Pembahasan ke 37 Surat al-Anfal, ayat 1-4. Hukum Pembagian Harta Rampasan Perang

0
1765

Pengajian Tafsir Ahkam dengan pengasuh KH. Abdurrahman Ibnu Ubaidilah Syatori

Surat al-Anfal, ayat 1-4.

harta hukum harta rampasan perang

Memasuki bab ke 37 tentang harta hukum harta rampasan perang  الأنفال الإسلام حكم   yang di dalam sub bab pembahasan lafadz terdapat kata النفل yang memiliki definisi tambah seperti dalam terminilogi fiqh bab sholat sunah yang redaksinya menggunakan kata tersebut. Kta seperti :                    , الغنيمة, الفىءالفال yang ketiganya memiliki klu yang berbeda secara definitif الفال meimiliki arti harta tambahan dari rampasan perang dan di peruntukan bagi masyarakat secara khusus, الغنيمة memiliki arti yang sudah mafhum seperti dalam literatur fiqh yaitu harta rampasan perang, namun diperoleh dengan cara berperang dengan orang kafir. الفىء memiliki arti yang kontras dengan al-ghanimah tersebut dengan perbedaan cara dalam mendapatkannya yaitu dengan jalan tidak berperang, seperti dlah QS : الحشر ayat 6.

فاتقواالله memiliki arti mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya, dan asalnya taqwa ialah seseorang menjadikan antara sesuatu itu takut dan tameng atau proteksi dan takwa yang di harapkan ialah takut akan siksaan Allah dan taat kepanya,

Tidak ada seseorang melewati jalan kebatilan sesungguhnya seseorang yang takut kepada allah di adalah pahlawan.

ذاتبينكم  ialah sebuah keadaan di mana sang pencipta dan seorang hamba bertemu, seperti dalam syi’ir

فوالله لولاالين لم يكن الهوا # ولو لاالهوى ما حنّ للبين الف

Demi allah jika tidak ada pertemuan maka tidak ada rasa cinta dan jika tidak ada cinta maka tidak ada pertemuan

قلوبهموجلت takut ketika mengingat Allah karena dengan keagungan dan keluhurannya dengan asal kata al-wajala yang memiliki definisi takut.

زادتهم إيماناً   berambahnya iman dan kuatnya ketenangan dan semangat saat melakukan amal soleh dan iman di analogikan seperti garis frekuensi yang kadang naik dan turun. Dan iman bisa bertambah karena taat dan berkurang karena maksiat.

يتوكلون: bentuk totalitas atau pasrah terhadap Allah dan takwa juga bisa menjadi identitas seseorang yang bertaqwa.

يقيمون الصلاة : kata yuqimu ialah mendatangkan kesempurnaan ketika dengan memenuhi syarat dan rukun sholat dan kata ada’u sholah tidak datang sempurna tersebut, jika hanya melakukan sholat dan tidak mendapatkan arah ketenangan dan kekhusyuan dan menjalankan rukun.

درجاتialah tempat dan keadaan yang tinggi di surga

مغفرة ialah memberi maaf dari pebuatan jelek

ورزقٌ كريمsesuatu yang di persiapkan oleh Allah untuk manusia dari kenikmatan surga, dan menurut orang Arab rizqi ialah sesuatu yang tidak jelek dan tidak membahayakan.

Dalam pembahasan sub bab makna ijmal ialah mengeksplorasi pertanyan seorang sahabat yang bertanya kepada nabi tentang perihal ghanimah yang di dapat dari golongan musrikin yang terjadi dalam perang Badar yang di peruntukan untuk siapa? Dan apa hukumnya? Dan bagaimana pembagiannya dan ia mengatakan kembali kebalilah kepada Allah dan dengan hukum-Nya dan bagilah harta tersebut dengan perintah rasul agar supaya tidak terjadi perselisihan di antara para sahabat. Meskipun telah di haramkan ghanimah tersebut pada umat terdahulu, akan tetapi kemudian Allah telah menghalalkannya karena rahmatnya, dan di mudahkan atasnya, dan karena untuk menolong atau menopang para tentara dalam berperang dijalan Allah. Dan nabi bersabda : حلت لي الغنا ئم ولم تحل لأحد قبلىو, sehingga kemudian Allah menerangkan sifat-sifat orang mukmin dan menutupnya dengan pembalan Allah pada kemudian hari, pada rumah yang penuh kenikmatan yang belum pernah ada di dunia, dan pendengaran atas suara yang indah yang belum pernah ada di dunia, maka tersiratlah do’a : “اللهم اجعلنا من السعداء الأبراروأكرم نزلنا في دار القرارإنك سميع مجيب الدعاء”.

