Maulid; Kultus dan Ritus

“Ketidak tahuan akan sesuatu tidak mengharuskan ketidak adaan sesuatu.”-al-Suyuthi

0
308

Pada bulan Rabi’ul awal dalam kalender Hijriyah umat Islam seringkali mengadakan serangaian seremoni sebagai ungkapan atas rasa cintanya kepada baginda Nabi Muhammad Salallah ‘alaihi wasallam. Atau juga masyarakat sering menyebutnya dengan kata muludan yang sejatinya diambil dari kata maulid tersebut, karena dengan mengasimilasikan kata maulid menjadi mulud tersebut dapat menjadi sebuah artefak-bahasa lintas generasi, oleh sebab itu muludan seringkali di rayakan juga sebagai satu hari yang menyenangkan bagi masyarakat di manapun berada. Biasanya masyarakat memiliki cara tersendiri dalam peringatan maulid tersebut, seperti mengadakan sebuah lomba yang bertemakan Nabi atau sebuah kreasi yang ditampilkan pada hari H-nya, dan yang begitu menarik dari muludan tersebut ialah momentum khitan masal atau biasa dilafalkan dengan sunat masal, dan karena memang sermoni-seremoni seperti ini pada dasarnya ialah sebuah ekspresi kebajikan dari umat Nabi Muhammad tersebut, dengan kreatifitas, pikiran, harta atau pun yang lainnya.

Akan tetapi, terdapat gologan dari umat Islam sendiri yang mengatakan dan menyatakan bahwa seremonial seperti peringatan atas kelahiran atau maulid Nabi merupakan suatu yang dilarang dan acapkali di cap sebagai sesuatu yang mengada-ada (bid’ah), sebab hal tersebut merupakan sesuatu yang disyari’atkan, baik oleh Allah atau bahkan Nabi sendiri, oleh karenanya peringatan maulid yang dilakukan oleh orang biasa mendapatkan cibiran (meski tidak secara langsung) dari mereka, melalui propaganda serta hegemoni pemikiran atas orang-orang atau masyarakat yang mangadakan-mengikuti acara tersebut; ahlul bid’ah. Namun yang menarik ialah bahwa sebenarnya acara maulid tersebut telah berlangsung secara estafet dan dilakukn oleh para salafssalih. Hingga menjadi sebuah keberatan apabila maulid menjadi suatu pretensi yang ambigu.

Tendensi Maulid

Dalam kitab Bayan al-Qawim buah karya syaikh Ali Jum’ah bahwa perayaan maulid merupakan sebuah ekspresi yang lahir dari sanubari manusia atas jasa serta pribadi Nabi yang luhur dan santun, sebagaimana Nabi yang akan terus hidup dalam hati manusia dalam menyebarkan rasa cinta kasihnya seperti dalam al-Qur’an surat al-Jum’ah ayat 3

وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيم

“Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Perayaan dengan peringatan hari kelahiran Nabi SAW  adalah termasuk amal yang paling utama dan pendekatan diri kepada Allah . Dan juga dalam sebuah hadist di ceritakan bahwa siapapun yang mencintai manusia melebihi cintanya terhadap Nabi maka tidaklah sempurna iman yang dimiliki oleh orang tersebut. yang dalam hadistnya dikisahkan;

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ» رواه البخاري

“Tidaklah sempurna iman salah satu di antara kalian sampai aku lebih dicintainya melebihi anaknya dan manusia semuanya. (HR Bukhari)

Ibnu Rajab pernah mengatakan;

قال ابن رجب : {محبّة النبي صلى الله عليه وسلم من أصول الإيمان, وهي مقارنة محبّة الله عز وجل, وقد قرنها الله بها, وتوعد من قدّم عليهما محبّة شيءمن الأ مور المحبة طبعًا من الأ قارب والأموال والأوطان وغير ذلك}.

“Kecintaan kepada Nabi SAW termasuk di dalam pondasi keimanan, dan itu sebanding dengan kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla. Allah sendiri yang memperbandingkannya dan mengancam bagi siapa saja yang mendahulukan cinta kepada keduanya dengan cinta kepada sesuatu dari perkara-perkara kecintaan yang lumrah seperti kerabat dekat, harta, negara, dan lain sebagainya.”

