المحاضرة التاسعة والثلاثون

كيفيمة قسمة الغنا ئم

Cara membagi harta rampasan perang

Dalam Surat al-Anfal ayat 41 mengelaborasikan bagaiman pembagian harta rampasan perang seperti yang telah di bahas dalam bab dalam pengajian muhadoroh ke-37, namun pengajian dalam bab ini lebih spesifik atau mengkaji lebih dalam tentang cara dan untuk siapa harta tersebut di bagikan. Dalam teks skrpturalnya yang menuju pada isi ayat tersebut harta rampasan perang yang 1/5-nya di bagikan kepada:  untuk Allah, untuk rasul-Nya, untuk kerabat rasul, untuk anak yatim, untuk orang miskin, dan orang yang berada di jalan Allah.

التحليل اللفظي

Pada sub bab yang mentafsili atau merinci kata demi kata dlam ayat tersebut harta rampasan perang telah dijelaskan dengan ketentuan yang yang berlaku menurut syari’at islam, dengan rincian sebagai berikut:

Ghanamtum : ialah harta yang di peroleh dengan jalan paksa atau perang, sedangkan jika harta tersebut datang dengan cara sukarela maka harta tesebut bukan dalam istilah ghanimah tetapi “faiun” yang artinyaharta yang di peroleh dengan jalan tanpa pertumpahan darah, seperti dalam sebuah sya’ir:

وقد طوفت في الافاق حتي # رضيت من الغنيمة بالإياب

Khumus: ialah 1/5nya harta uang di berikan kepada Allah sperti yang telah di jelaskan dalam ayat di atas dan 4/5nya di berikan kepada pasukan yang mengikuti peperangan. Imam al-Qurtubi menjelaskan hukum khumus tersebut setelah itu Allah diam karena dengan diam-Nya Allah menunjukan bahwa harta yang selebihnya atau 4/5 itu di peruntukkan bagi bala tentara yang mengikuti perang.

Al-Qurba: ialah kerabat rasul seperti bani Hasyim dan bani Muthalib dan itu dalam sebuah qoul yang sahih.

Al-Yatama: seorang anak muslim yang telah di tinggal oleh ayahnya dalam keadaan masih kecil atau belum baligh, sedangkan predikat yatim tersebut hilang setelah ia baligh.

Al-masakin: ialah hamba yang miskin dalam hal perekonomiannya dan butuh pertolongan dari kaum muslimin yang kaya.

Ibnu sabil: seseorang yang telah kehabisan biaya atau perbekalan delam perjalanan dan perjalanan itu dalam jalan dan tujuan yang di benarkan oleh agama.

Yaum al-Furqon: ialah hari pembeda, atau pada hari awal perang Badr,pembeda artinya hari tesebut membedakan antara kaum muslimin dan musrikin, haq dan batil, dan kronologi hari tersebut terjadi pada tahun ke-2 Hijriah atau tepatnya pada 17 Ramadhan.

Al-jama’an: ialah hari berkumpulnya kaum muslimin dan musrikin dalam sebuah peristiwa (dalam hal ini konteksnya perang)

المعنى الإجمالي

Pemabhasan global dari ayat tesebut ialah merupakan tidak lanjut dalam ayat yang telah di sebutkan sebelumnya, namun dalam pembahasan ini harta rampasan perang sejatinya ialah perpindahan kepemilikan. Namun perlu di eksplorasi kembali maksud ayat yang menunjukan 1/5 tersebut secara eksplisit di tunjukan kepada siapa dengan relevansi yang sekarang. Seperti yang telah di jelaskan bahwa pertama harta yang 1/5 tersebut untuk Allah ialah maksudnya di belanjakan untuk kepentingan yang menyangkut kemaslahatan umum, untuk membiayai syi’ar islam, membangun ka’bah dan melestarikannya seperti menganti kiswah. Sedangkan yang kedua untuk rasul ialah dengan maksud untuk keluarga rasul seperti istri rasul dan kebutuhan rasul, kerabat rasul yang temasuk di dalamnya ualah bani Hasyim dan bani Muthalib hingga seterusnya sepeti dlam teks ayat di atas dan itulah seseuatu yang di kehendaki oleh iman dalam diri seorang muslim dengan cara tunduk, mendekatkan diri, menaati perintahnya, dan memahami hukumnya dan tidak ada perselisihan di antara mereka karena Allah telah membagi harta tersebut dengan tegas demi menjaga kemaslahatan diantara kaum muslimin.