Dalam sub bab  النزولسبب atau kronologi turunnya ayat tersebut terdapat tiga alasan yang berkenaan dengan ayat ghanimah tersebut. Pertama: cerita dari ‘Ubadah bin Shomit dengan redaksi hadist :

“نزلت فينا معشرأصحاب بدرحين اختلفن في النفال وساءت فيه أخلاقنا, فنزعه الله من أيدينافجعله لرسول الله ص. م فقسمه رسول الله ص. م بين المسلمين على السواء, وكان في ذلك تقوى الله, وطعة رسوله, وإصلاح دات البين”

Kedua: dari Abu Daud dari Ibnu Abas ra, dengan redaksi hadist, sebagai berikut :

“لما كان يوم بدر قال رسول الله ص.م : من صنع كذا وكذا فله من النفل كذا وكذا فتسارع في دلك شبانالقوم وبقي الشيوخ تحت الرايات فلما كانت المغانم جاؤوايطلبون الذ جعل لهم فقال الشيوخ: لاتستأثرواعلينافإناردءَالكم لو انكشفتم لثبتم إلينا فتنازعوا فأنزل الله تعالى {الأنفال}”

Ketiga : di ceritakan dari imam Ahmad dari Said bin Abi Waqosh ra dengan redksi hadist :

“لما كان يوم بدر قتل أخي {عمير}وقلت {سعد بن العاص} وأخذت سيفه ـ وكان يسمى ذاالكتيفةـ فأتيت النبي ص.م فقال اذهب فاطرحه في القبض قال : فر جعت وبي مالايعلمه إلا الله من قتل أخي وأخذ سلبي قال فما جاورت يسيرًاحتى نزلت سورة الأنفالفقال لي رسول الله ص.م :اذهب فخذسلبك”

Dalam pembahasan tafsir yang lembut akan khazanah keilmuan pada bab ghanimah ini dan terdapat tiga pembagian tafsir, pertama : mengingatkan tentang dua perintah yang Allah berikan yaitu perintah taqwa dan taat kepada-Nya karena untuk memelihata rasa takut sperti takut mahabah dan ar-rau’ah pertama yaitu rasa takut karena akan adanya wibawa sesuatu yang ditakuti dan yang kedua yaitu rasa takut yang muncul karena adanya ancaman. Dan menuturkan akan awal dan akhir karena keagungan prilaku rasul, dan terangnya kemuliayaannya sebab karena mengetahui sesungguhnya hal itu ialah sesuatu yang berkonotasi taat kepada-Nya. Kedua : mengambil jalan tengah diantara taqwa dan taat dan islakh karena kedudukan taqwa lebih tinggi dari taat dengan makna transendennya. Ketiga,   إن كنتم مؤ منين   menjadi syarat korelasi dengan perintah yang tiga, dengan membuang jawab atas jika kamu mukmin  maka bettaqwalah, dengan menggunakan lafadz in  sebagai pengasan atas sebuah keraguan. Sedangkan menurut imam Az Zamakhsyari : menjadikan taqqwa, merukunkan seseorang yang sedang berselisih, taat kepada allah dan rasul, kesemuanya merupakan teguhnya iman, agar supaya allah mengajrkan kepada sahabat untuk menyempurnakan iman.

Dalam sub bab al-ahkamu as-syar’iyah, terdapat pertanyaan bagaimana hukum ghonimah dan pembagiannya, dan bagaiman keadaan ayat tersebut apakah muhkamat ataukah telah di mansukh?  Jumhur ulama dengan istidlal dari surat al-anfal ayat 41 di dapatkan 4/5  dari harta tersebut sedangkan menurut sebagian ulama ayat tersebut terlah di mansukh akan tetapi argument ini lemah dan ayat tersebut merupakan ayat yang  mujmal. Ibnu Katsir menyatakan ayat tersebut mujmal. kemudian Ibnu Arobi menyatakan dalam tafsir ayat ahkam dalam sebuah teks bahwa nafil itu terdapat dua bagian, pertama yang jaiz dan makruh. Bila jaiz bilamana apabila harta itu di dapat setelah membunuh atau berperang dan yang makruh  bilamana harta tersebut di dapat sebelum berperang atau sama seperti harta jarahan, dan dalam sebuah hadist di riwayatkan bahwa ketika seseorang perperang memiliki orientasi yang berbeda seperti hanya menginginkan hartanya atau pun sebuah pangkat.

ما تر شدإليه الايات الكريمة

  1. Sahabat memiliki perasaan yang menyenangkan dengan seringnya bertanya kepada nabi.
  2. Semua hukum kembali kepada allah dan rasul.
  3. Menyelesaikan sebah permasalahan dengan jalan damai dari sebuah perselisihan demi menjaga kesatuan umat.
  4. Dengan mengajak kepada jalan yang benar maka di harapkan seorang mukmin dapat mendatangkan hakikatnya iman.
  5. Menuruti perintah allah dan taatkepada-Nya dapat menjadikan kebahagiaan seorang hamba dalam dua rumah, yaitu dunia dan akhirat.

والله أعلم

Badar Atas, 05,06 Januari 2016

Arjawinangun, Cirebon

Comments

comments