Makkah al-Mukarramah (Makkah yang dihormati) adalah kota suci umat Islam pertama. Hari-hari ini kota itu tengah memperlihatkan kesibukan luar biasa. Tidak ada kota kecil di dunia manapun sesibuk dan seramai kota ini pada saat ini. Manusia dari beragam bangsa, beragam bahasa, beraneka warna kulit datang ke kota ini dengan seluruh eksistensinya, hanya dengan satu tujuan ; Menuju Rumah Tuhan. Haji, pilar Islam yang ke lima.

Di kota ini ada Ka’bah (bangunan kubus). Al-Qur’ân menyebutnya; rumah pertama yang dibangun untuk manusia beribadah kepada Tuhan. Beribadah kepada-Nya adalah Mengesakan-Nya dan meyakini bahwa hanya Dia Yang Maha Besar, Maha Agung.  Sejak dibangun Nabi Ibrahim, bapak para nabi, dibantu anaknya Nabi Isma’il sampai hari ini rumah tua (al-bait al-‘atiq) itu tidak pernah sepi dari orang yang berjalan mengitarinya sambil memuji Tuhan (tawâf). Pada musim haji (Syawal sampai Dzulhijjah) seperti hari-hari ini atau di luar bulan haji (umrah), ratusan ribu bahkan jutaan orang dari seluruh penjuru dunia datang ke tempat ini. Mereka datang dengan membawa selruh latarbelakang identitas dirinya yang beragam, paham keagamaan dan mazhab yang berbeda-beda. Ada mazhab Sunni dengan aneka faham fiqhnya, ada Syi’i (Syî’ah) juga dengan ragam alirannya, bahkan ada pula yang bermazhab Mu’tazilah (liberalis), mazhab Wahabi, seperti umumnya warga Arab Saudi, Ahmadiyah dan orang-orang yang tidak menganut aliran Islam apapun. Di tempat ini juga berkumpul masyarakat Indonesia dengan beragam partai politik, beragam organisasi keagamaan dan beragam pengetahuan agama dan beragam budayanya.

Sungguh indah sekali bahwa di tempat ini mereka ternyata bisa dan dapat bersatu, saling menghormati satu sama lain dan tertawa bersama. Mereka tidak mempertanyakan atau memperdebatkan semua latarbelakang yang beragam tersebut. Antara mereka sama sekali tidak melukai hati yang lainnya, tidak pula menuduh yang lain sebagai sesat dan menyesatkan, tidak mengkafirkan apalagi memusyrikkan. Semuanya bisa shalat berdampingan, berjalan beriringan dengan damai, saling menolong, bahkan juga tidak jarang saling memberi makanan, bercandaria dan minum Syai: Abu ‘Asyrah, dan lain-lain. Mereka menjadi makmum dari seorang imam yang bukan mazhab mereka. Tak lagi dipersoalkan apakah Imam membaca bismillah ketika membaca al Fatihah atau tidak. “Mazhab al Makmum Madzhab Imamih”. Bahkan di depan Ka’bah itu, laki-laki dan perempuan atau jenis kelamin lain bisa berjalan bersama, beriringan, salat berdampingan. Kadang mereka berebut mencium batu hitam (hajar aswad).

Sambil duduk, aku melihat pemandangan yang begitu indah.Mereka semua adalah hamba-hamba Tuhan. Mereka manusia-manusia yang menyerahkan diri hanya kepada Tuhan (Muslimun). Abd al-Qâhir al-Baghdadi menyebut mereka “ahl al-Qiblah” (penganut qiblat, orang shalatnya menghadap ke arah Ka’bah). O, betapa eloknya jika saja mereka bisa tetap mempraktikkan kebersamaan dan saling menghormati seperti itu ketika kembali ke negaranya, dan di manapun di atas bumi Tuhan ini, niscaya kehidupan akan menjadi indah. Tuhan sungguh Satu, Esa dan Maha Pengsih, Maha Penyayang.

