sebagai ladang swafoto (baca : selfi) semata.
Dalam arus budaya peran penting pemuda menjadi disfungsi dalam era peralihannya dan dengan adanya kontaminasi atas budaya yang di bawanya dari kota dan di aplikasikan di desanya dan sudah barang tentu menjadi pemandangan yang kontras akan nilai-nilai luhur desa yang telah dipertahankan oleh sesepuh desa sebagai cagar budaya. Tapi ketika paguyuban di ganti dengan perserikatan peminum minuman keras dan tidak tidak lagi mengedepankan etika dan estetika di desanya, yang erat kaitannya dengan agama sebagai identitas kearifan bangsa timur, dan hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Prof. T. L. Vaswani, bahwa “ jikalau Islam menderita sakit, maka tentulah roh kemerdekaan timur sakit juga ; sebab makin sangatnya negri-negri muslim kehilangan kemerdekaannya, makin lebih sangat pula imprealisme Eropa mencekik roh Asia”.
Sebagai tonggak kebangsaan dan kenegaraan yang ditopang oleh pemuda, dan pemuda yang tidak selalu memiliki ketergantungan (baca : mandiri) terhadap siapapun, dan hanya berpijak pada keyakinan-keyakinan dalam dirinya dan cita-cita besarnya, pula, bukan yang selalu menyibukkan diri dengan urusan pribadinya, yang pada ahirnya akan menyeretnya secara perlahan ke lembah kehancuran sebuah bangsa (citra). Dan sudah selayak dan semestinya pemuda dan para pemangku kekuasaan turun tangan atas hal ini, bukan hanya berpangku tangan saat tejadi hal-hal yang semiris demikian.

Selasa, 22 Maret 2016
Pojok Badar Atas (Dar al-Tauhid), Arjawinangun

Comments

comments