Oase Al-Qur’an Penyejuk Kehidupan

Satu catatan sebelum menemukan oase di realitas tandus dunia ini

0
991
“karena hidup tanpa Al-Quran bagai berjalan di kegelapan malam”– Dr.K.H. Ahsin Sakho Muhammad.
Dalam prolognya, Walid, begitu beliau akrab disapa, berpesan betapa pentingnya mendedikasikan seluruh jiwa dan raga seorang manusia dengan menyakini bahwa manuisa adalah seorang hamba Allah dan Al-Qur’an adalah kalam-Nya. Dan sebagai kalam-Nya Allah senang jika Al-Qur’an itu dibaca sebagai pesan-Nya, Allah senang jika kandungan Al-Qur’an diiperhatikan dan diamalkan. Sebagai feed back atasnya Allah akan menyenangkan seorang hamba tersebut dengan cara-Nya.
Kemudian Al-Quran merupakan kitab suci yang sakral dan rasional, nilai sakralitas Al-Qur’an sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari seperti dapat digunakan untuk ruqyah dan jampi-jampi, memberikan syafa’at dan kesucian, eksistensinya dijaga oleh Allah, serta membawa kemanfaatan bagi yang membacanya seperti ketika membaca surat Al-Yasin, al-Mulk, al-Wqi’ah dan surat lainnya. Oleh karenanya kebenaran dan otentisitas Al-Qur’an akan tetap terjaga karena Al-Qur’an bersumber dari kebenaran sejati, sumber nilai yang paripurna. Kebenaran Al-Qur’an akan terus teruji sepanjang zaman dan hanya manusia yang berhati bersih, objektif, bernalar sehat tulus mencari kebenaran akan menemukan kebenaran Al-Qur’an dari seluruh seginya.
Pada sisi lain Al-Quran secara implisit berpesan kepada ibu dan calon ibu, pun walid berpesan bahwa asupan pertama terbaik bagi anak adalah memperdengarkan dan membacakan ayat suci Al-Qur’an. Kemudian hendaknya ia (ibu dan calon ibu) bsa mengaji Al-Qur’an dengan fasih sehingga pelajaran pertama membaca Al-Qur’an akan di dapatkan oleh seorang anak dari lisan ibunya sendiri, dan dapat dipastikan bahwa hal itu akan selalu terkesan dengan peristiwa sejarah dalam kehidupannya itu. Karena DNA (deoxyribonucleic acid) Al-Qur’an dapat memberi ketenangan jiwa ketika membaca Al-Qur’an berimplikasi pada sel-sel DNA-nya yang bisa bercahaya dan berdampak pada raut wajah yang terang dan meneduhkan.
Kekuatan Al-Qur’an tidak disanksikan lagi karena sejarah telah mencatat bagaimana bangsa Arab yang terpuruk dalam sebuah dekadensi kemudian bangkit menjadi bangsa yang patut diperhitungkan. Itu semua berawal dari Al-Qur’an. Al-Qur’an itu ibarat berlian yang mempunyai banyak sisi, jika dipandang dari satu sisi maka akan menampakkan keindahan tersendiri, begitu pula jika dari sisi yang lain. Dan dalam konteks lain, manusia yang menghafal Al-Qur’an, umpamanya, tidak cukup jika mengandalkan kecerdasan intelektual, akan tetapi perlu pencucian hati dari berbagai kotoran hati tersebut seperti riya, sum’ah, takabur, dan lain sebagainya. Dan dengan memperbanyak amalan-amalan sunah seperti puasa, dzikir, dan do’a secara perlahan akan dapat menghapus penyakit-penyakit tersebut, karena secara kuantitas penghafal kitab suci dari agama lain sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan agama islam. Nabi Muhammad member julukan kepada para penghafal Al-Quran dengan Shahibul Qur’an dan Ahlul Qur’an dan jika seseorang yang ingin selalu dekat dengan Allah, nilai-0nilai Al-Qur’an harus menyatu dalam dirinya serta selaras dengan tindakkannya, hingga orang yang seperti ini kelak akan dijuluki sebagai hamilul Qur’an lafdzan wa ma’nan walau dalam realitasnya ini sangat berat dan sulit ditemukan, namun harus di upayakan.
Jika kita flash back terhadap sejarah akan ekspansi islam yang begitu luas hingga mencapai dataran Eropa, maka kita akan menemukan sebuah ragam bacaan Al-Qur’an, namun di dunia islam tinggal empat bacaan Al-Qur’an yang masih diamalka hingga kini, diantaranya :
1. Hafsah dari imam Ashim (mayoritas).
2. Warsy (Aljazair, Maroko, Sudan, Mauritania).
3. Qalun (Libya, Sudan).
4. Dury Abi Amr (Sudan).
Dan terdapat qira’ah lainnya seperti Ibnu Katsir, as-Susi dari Abu Amr, Ibnu Amir, Syu’bah dari Ashim, Hmazah, Kisa’I, Abu Ja’far, Ya’qub, dan Khalaf Al-‘Asyir sudah sangat jarang ditemukan, namun bacaan dari imam tersebut tetap mutawatir. Al-Qur’an tak pernah terkalahkan sejak pertama kali turun, walau banyak yang mengatakan bahwa ia dituduh sebagai sihir, perkataan orang gila, hingga kebohongan belaka, namun jika demikian mengapa eksistensi Al-Qur’an terus terjaga hingga detik ini ?.
Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat kauniyah, dan ayat tersebut terbagi menjadi dua bagian : Pertama, ayat kauniyah yang sinkron dengan hukum kuasalitas atau sunatullah seperti yang meliputi kehidupan manusia, oleh sebab itu manusia dapat memahami rahasia alam dan dapat jadikan sebuah eksperimen untuk keberlangsungan kehidupannya. Kedua, ayat kauniyah yang tidak sesuai dengan yang tertama, atau dalam terminologi lain di sebutkan bahwa ayat tersebut merupakan ayat qauliyah yang di dalamnya terdapat unsur-unsur yang tidak sesuai dengan hukum kausalita atau juga sesuatu yang biasa dalam kehidupan, seperti api yang pernah dingin pada saat raja Namrud hendak membakar nabi Ibrahim, tongkat nabi Musa yang bisa membelah laut dan masih banyak lagi, dan hal ini biasa disebut dengan mu’jizat.
Dalam Oase Al-Qur’an yang menyajikan point-point kesejukan dalam menapaki kehidupan yang tandus dan gersang ini, Al-Qur’an menjadi entry point atau juga sebagai titik balik kehidupan manusia dari hiruk-pikuk kehidupan, dengan oase-oase yang terkandung dalam Al-Qur’an maka kehidupan ini akan menjadi sebuah kenyamanan dan ketenangan tersendiri hingga kegersangan dalam kehidupan tidak nampak lagi. Karena begitu banyak unsur-unsur yang dapat digali dari Al-Qur’an, maka Al-Qur’an adalah sebuah replika alam semesta dengan berbagai entitas di dalamnya maka sudah seyogyanya panduan dalam menapaki kehiduapn ini adalah Al-Qur’an. Pada buku Oase Al-Qur’an terdapat 100 oase di dalamnya yang dengan harapan mampu mengantarkan pembacanya dalam memahami kandungan nilai-nilai yang ada di dalam Al-Qur’an tersebut dan mampu mengimplementasikannya dalam kehiupan sehari-hari. Amin.
Judul Buku : Oase Al-Quran
Penulis : Dr.K.H. Ahsin Sakho Muhammad
Jumlah Halaman : 268 Halaman
Penerbit : Qaf
Cetakan pertama : Tahun 2017

Comments

comments