وجهاالارتباط ب الايات السا بقة

Kesinambungan antara ayat ini dan sebelumnya, ialah membunuh orang kafir yang telah melampaui bata, sperti memfitnah orang mukmin, menghentikan ajakan atau dakwah kaum muslimin, maka dengan hal itu Allah menjajikan kemenangan atas kaum muslimin dan melegalkan atas harta yang di peroleh dengan jalan perang atau ghanimah untuk mereka, serta Allah menerangkan pembagian harta tersebut kepada nabi yang kemudian di sampaikan kepada umatnya. Serta menjelaskan atas legalnya harta tersebut dan tidak adanya perselisihan atasnya (ghanimah) dan ini adalah salah satu korelasinya.

لطائف التفسير

Dalam pembahasan tafsirnya mengenai ayat yang terkait harta ghanimah tersebut terdapat empat bagian tafsir atau intepretasi penulisnya diantaranya:

  1. Kata “min syai in” dalam pembukaan ayat ke 41 memberikan faidah yang di temukan, sedikitnya seperti sedikit dan banyak, agung dan hina. Sehingga di umpamakan seperti benang dan jarum yang jika di satukan akan menjadi satu kesatuan yang utuh.
  2. Allah menerangkan pembagian hatra ghanimah tersebut seperti kata dalam teks ayat tersebut “fa innallahi khumsuhu” memberikan sebuah pelajran tentang barokah ketika menyebut nama Allah yang agung dan untuk mengawali segala sesuatu dengan menyebut namanya. Seperti membaca “basmalah”. Karena sebenarnya pembagian dalam teks tersebut yang di bagi atas 6 bagian ialah sebuah satu kesatuan yaitu Allah, karena Allah adalah maha kaya. Dan dengan mengingat Allah di harapkan harta yang ada hendaknya di belanjakan di jalan Allah.
  3. Kata “wa ma anzalna ‘ala ‘abdina” juga terdapat dalam ayat ke-41 tersebut sesungguhnya makna sebenarnya ialah nabi Muhammad, namun redaksinya tidak langsung menyebut namanya melainkan dengan kata ‘abd yang artinya ialah hamba, hal ini dikarenakan keagungan dan kemuliaannya nabi disifati dengan hamba Allah atau singkatnya sebagai pengakuan dari atasan ke bawahan, hal ini senada dengan ayat yang terdapat dalam surat al-isra’ ayat ke-1, karena dengan kemuliayaan dan keagungan yang Allah berikan kepada nabi. Seperti girangnya seorang ahli ma’rifat dalam baris sya’irnya:

وممّازادني شرفّا وتيها # وكدت بأخمصي اطأ الثريّا

دخولي تحت قو لك {يا عبا دي} # وأن صيّر ت {أحمد} لي نبيا

Dan al-muraghi mengatakan dalam tafsirnya yang di maksud dengan kerabat nabi adalah dari klan hasyim dan muthalib bukan dari klan syams dan naufal karena kaum quraisy telah memblokade klan pertama degan melakukan pengusiran terhadap nabi saat nabi berdakwah dan dengan mengasingkannya kegunung dan bani hasyim telah menolongnya dengan masuk kegunung (gua) dengan maksud memberikan bantuan logistik kepada nabi, dan perlu di ketahui bahwa empat bani diatas ialah para pembesar jazirah Arab, dan ketika mengucapkan sholawat dengan mencantumkan kata ‘alihi maka tertuju kepada kerabat nabi yaitu dari klan hasyim dan muthalib.

الحكام الشرعية

  1. Apakah ghanimah dan faiun itu sama?

Terjadi perdebatan dalam hal ini, imam as-Syafi’i mengatakan ghanimah dan faiun berbeda dalam cara memperolehnya, antara kekerasan dan damai (pajak dan upeti). Sebagian ulama menyatakan bahwa ghanimah ialah harta yang berpindah kepemilikannya sedangkan harta yang tetap atau tidak bisa di pindah ialah faiun. Dan sebagian ulama lagi mengatakan bahwa ghanimah dan faiun ialah sama dan itu merupakan qaul yang sahih dan unggul.

