Nuzulul Qur’an dan Pena

Oleh : Nurcholis Majid

0
267

Ayat yang pertama turun dan diturunkan oleh sang Pencipta melalui malaikat Jibril AS kepada Nabi Muhammad SAW. Dan mungkin bukan ranah atau area kami dalam menafsirkan atau menjelaskan secara tafshili ayat yang Maha Hebat tersebut.

اقرأ باسم ربّك الذى خلق

خلق الانسان من علق

اقرأ وربّك الاكرم

الذى علم بالقلم

علم الانسان مالم يعلم

 

Dan mungkin jika ada santri yang notabe-nya ‘bergajulan’ seperti kami, yang seringkali begadang seperti kami, mungkin hanya bias mengatakan, “Ohh seperti itu”. Dan tidak jauh dari sebatas mengetahui “itukan ayat yang pertama yang Allah turunkan melalui ‘asisten-Nya’ yang brnama Jibril AS. Dan tepat pada waktu itu pula nama Muhammad diangkat menjadi rasul, tepatnya tanggal 17 Ramadhan, dan itu pun jika tidak keliru.” Ditanggal ini tepatnya jika kami sendiri menyebutnya sebagai momentum Nuzulul Qur’an, yang di mana pada tanggal tersebut kami dengan seluruh santri mengisinya dengan hal positif, seperti menghatamkan al-qur’an dalam satu malam itu juga.

Adapun persis waktunya Al-qur’an di turunkan meurut para ahli sejarah, mereka menyampaikan perbedaan pendapat dengan argumen yang beragam. Diantaranya ada yang menyebutkan tanggal 21 Ramadhan, ada yang menyebutkan 23 Ramadhan, sementara jumhur ulama berpendapat 17 Ramadhan ini. Dan sebagai santri kami hanya bisa manut saja terhadap pendapat ulama.

Dan kemabali pada ayat di atas, atau ayat yang di turunkan pertamakali tersebut. Mungkin hanya sebatas terjemahan, dan itu pun di peroleh dari DEPAG : “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang maha pemurah, yang mengajarkan (manusia) dengan (perantara) pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” Al-Alaq 1-5.

Pada saat kata iqra disebutkan apa yang kita pahami tentang itu semua? Yang selanjutnya disambung dengan kata qolam?.

Kesemuanya tak lepas dari kehidupan pesantren dalam memaknai segala hal, atau dengan kata lain self determination. Dengan sekelumit pertanyaan kecil, “apakah sudah membaca?” atau bahkan telah menggoreskan penanya sebagai perantara untuk mengetahui apa yang belum kita ketahui?. Sudah barang tentu menjadi pukulan telak ketika seorang santri – umpamanya, yang hanya sebatas membaca atau mema’nai namun belum di implementasikan dalam suatu realitas, sekecil apapun itu. Dan mungkin menjadi sesuatu yang ta’ajub apabila seorang santri yang telah dapat  menggoreskan penanya untuk dunia.

Dan tentu membaca dan menulis bukan barang baru bagi dunia pesantren, santri khususnya. Hingga yang kami alami, sekarang, seperti untuk membaca saja masih banyak yang ‘gagal paham’ terlebih untuk menuliskannya. Entah apa jadinya.

Mernarik garis intervalnya dalam sisi teknologi, bahwa hari ini adalah era-posting, dan yang menjadi titik ‘perih’ ialah ketika seorang saja – umpamanya. Masih belum bisa memilah mana informasi yang valid dan mana yang invalid (baca; hoax). Dan penting kiranya bagi santri untuk mencerna terlebih dahulu atas informasi yang beredar di lini massa tersebut, tidak lantas taken for granted atau ‘langsung telan’, dengan memastikan sumbernya, rujukan atas postingan tersebut, dengan harapan agar tidak keluar dari koridor kesantriannya, terlebih dengan displin keilmuannya. Sebab, pada hari ini santri pun gampang sekali terbawa oleh arus yang disebabkan oleh berita yang bertebaran di social media tersebut. Dan yang lebih krusial apabila terdapat  postingan mengenai ayat yang berbau jihad. Dengan bersandar pada kiyai atau ulama, maka kemungkinan informasi yang di dapat tersebut dapat diklarifikasi (tabyyun). Dan belajarlah untuk menjadi bijak dengan bertanya.

Gerakan santri membaca sangatlah penting, dan dalam pesantren sudah barang tentu telah di dapatkan melalui madrasah, musyawarah atau semisal acara workshop dan pelatihan jurnalistik. Dengan membaca maka jendela pengetahuan akan terbuka dengan sendirinya, dan pada gilirannya kami mengutip dari buku milik buya Husain Muhammad,dari seorang sastrawa sekaligus teolog besar, Abu ‘Amr al-Jahizh yang merepresentasikan tentang buku dan pena; “Jejak goresan pena lebih abadi (karena) suara lidah acapkali tak jelas, Andai tak ada buku, tak adalagi cerita masa lalu dan terputuslah jejak mereka yang telah pulang. Kata-kata hanyalah untuk yang hadir, pena untuk yang tak hadir. Buku dibaca di segala ruang, dikaji di segala zaman.”

Dan banyak sufi mengatakan “Awwal ma kholaqo allah al-qolam (awal ciptaan Allah adalah pena), awwal ma kholaqo allah al-aql (Yang pertama di ciptakan Tuhan adalah akal).

Wallahhu a’lam

 

Nurcholis Majid

Adalah pendidik dari madrasah Dar al-Tauhid

 

Comments

comments