Peduli lingkungan, Pondok Pesantren Dar Al Tauhid Adakan Pelatihan Pengolahan Sampah

0
1579

 

SAM_2843
Bapak Heru Santoso SE, MM memberikan pelatihan pengolahan sampah

Sampah sudah menjadi masalah serius di muka bumi ini, banyak musibah yang terjadi disebabkan oleh sampah. Jika sudah terjadi bencana, orang baru sadar betapa mengerikannya sampah. Namun jika hanya sadar, tanpa kepedulian yang lebih lanjut itu sama saja. Oleh karena itu, harus ada tindakan konkrit tentang pengolaan sampah, minimal dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Menanggapi isu tersebut, Pondok Pesantren Dar Al Tauhid mengadakan pelatihan pengolaan sampah. Narasumber dalam pelatihan ini ialah Bapak Heru Santoso SE, MM, seorang aktivis lingkungan mantan anggota greenpeace yang karena kecintaannya terhadap Indonesia, akhirnya ia memutuskan keluar dari greenpeace dan fokus terhadap pengolaan sampah di Indonesia. Ia dapat mengubah sampah penyebab musibah menjadi sesuatu yang berkah, bahkan ia punya motto sendiri yaitu “Sampahmu adalah Emasku”. Pak Heru dapat membuat pupuk organik dari sampah dapur. Atas kepeduliannya terhadap sampah, ia mendapatkan banyak penghargaan dari mulai tingkat regional sampai nasional. Untuk tahun ini, Bapak Heru memutuskan akan keliling Indonesia untuk mensosialisasikan pengolaan sampah, dan Pondok Pesantren Dar Al Tauhid Arjawinangun merupakan persinggahan pertamanya. Dengan bangga ia mengatakan akan membawa foto pengasuh dalam keliling Indonesianya.

Pelatihan diadakan pada hari Jum’at , 1 April 2016 dimulai pada pukul 21.25 wib. Semua santri baik putra maupun putri berkumpul di mushola pondok pesantren. Pada acara pelatihan ini, Nyai Hj. Fuaidiyah yang merupakan pengasuh pondok pesantren turut hadir. Dalam pembukaannya, narasumber mengatakan santri harus lebih peduli terhadap kebersihan dan pengolaan sampah. Ia menjelaskan cara mengubah sampah dapur menjadi pupuk organik, dan nantinya pupuk organik itu akan sangat bermanfaat untuk berbagai jenis tanaman, terlebih banyak santri yang pekerjaan orang tuanya sebagai petani. Kemudian setelah itu, narasumber memutarkan video tentang bagaimana mengerikannya sampah dan kegiatannya mengelola sampah, semua santri baik putra maupun putri terlihat begitu antusias menyaksikan pemutaran video. Sesekali narasumber menjelaskan isi video tersebut.

Setelah pemutaran video dan penjelasan dari narasumber, santri dipersilahkan untuk bertanya. Acara semakin menarik dengan adanya dua santri putri dan empat santri putra yang mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang diajukan sangat beragam, dari mulai persoalan sampah plastik sampai bertanya apa yang mendasari narasumber sampai peduli terhadap sampah. Narasumber yang gemar bercanda ini menjawab satu persatu pertanyaan santri dengan sangat jelas dan dibumbui humor yan jelas membuat santri tertawa terbahak-bahak. Narasumber memberikan hadiah kepada santri yang berani bertanya.

SAM_2864
Kang Ali pengurus kebershan sedang mencoba membuat bioaktifator

Pada akhir acara, Bapak Heru mempraktekkan bagaimana cara pembuatan bioaktivator, alat untuk membuat pupuk organik dari sampah dapur. Kang Syahrohaeli yang merupakan pengurus kebersihan dipersilahkan untuk maju mempraktekkan pembuatan alat tersebut. Menurutnya, “cara pembuatannya tidak terlalu rumit, tapi manfaatnya sangat luar biasa sekali.” Narasumber juga menjelaskan bahwa alat ini sangat gampang dibuat, tidak harus sama persis memakai tong, tapi bisa memakai alat lainnya semisal ember, yang penting sistem kerjanya benar. Selain itu, narasumber memperlihatkan beberapa karya seni hasil kreatifitisnya berbahan dasar sampah, semisal membuat tempat tisu dari bekas bungkus kopi.

Pelatihan pengolaan sampah ini diharapkan dapat membuat santri lebih peduli terhadap lingkungannya dan terkhusus terhadap sampah. Santri harus dapat mengatasi sampah pondok pesantren, apalagi santri sudah sangat hafal dengan hadits ” النّظافة من الايمان “ bahwasannya kebersihan itu sebagian daripada iman. Akan lebih bagus lagi, jika setelah pulang nanti, semua santri mengamalkan ilmu ini di desanya masing-masing, jika saja itu terjadi maka persoalan sampah di negeri ini akan teratasi, melihat santri datang dari berbagai desa, bahkan ada santri yang berasal dari Sumatera.

Comments

comments