Bila waktu yang ditunggu-tunggu tiba, yaitu tanggal 9 Dzhulhijjah, mereka berbondong-bondong, bergerak bersama-sama bagai gelombang lautan menuju ke suatu tanah tandus, maha luas, bernama Arafah. Di sinilah puncak ritual kolosal ini berlangsung. “Al Hajj Arafah” kata nabi besar Muhammad saw. Ketika Nabi dulu berhaji, beliau datang ke tempat ini dengan untanya, sesudah sebelumnya bermalam di Mina (tgl. 08 Zul Hijjah). Tetapi hari ini banyak cara bisa dilakukan orang; jalan kaki, naik Elf, bus pertengahan atau bus besar, bahkan kini, konon, rangkaian kereta listrik bakal mengantar para tamu Allah itu ke Mina, begitu matahari tgl. 09 zulhijjah, tenggelam. Di sini jutaan tangan di bawah tenda, di atas tanah terhampar atau di puncak bukit, ditadahkan  ke langit biru, mengharap ampunan dan Rahmat Tuhan. Sampai di sini semua orang mendengarkan dengan khusyu khutbah-khutbah yang disampaikan. Ini mengikuti petunjuk Nabinya. Nabi dulu berkhutbah di atas untanya. Beliau menyampaikan pidatonya yang sangat terkenal. Para sejarawan menyebutnya sebagai Pidato Perpisahan, karena tiga bulan sesudah itu Nabi tidak lagi hadir bersama umatnya untuk selama-lamanya. Beliau pidato tanpa pengeras suara memang, karena itu, Rabi’ah bin Umayyah bin Khalaf, mengulanginya dengan suara lebih keras kata-demi kata Nabi.

“Wahai sekalian manusia perhatikan kata-kataku ini. Akui tidak tahu kalau-kalau sesudah tahun ini dalam keadaan seperti ini, aku tidak lagi akan bertemu dengan kalian. Saudara-saudara, bahwasannya darah kamu dan harta benda kamu adalah suci buat kamu, seperti hari ini dan bulan ini yang suci, sampai datang masanya kamu sekalian menghadap Tuhan. Dan pasti kamu akan menghadap Tuhan. Pada waktu itu kamu dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatanmu. Barangsiapa diberi amanat tunaikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya”.

“Wahai manusia sekalian!, dengarkan kata-kataku ini dan perhatikan baik-baik. Kamu akan mengerti bahwa setiap muslim adalah saudara muslim yang lain dan kamu semua bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu dari saudaranya kecuali dengan senang hati diberikan. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri!” .

“Wahai manusia, dengarkan baik-baik, perlakukanlah isterimu dengan santun. Kalian sering memperlakukan mereka laiknya tawanan. Kalian tidak punya hak memperlakukannya, kecuali dengan cara yang santun”.

Demikianlah seterusnya. Pada setiap paragrap penting Nabi selalu mengatakan: “Hal ballaghtu?” (Bukankah aku sudah sampaikan kepadamu?).

Begitu Nabi selesai menyampaikan khutbahnya, beliau turun untanya al Qashwa’. Masih di tempat itu juga Nabi melaksanakan shalat Zhuhur dan Ashar. Kemudian menaiki kembali untanya menuju “shakharat”, batu besar. Pada waktu itu Nabi membacakan firman Allah yang baru saja diterimanya :

“Hari inilah Aku sempurnakan agamamu ini untuk kamu sekalian dan Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu, dan Aku suka kalian telah menyerahkan diri kepada-Ku (Islam). Itulah keyakinan yang benar”.

Begitulah, betapa indahnya kata-kata Nabi itu. Aku dan mudah-mudahan kita semua, senantiasa berharap kepada mereka yang berhaji merenungkan pesan-pesan kemanusiaan Nabi itu dalam-dalam, lalu memasukkan dan menanamkannya di sudut hati yang paling dalam, lalu mengekspresikannya dalam kehidupan sehari-hari, manakala mereka kembali. Dengan begitu, insya Allah mereka menjadi haji mabrur. Haji yang mabrur adalah manakala mereka sesudah itu (haji), tampil sebagai pribadi-pribadi yang jujur, memegang amanat, saling menghargai, tidak saling menyakiti hati saudaranya dan tetap bersatu meski dalam perbedaan. Makkah musim Haji memang indah. Ia adalah kota seribu cahaya, sejuta makna kemanusiaan.[]

Penulis: KH. Husein Muhammad

Comments

comments