Pembahasan Ke-38 Berlari Dari Barisan Perang

0
964

Bab ke-38  ر من الزحفالفرا atau berlari dari barisan perang, mengenai hal ini al-Qu’an telah menyebutnya dalam surat al-anfal ayat 15-18 dengan inti ayatnya yaitumenghilangkan rasa takut terhadap orang kafir, sebuah strategi atau taktik dalam peperangan, hadapi musuh, jangan lari sebab hidup dan mati ada di tangan Allah.

Dalam sub bab pembahasan setiap lafadznya secara tafsili dalam menerangkan isi ayat secara parsial. Seperti :

Zakhfan : ialah seorang laki-laki yang berjalan di dalam kandungan seperti ular atau dalam bahasa peperangan ialah tiarap  “ngseod”,

Adbar : Allah menganalogikan seorang yang berlari dalam peperangan dengan istialah begian belakang (dubur), sehingga berapa pun jumlah tentara maka tidak berarti apa-apa ketika semuanya berlari (pecundang).

Mutaharifan : membunuh, atau sebuah strategi mengeco musuh, karena dalam sebuah hadist menyatakan bahwa  perang ialah siasat          الحرب خدعة.

Mutakhiyyizan : seseorang yang berlari namun untuk berkumpul dalam mengatur sebuah strategi selanjutnya.

Bighadabin : marah atau “bendu” Allah karena seseorang berlari di karenakan rasa kepengecutannya.

Jahanam : sebuah tempat yang jelek atau “ala” dan ini ialah sebuah tempat pulangnya orang takut menghadapi orang kafir.

Mu’hinu kaydi: mendiskeditkan orang kafir dengan penuh rasa percaya diri sebagai orang muslim.

المعنى الإجمالي

Ayat ini di turunkan dalam kondisi kegalauan hati kaum muslimin dalam menghadapi kaum kafir dlam perang Badr pertama tahun ke-2 H sehingga perang badar ialah perang yang membedakan batas demarkasi antara kaum muslimin dan kaum kafir atau di sebut “yaumul furqon”. Karena membedakan antara kedzaliman dan cahaya, kufur dan ingkar. Dan dalam ayat ini Allah memerintahkan kaum muslimin untuk tetap teguh dalam menghadapi musuh walau secara kuantitas jumlahnya lebih banyak, Karena jumlah yang banyak belum tentu menang. Misalkan menang atau kalah seorang muslim akan mendapatkan dua kebaikan yaitu : kebiakan hidup mulia di dunia dan misalkan mati maka seorang muslim akan mati dalam keadaan syahid.

Ada dua keadaan yang memungkinkan seorang muslim tersebut berlari dari barisan perang (vanguard), yaitu:

  1. Karena untuk mengatur siasat atau taktik dengan berlari kearah belakang.
  2. Karena untuk bergabung dengan pasukan atau seradu yang lain.

Namun Allah menyiapkan tempat pulang bagi seseorang pecundang yaitu neraka jahanam karena rasa kepengecutannya dalam menghadapi musuh. Dan Allah menerangkan bahwa seumpama persenjataan lengkap, jumlah pasukan yang banyak meski terlatih namun kesemuanya bukanlah jaminan kemenangan.

Allah adalah yang mengatur segala sesuatu meskipun  kaum muslimin dalam eksistensinya memanah namun sejatinya atau hakikatnya Allah yang menggerakan atau mengatur tangan tersebut dengan segala kuasanya,dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ketika nabi melatih pasukan pemanah nabi mengambil segenggam debu dan kerikil yang kemudian di lemparkan seraya mengatakan :

“شا هت الوجوه ثم رمى بها المشركين فلم يبق أحد منهم إلا وقد أصا به ذلك اليوم منها فدخلت في عيو نهم ثم أمر عليه الصلاة والسلام أصحابه أن يشذوا عليهم فكانت الهزيمة وقتل من قتل من صنا ديد قريش وأسر من أسر من أشرا فهم”