Imam qurtubi mengatakan: telah menjadi kesepakatan bahwa ghanimah ialah kpeberpindahan harta dari orang kafir kepada orang islam baik dengan cara kekerasan atau jalan damai, seperti dalam sebuah ’urf atau adat menyatakan bahwa ghanimah ialah harta yang di peroleh dengan cara bersusah payah dan dengan kerja keras seperti memacu kuda dan onta dalam sebuah perebutan atau konteks peperangan. Sedangkan faiun ialah sebuah harta yang di peroleh melalui pajak atau upeti kepada pemerintah islam.

  1. Bagaimana rician 1/5 atas ghanimah?

Allah telah menenrangkan sebelumnya bahwa rincian 1/5 diperuntukan untuk allah, rasul, kerabat, yatim, miskin, ibnu sabil.

  1. Pembagian untuk allah ialah sebuah penisbatan yang sejatinya harta tersebut di belanjakan untuk meghidupi atau memelihara ka’bah. Jumhur ulama menytakan bahwa lafadz dalam ayat tersebut ialah pembuka ucapan atau kalam dengan maksud mengharap barokah kepada allah di dunia dan akhirat karena allah adalah raja atas langit dan bumi maka allah tidak memerlukan harta sebab allah maha kaya atas segala-galanya, selain mengawali kalam juga allah telah mengajarkan kepada kita untuk mengharap berkah, serta mengawali segala sesuatu dengan mengucapkan namanya. Dengan ini maka pembagian atas 6 golongan tersebut menjadi 5.
  2. Pembagian untuk rasul ialah sesuatu yang pasti dan haq atasnya akan tetapi hal itu di sandarkan kepada kemaslahatan umat dan ahlul bayt, seperti telah di jelaskan pada matan hadist :

“ما لي مما أفاءالله عليكم إلا خمس والخمس مردود عليكم”

Dan ulama akhirin mengatakan rasul ialah untuk membuka ucapan atau kalam seperti lafadz (allah) di atas. Dan dengan ini maka pembagian atas 5 menjadi 4 dengan ketentuan kerabat, yatim, miskin, dan ibnu sabil.

  1. Kerabat dalam hal ini terdapat perdebatan yang memunculkan tiga pendapat :
  • Seluruh suku quraisy.
  • Hanya klan hasyim.
  • Suku dari klan hasyim dan muthalib, dan ini adalah pendapat yang sahih dan unggul.

Dengan adanya sebuah riwayat imam bukhari dari muth’im bin jubair dari klan naufal “ia mendatangi nabi bersama usman bin afan dari klan ‘abd syams dan mengatakan “ ya rasulallah kita dan mereka (bani muthalib) ialah sederajat, dan nabi mengatakan

إنما بنو المطلب وبنو ها شم شىء واحد, إنهم لم يفارقونا في جا هلية ولا إسلام”

Dengan matan tersebut maka yang termasuk dalam kategori kerabat nabi ialah dari klan hasyim dan muthalib. Sedangkan apabila semua klan itu telah tiada atau wafat maka pembagian harta tersebut di serahkan kepada kas kenegaraan.

Imam abu hanifah mengatakan pembagian itu hanya diperuntukkan kepada 3 golongan yaitu yatim, miskin dan ibnu sabil dengan alasan bahwa rasul dan kerabatnya telah tiada karena wafat, kemudian harta itu sebaiknya diperuntukkan bagi konstruksi jembatan, konstruksi masjid, dan gaji atas hakim dan tentara.

  1. Yatim ialah mendapatkan harta dari ghanimah tersebut dengan ketentuan ia belum baligh karena jika ia telah baligh maka statusnya telah berubah memjadi yutmim.
  2. Miskin ialah sebuah keadaan yang kekurangan dalam hal ekonomi dan membutuhkan pertolongan, sehingga ia berhak mendapatkan harta tersebut.
  3. Ibnu sabil ialah seseorang yang sedang bepergian atau dalam perjalanan dengan tujuan yang baik namun ia kehabisan ongkos, meskipun ia seseorang yang kaya pada tempat asalnya.

mengenai pertanyaan ke 2, dalam hal ini kalangan malikan malikiyah menyatakan

Terjdai perselisihan dalam madzahab malik dalam beberapa argumentasi yang menyangkut kesemuanya, dan imam malik menyatakan bahwa 1/5 itu di jadikan kas negara yang untuk di anggarkan kepada kepentingan masyarakat, dan imam malik mengatakan bahwa bagian tersebut bukan hanya di peruntukkan bagi golongan yang tecancum dalam teks saja (allah, rasul, kerabat, yatim, miskin, ibnu sabil), dengan kaidah fiqh :

