Merayakan Hari-Hari Indah Bersama Nabi; (Satu Resensi)

"Jangan biarkan hiruk-pikuk suara kemarahan dan kebencian di sekitarmu menenggelamkan suara bening hatimu sendiri, AGAR JIWAMU DAMAI"- KH. Husein Muhammad (Buya)

0
467

Tak pernah ada mata yang melihat

Manusia setampan dirimu

Tak ada perempuan yang melahirkan

Manusia seelok rupamu

Engkau diciptakan bersih dari segala noda

Seakan-akan engkau menciptakan dirimu

Sebagaimana kehendakmu

واحسن منك لم تر قطّ عيني

 واجمل منك لم تلـد النّساء

خلقت مبرّاً من كلّ عيبٍ

 كانّك قد خلقت كما تشاء

Seperti perpaduan warna pelangi, indah saat mendengar namanya dilantunkan, kiranya begitu dalam melihat sudut pandang indah kehidupan ini. Dan dalam agama pun sama, dalam memaknai keberagaman madzhab ataupun tradisi yang ada di sekitarnya, sehingga perbedaan tersebut terakumulasi dalam satu nuansa religius dan dengan sendirinya menciptakan keindahan, begitupun Nabi Muhammad SAW dalam menyikapi sesuatu yang berbeda dengan agamanya, menyikapi nonmuslim umpamanya, dengan begitu arif dan bijak beliau memperlakukan mereka dan berbaur dengan mereka tanpa memunculkan persepsi-persepsi yang bersifat diskriminatif.

Di dunia atau di Indonesia khususnya, acara seremoni atas sesuatu yang memiliki keterkaitan dalam agama sudah menjadi sebuah tradisi di setiap daerah, terlepas dari itu, teks agama secara spesifik tidak memerintahkan namun dengan indikator atas kecintaan umat islam tersebut, maka perayaan-perayaan seperti Muludan, Rajaban, Sya’ban, atau Muharraman telah melekat di dalam sanubari bangsa Indonesia, sehingga dengan begitu banyaknya suku, ras, bahasa, atau yang lainnya, maka perbedaan itu telah hilang dan telah tergantikan oleh keindahan yang berpangkal pada agama. Dan atas hal tersebut K.H. Husein Muhammad merefleksikannya dalam buku yang ditulisnya, yaitu Merayakan Hari-Hari Indah Bersama Nabi Muhammad, dan juga karena buya (begitu beliau disapa) telah banyak makan asam garam dalam perbedaan agama tersebut, terutama dengan isu-isu yang bersentuhan dengan perempuan juga pluralisme. Dan dengan hadirnya buku tersebut, maka buya seperti ingin mengatakan “cinta akan membuat hati menjadi terang dan kebodohan akan membuatnya gelap.”

Terlebih ketika belakangan begitu marak isu-isu sosial yang berbenturan dengan agama, dan apabila lebih di spesifikkan lagi maka isu radikalisme, pembid’ahan, pengkafiran begitu marak di Indonesia, alih-alih karena berbeda maka klaim-klaim tersebut bermunculan, dan yang lebih pilu ialah penghalalan atau legitimasi darah seseorang yang memang dianggap ‘berbahaya’ oleh kelompok-kelompok intoleran tersebut. Situasi perhelatan akbar dalam nuansa spiritual yang gegap-gempita, megah, damai, khidmat dan syahdu seolah-olah telah dilupakan oleh kelompok-kelompok yang bagitu anti-tradisi tersebut, dan telah menjadi sebuah tradisi pula bagi merka untuk memprovokasi golongan atau genre yang berbeda dengannya untuk ikut bersama mereka dengan tujuan ‘pemurnian akidah’ atau semacamnya, yang justru dengan anomali tersebut telah menodai keniscayaan bangsa Indonesia itu sendiri yang sedari dulu telah menjaga tradisinya yang begitu melekat.Puji-pujian terhadap baginda Nabi mungkin suatu saat tidak terdengar lagi jika hal-hal yang kontra –kultura tersebut terus terjadi di Indonesia, dan oleh sebab itu buya merefleksikannya dalam tulisan serta penjelasan yang santun di dalamnya. Bercerita perayaan-perayaan yang dilakukan oleh umat islam, sosok Nabi dari berbagai perspektif, hingga bahkan pengakuan atas non-mulim sendiri kepada baginda Nabi, dan buya menceritakan awal mula buya terprovokasi untuk penulisan buku ini, yaitu ketika pada suatu saat buya menghadiri “Majelis Shalawat Rasulullah” yang digelar di alun-alun masjid al-Taqwa, Cirebon. Yang pada saat itu alun-alun bagai lautan manusia, hingga buya menyaksikan betapa antusiasnya masyarakat kita dengan sesuatu yang bersifat relijius tersebut, terutama dalam memuji baginda Nabi Muhammad yang dilantunkan bersama-sama, hingga ada sebuah statement yang menyatakan ;

من لم يفرح بمحمّدٍ لم ير فرحًا ابدًا

“siapa yang tak bergembira dengan kelahiran Muhammad, dia tak akan pernah melihat kegembiraan selamanya”

Dan dengan banyak memuji baginda Nabi melalui berbagai ragam cara, maka kita semua tentuy berharapa agar suatu saat mendapatkan syafa’at pada hari kelak, dan dengan banyak membaca karya-karya ulama terdahulu mengenai biografi Nabi, baik aspek kepribadian serta moral-spriritualnya, maka kecintaan kepada baginda Nabi akan bertambah dan hati menjadi tenang, sebagaimana syaikh Yusuf al-Nabhani mengatakan dalm puisinya ;

اجمل العالمين خلقًا وخلقًا ما له في جماله نظراء

“Dia orang yang paling indah secara fisik dan budi pekertinya. Keindahannya tak tertandingi.”                 

Hingga begitu banyaknya selebrasi atas peringatan baginda Nabi tersebut maka begitu nyata antusias serta rasa solidaritas masyarakat dalam memperingati hari-hari besar dalam Islam tersebut, dan buya telah merangkumnya dalam sebuah buku yang berukuran sedang serta dengan bahsa yang mudah dipahami oleh banyak kalangan. Dan dengan hadirnya buku tersebut semogga bisa menambah pembendaharaan pemahaman kita dalam memahami Islam secara esensial dan menjadikannya sebagai nilai-nilai universal dalam aplikasinya. Amin.

 

Judul Buku                  : Merayakan Hari-Hari Indah Bersama Nabi Muhammad

Penulis                         : K.H. Husein Muhammad

Jumlah Halaman          : 225 Halaman

Penerbit                       : Qaf

Cetakan pertama         : Maret 2017

Comments

comments