Sehingga perayaan atas maulid Nabi tersebut menjadi sesuatu yang baik, perayaan maulid Nabi adalah perayaan yang ditujukan kepada Nabi SAW. Dan perayaan untuk Nabi SAW itu adalah hal yang disepakati secara syariat, karena perayaan ini merupakan bagian pokok dari pokok-pokok agama dan sokoguru yang utama. Maka sungguh Allah telah mengetahui derajat Nabi-Nya, dan bahkan seluruh alam semesta ini pun mengetahui namanya, mengetahui pengutusannya, mengetahui kedudukan dan derajatnya. Bahkan seluruh alam ini senantiasa dalam keadaan bahagia dengan kehadirannya dengan kebahagiaan mutlak karena turunnya cahaya Allah dan keagungan-Nya, serta karena nikmatnya kepada seluruh alam dan segala kebutuhannya.

Dan telah menjadi adat kebiasaan para ulama salafushalih sejak abad ke-4 dan abad ke-5 Hijriyyah untuk merayakan maulid Nabi dengan menghidupkan malam-malam Maulid dengan berbagai macam aktivitas pendekatan diri kepada Allah dengan makan bersama, membaca al-Qur’an, berdzikir, menyenandungkan syair-syair, dan puji-pujian kepada Nabi.

قال خاتمة الحفاظ جلال الديّن السيوطي في كتا به [حسن المقصد في عمل المولد] بعد سؤال رفع إليه عن عمل المولد النبوي في شهر ربيع الأ ول : ما حكمه من حيث الشرع, وهل هو محمود أو مذ موم, وهل يثاب فاعله؟ قال : {والجواب عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس, وقراءة ما تيسر من القرآن, ورواية الأخبار الواردةفي مبد إ أمرالنبي صلى الله عليه وسلم وما قع في مولده من الآيات, ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفن من غير زيا دة على ذلك هو من اليدع الحسنة التي يثاب عليها صحبها, لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والا ستبشار بمولده الشريف}

Khatimatul hafidz Imam Jalaluddin al-Suyuthi berkata di dalam kitabnya “Husnul Maqshad fii ‘Amalil Maulid” setelah menerima pertanyaan tentang perayaan maulid Nabi di bulan Rabi’ul Awwal: Apa hukum maulid secara syariat, apakah itu termasuk berbuatan terpuji atau tercela? Dan apakah yang melakukannya itu mendapat pahala? Imam al-Suyuthi berkata, “Dan jawabannya menurutku adalah bahwa hukum asal dari maulid itu yang dia mengumpulkan orang-orang, membaca ayat-ayat yang mudah dari al-Qur’an, dan menceritakan berbagai cerita yang datang di dalam masalah prinsip menyangkut diri Nabi, dan membacakan ayat-ayat yang berkaitan dengan kelahiran Nabi, kemudian mereka melanjutkan dengan hidangan makan yang mereka makan bersama dan kemudian mereka pulang dan tidak menambahkan acara lebih dari ini maka itu merupakan bid’ah hasanah yang diberi pahala siapa saja yang melakukannya. Karena di dalamnya terdapat pengagungan terhadap Nabi dan menampakkan dan menyebarkan kebahagiaan dengan kelahiran Nabi.

Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani, mengatakan:

والحاصل انّ الاجتماع لاجل المولد النّبويّ امرعاديّ ولكنّه من العادات الخيرة الصّالحة الَّتي تشتمل علي منافع كثيرة وفوائد تعود علي النّاس بفضل وفير لانّها مطلوبة شرعا بافرِادِها.

“Bahwa sesungguhnya mengadakan maulid Nabi merupakan suatu tradisi dari tradisi-tradisi yang baik, yang mengandung banyak manfaat dan faidah yang kembali kepada manusia, sebab adanya karunia yang besar. Oleh karena itu dianjurkan dalam syara’ dengan serangkaian pelaksanaannya.” Dan terdapat ungkapan yang mengandung konotasi sarkes atas mereka yang hobby membid’ahkan apa-apa yang dilakukan oleh sebagian besar umat Islam;

“نفي العلم لا يلزم نفي منه الوجود”

“Ketidak tahuan akan sesuatu tidak mengharuskan ketidak adaan sesuatu.”

