Niat, Ikrar Penentu Kualitas Ibadah

0
1191

niat-481x318

Manusia diciptakan Allah untuk beribadah, sedangkan setiap ibadah diawali dengan niat. Niat juga termasuk dalam rukun ibadah, yaitu sesuatu yang harus dikerjakan. Ketika dalam beribadah niat kita tidak sah, maka rusak pula ibadah kita. Untuk itu, niat menjadi poin yang sangat penting dalam ibadah kita.

Niat adalah keinginan kuat di dalam hati untuk melakukan sesuatu. Dalam terminologi syar’i, niat berarti keinginan melakukan ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perbuatan atau meninggalkannya. Sedangkan menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah, niat adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan. Niat juga merupakan perbuatan hati, sehingga hanya diri sendiri dan Allah lah yang tahu.

Masalah yang mubah (sesuatu yang boleh dikerjakan atau tidak dikerjakan) sekalipun ketika kita niatkan untuk beribadah maka kita akan mendapat pahala, misalnya ketika kita hendak makan, kita niatkan supaya kita kuat dalam menjalankan ibadah, maka makan kita akan berbeda nilainya dengan makan biasa (tanpa niat). Sebegitu pentingnya masalah niat, sampai-sampai niat dinomor satukan dalam kumpulan hadits Arbai’n Nawawi, yang berbunyi :

عن امير المؤمنين ابى حفص عمر ابن الخطاب رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلّ الله عليه و سلّم يقول: إنّما الاعمال بالنيّات وإنّما لكلّ امرء مانوى فمن كانت هجرته الى الله و رسوله فهجرته الى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها اومرأة ينكحها فهجرته الى ما هاجراليه ؛ رواه اماما المحدّ ثَينِ ابو عبدِالله محمّد ابن اسماعيل بن ابراهيم بن المغيرة بن بردزنبة البخاري وابوا الحسين

Arti Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob rodhiAllahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda : “Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhoan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhoan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).

Catatan :

Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.

Asbabul Furud (sebab diturunkannya hadits), yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais). Sehingga kualitas hijrahnya hanyalah sebatas untuk menikahi Ummi Qois.

Pelajaran yang terdapat dalam Hadits / الفوائد من الحديث :

– Niat merupakan syarat sah/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).

– Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shalih dan ibadah.

– Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.

– Semua perbuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.

– Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.

Ketika kita berniat dalam melakukan ibadah dengan sungguh-sungguh, maka ibadah kita seharusnya juga sungguh-sungguh. Jika diumpamakan niat itu sebagai ikrar kita di hadapan Allah, maka kita harus malu jika ibadah kita tidak sesuai dengan ikrar yang kita ucapkan di hadapan Allah. Ibadah puasa yang seharusnya meningkatkan ketaqwaan kita, mengapa setelah berpuasa tingkat taqwa kita tidak meningkat, bahkan cenderung menurun. Saya rasa karena ketika kita berniat kita tidak benar-benar menyadari bahwa kita sedang berikrar dihadapan Allah.

Niat juga bisa lebih baik dari amal ibadah yang dilakukannya, karena ketika niat tidak ada yang harus kita pamerkan karena niat itu tersimpan dalam hati. Sedangkan pengamalannya banyak yang karena ada maunya, baik itu ingin dipuji atau bahkan ingin dapat imbalan, tidak semata-mata karena Allah swt, seperti sebab diturunkannya hadits di atas.

 

Comments

comments