الخاص وأريد به العام

“Mengucapkan lafadz yang khusus dan mengharapkan lafad yang umum”

Dalil dari kalangan malikiyah tersebut di ambil dari beberapa referensi yaitu al-maghozi dan al-sira dengan dei jadikan sebagai dalil, dan ibnu ‘arabi mengatakan dalam karyanya yaitu ahkamil qur’an, seperti :

بعث سرية قبل نجد فأ صا بوا في سهما نهم اثني عشربعيراونفلوا بعيرابعيرا

“بعث عنه : قال أسارى بدر: {لو كان المطعم بن عدي حيا وكلمني في هؤلاء النتنى لتركهم له} والمراد با لنتن {الأسرى من المشركين} والمطعم بن عدي هو الذي أجارالنبي ص.م حين رجع من الطا ئف وهو الذ قام بنقض الصحفة, فقال ذلك النبي ص.م مكا فأة له على جميله وإحسانه”

“ثبت أن النبي ص.م رد سبي هو ازن وفيه الخمس”

“روي في الصحيح عن عبدالله بن مسعود قال : اثار النبي ص.م يوم حنين أنا سا من الغنيمة فأعطى { الأقرع بن حا بس} مائة من الإبل وأعطى {عيينة} مأئة من الإبل, وأعطى أناسا من أشراف العرب واثرهم يو مئذ في القسمة فقال رجل : والله إن هذه القسمة ما عدل فيها. أو ما أوريد بها وجه الله, فقلت: والله لأخبرنّ النبي ص.م فأخبر ته. فقال : {ير حم الله أخي موس لقد أو ذي بأكثر من هذا فصبر”

“روي في الصحيح أيضا أن النبي ص.م قال : ما لي مما أفاء الله عليكم إلا الخمس وا لخمس مردود عليكم”

Dengan dalil ini maka kalangan maliki menentapkan bahwa 1/5 tersebut di serahkan kepada pemimpin untuk digunakan sebagai kemaslahatan masyarakat  dan golongan yang akan di jadikan penerima ghanimah di dalam teks itu hanya sebagai contoh saja dan ini merupakan argumen dari kalangan maliki yang benar dan kuat.

  1. Bagaimana pembagian ghanimah yang 4/5?

Teks menyebutkan bahwa yang mendapat harta ghanimah ialah seseorang yang mengikuti peperangan dengan pembagian yang sama rata tanpa memprioritaskan, menambah atau pun mengurangi, seperti yang telah di riwayatkan oleh ibnu umar bahwa penunggang kuda mendapatkan 3 dengan ketentuan 2 untuk kuda atau kendaraan dan 1 untuk tentaranya.

Dan mayoritas ulama mengatakan pembagian tersebut di berikan karena dengan alasan 2 untuk kuda atau kendaraan perang yang di gunakan karena pertama untuk kebutuhan kendaraan tersebut dan untuk antisipasijika terjadi apa-apa terhadap kendaraan tersebut dalam pepeangan.

  1. Apakah ayat tersebut di mansukh atau di menyalin ayat sebelumnya?

Ayat tersebut menurut sebagian ulama tidaklah disalin dengan ayat sebelumnya.

ما تر شد إليه الايا ت الكرية

  1. Allah menurunkan syari’at bukan hanya untuk satu orang melainkan untuk semua umat manusia.

Abah menambahkan “ kadang naungan al-qur’an dan hadist tidak terjamah kecuali dengan menggunakan perangkat hukum yang lainnya seperti ijma’ dan qiyas”

“perbedaan madzhab merupakan sesuatu yang absah” dan bagi yang masih awam taklid di perbolehkan” kemudian “ dibutuhkan pemahaman atas teks al-qur’an dan hadist”.

  1. 1/5 di berikan kepada seseorang yang berada di jalan allah untuk mentashorufkan atau menjaga kemaslahatan seperti yang teks tunjukan.
  2. Membagi harta rampasan perang kepada para pasukan seperti yang telah allah syari’atkan dan telah jelaskan oleh rasul.
  3. Menjalakan perintah agama dan menaati rasul dalam setiap persoalan hidup.
  4. Yauma badrun; ialah hari pembeda, dan pada hari itu terdapat perbedaan antara kafir dan mukmin, haq dan bathil.

 

Comments

comments