Pengkultusan Perayaan Maulid

Gambar: Internet

Perayaan maulid memang tidak terdapat pada masa nabi, karena seperti apa yang di khawatirkan Nabi meninggalkan sesutu karena takut jika hal itu belai lakukan akan dikira umatnya bahwa hal itu adalah wajib dan akan memberatkan umatnya, seperti Nabi meninggalkan sholat tarawih berjamaah bersama sahabat karena khawatir akan dikira sholat tarawih adalah wajib. Oleh sebab, itu perayaan maulid secara umum di adkan oleh masjid ataupun mushalah dengan cara bergotong-royong, sehingga terbentuknya acara tersebut dan hidup. “Hidup” demikian Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan, ditandai dengan rasa, gerak, dan sadar. Maka maulid adalah sebuah peristiwa lahirnya seseorng yang empat puluh tahun berikutnya mencapai tingkat perbaikan diri yang bergema luas. Kelahirannya adalah awal dari tahapan hidup, setelah sebelumnya dijalani di dalam kandungan ibunda Aminah.  Dan perjalanan dalam kandungan ibunda adalah perjalanan yang seseorang tidak dapat mengusahakan hal-hal yang diinginkannya secara sadar. Ia merupakan perjalanan yang begitu saja harus dijalani (safar qahry). Setelah kelahiran, maka perjanan menjadi tersadari dan banyak hal yang dapat diusahakan (safar ikhtiyari) hingga tiba waktunyaseseorang meninggalkan fase ikhtiar itu untuk kembali menempuh safar qahry. Dan kematian jasad adalah gerbangnya. Begitu kiranya jika dianalogikan sebuah perjalanan seorang manusia, namun Nabi bukanlah manusia biasa seperti kita, beliau ialah seorang pembebas sekaligus penerobos kegelapan yang ‘mencengkeram’ bumi tandus,oleh sebabnya baginda Nabi merupakan sebuah ritus dan kultus bagi umatnya yang juga beliau sangat menyanginya. Namanya dibaca, sosoknya yang konon begitu menawan dan masih banyak lagi selain jasa terbesarnya tersebut.

Dalam Muqaddimah buah karya Ibnu Khaldun disebutkan bahwa “Adalah ketetapan bahwa panas itu menyebarkan udara dan uap serta menambahi kuantitasnya. Karena itu, orang yang mengalami kegembiraan luar biasa merasakan sesuatu yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Panas alami yang ada dalam hati orang tersebut menimbulkan luapan ruh sehingga menyebar dan memunculkan tabiat senang yang luar biasa.” Dan “ Begitu juga kita menemukan orang-orang yang bersenang-senang di pemandian. Ketika mereka bernafas dengan udaranya dan udara panas bertemu dengan ruh mereka, lalu membuatnya menjadi panas, maka timbullah rasa senang dalam diri mereka. Terkadang rasa senang tersebut membuat mereka bernyanyi-nyanyi.” Dan dalam konteks keindonesiaan, yang merupakan daerah tropis dan memiliki dua musim, maka masyarakatnya pun memiliki kecenderungan tersendiri, satu waktu ia panas dan lain waktu ia akan dingin dalam sikap dan perkataannya. Dan dalam menyikapi sesuatu seperti perayaan Nabi, pun masyarakat yang berad dalam iklim tropis akan menerimanya dengan lapang dada dan dengan apresiasi yang setingi-tingginya, sebab tanpanya apa jadinya Indonesia hari ini? Yang sampai saat ini pun masih dilingkupi oleh segudang permasalahan yang selalu di titikberatkan pada permasalahan agama.

Maka sudah seyogyanya apabila suatu perayaan yang bersinggngan dengan agama dan tidak disebutkan dalam teks-teks terdahulu, sebaiknya menimba ilmu lebih banyak dan membuka hati lebar-lebar yang semata-mata demi tegaknya agama Allah dan terciptanya ukhuwah Islamiyah tanpa terpecah-pecah seperti pada saat ini.

 

Kamis, 06 April 2017

Ahonk bae            

Comments

comments