الحكام الشرعية

Menyambung pembahasan kemarin yang sekarang telah sampai pada sub pertanyaan atau al-ahkamu as-syari’yah

  1. Berlari dari barisan perang apakah termasuk dalam dosa besar?

Hukum syar’i hanya membolehkan berlari dari barisan perang hanya di bolehkan dalam dua keadaan seperti yang telah di bahas di atas atau kemarin yaitu berlari karena mengatur siasat dan berlari untuk menemui teman sekelompoknya. Kemudian sunnah juga menerangkan bahwa perbuatan tersebut merupakan dosa besar seperti dlam sebuah hadist nabi :

“اجتنبوا  السبع الموبقات , وما هن يا رسول الله؟ قال : الشرك باالله, والسحر,وقتل النفس التي حرم الله إلا با لحق, وأكل الربا, وأكل مال اليتيم, والتو لي يوم الزحف, وقذف المحصنات المؤمنات”

Dari teks di atas yang merupakan 7 dosa besar ialah : syirik, sihir, membunuh sesama manusia, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari barisan perang, dan menuduh zina.

  1. Berapakan jumlah yang dihadapi seorang tentara muslim saat menghadapi musuh?

Jumlah musuh yang di hadapi oleh seorang tentara muslim ialah seperti yang di sebutkan dalam surat al-Anfal ayat 66. Sebagai bandingan bahwa satu orang tentara muslim harus menghadapi 2 orang tentara kafir. Sebelum ayat ini di mansukh seorang muslim harus menghadapi 10 tentara kafir, namun dengan kasih sayang Allah dan menringankan beban orang muslim karena dalam jumlah yang sedikit maka seluruh umat islam baik laki-laki, perempuan, anak-anak, dan orang dewasa semuanya wajib mengikuti perang.

المغما مرة

Ialah sebuah istilah untuk menyebut seseorang yang berani mengorbankan nyawanya demi kemaslahatan orang banyak, seperti contoh bom bunuh diri dihadapan musuh namun dalam konteks perang. Ada dua pendapat mengenai hal itu : sebagian ulama melarang karena hal itusama saja seperti bunuh diri. kemudian  Ibnu `Arabi membolehkan dengan alasan untuk mengecilkan nyali musuh.

  1. Apakah di bolehkan berlari dari barisan perang dalam keadaan darurat ?

Seperti yang telah di singgung diatas, berlari dari barisan perang hanya di perbolehkan dengan dua alasan. Seperti yang telah diriwayatkan dari Ibnu `Umar Ra. Dengan matan hadits :

“كنا في غزاة فحاص الناس حيصة {أي فر وا أمام العدو} قلنا كيف نلقى النبي ص.م : وقد فرونا من الزحف وبؤنان با لغضب فأ تينا النبي : قبل صلا ة الفجر فخرج فقل : من القوم ؟ فقلنا : نحن الفرا رون. فقا ل : لا بل أ نتم العكا رون فقبلنا يده. فقال: أنا فئتكم وأنا فئة المسلمين ثم قرأ”  الأنفال: ١٦

ما تر شدإليهاالا يات الكريمة

  1. Seorang mukmin yang berjihad di jalan Allah harus mentekadkan bahwa umur adalah kuasa Allah.
  2. Berlari dari barisan perang merupakan sebuah dosa besar karena datangnya tentara musuh merupakan goncangan bagi konsentrasi yang mendatangkan kecemasan dan bahaya.
  3. Tidak diperbolehkan meninggalkan barisan kecuali dalam kondisi yang terdesak.
  4. Kemenangan ada dalam kuasa Allah meskipun di tpoang oleh persenjataan yang lengkap dan pasukan yang terlatih.

“والله أعلم”

Badar Atas, 10,11 Januari 2016

Arjawinangun, Cirebon

 

Comments

comments