Kurban Sebagai Ujian Kualitas Keimanan

0
1312
KH. Mahsun Muhammad
KH. Mahsun Muhammad

Daraltauhid.Com – Marilah kita bersyukur kepada Allah yang telah memberi nakmat kesegaran dan kesehatan, sehingga pada pagi ini, kita dapat melaksanakan salat Idul Ad-ha ini dengan penuh khusyu’ dan bahagia bersama ratusan juta umat islam di seluruh dunia. Marilah bersama sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Dan berusaha sekuat tenaga mendekatkan diri kepadanya, sebab Allah akan dekat dengan kita apabila kita mendekat kepadaNya dan Allah akan menjauh apabila kitapun menjauh dariNya.

Pada hari raya idul Adha ini, kita diingatkan kembali pada peristiwa yang pernah terjadi pada diri Nabi Ibrahim AS., Nabi Ismail AS., dan Siti Hajar AS. Sebuah peta sejarah yang akan membuka mata hati kita melihat perjuangan luar biasa hamba hamba tuhan dalam memperjuangkan nilai nilai ilahiyah.

Di dunia ini hanya ada dua orang yang mendapat gelar kehormatan kholilullah atau kekasih Allah. Yaitu Nabi Muhammad saw. dan Nabi Ibrahim karena ketabahan, ketegaran dan kesabarannya menerima ujian Allah.

Ketabahan dan ketegaran Nabi Ibrahim tercermin dalam kesehariannya, antara lain Nabi Ibrahim pernah dibakar hidup hidup oleh Namrud, diusir ayahnya karena menolak agama berhala dan karena keyakinannya terhadap agama Allah. Nabi Ibrahim juga pernah diperintah khitan dalam usia tujuhpuluh tahunan, berpuluh-puluh tahun menanti kehadiran seorang putra, namun setelah diberi seorang anak, Allah menyuruhnya agar menempatkan anak itu di tengah gurun gersang, tak ada air, tak ada tumbuh tumbuhan dan tak ada tanda tanda kehidupan disana. Kemudian setelah itu Allah menyuruhnya agar menyembelih anak itu. Dan Nabi Ibrahim bisa melewati ujian ujian ini dengan sempurna.

Ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya, yaitu nabi Ismail, timbul pertarugan sengit dalam hatinya antara kepatuhannya menjalankan perintah Allah, antara rasa kasih sayang seorang bapak kepada anaknya, dan antara bisikan syetan yang mebodoh bodohkan dirinya karena akan menyembelih anaknya sendiri.

Lama Nabi Ibrahim berpikir, merenung, dan menimbang nimbang, mana yang harus dipatuhi, perintah Allah atau menuruti naluri harinya sebagai orang tua. Apabila dia ingat perintah Allah, hatinya tegar dan ingin segera melaksanakannya, tapi apabila dia menengok anaknya, hatinya luluh, air mata berlinang, tak tega rasanya menyembelih anak sendiri. Berat, sungguh berat tugas ini.

Ahirnya pertarungan itu dimenangkan oleh imannya, yakni dia harus rela menyembelih anaknya sendiri demi mematuhi perintah Allah. Demikian juga Nabi Ismail ketika diberitahu bahwa dia harus disembelih . Dia menjawab : Ayah, jika ini benar tugas dan perintah Allah, Aku akan patuh menerimanya. Lakukanlah segera. Jawaban serupa juga terdengar dari mulut siti hajar.

Ketika Nabi ismail telah berbaring diatas batu, ketika pisau telah diletakkan di leher Nabi Ismail, Allah menggantinya dengan seekor gibas. Lebih lengkap kisah ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya surat Ash-shaffaat 102-1067:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ(102)فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ(103)وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ(104)قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ(105)إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu”, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Sampai kapanpun akal manusia tidak akan bisa menerima betapa seorang ayah menyembelih anak satu satunya dalam keadaan sadar dan penuh dengan naluri keayahan. Bila saja tak ada cahaya ilahi yang menerangi hati Nabi Ibrahim, pastilah Nabi Ibrahim tak akan pernah melakukannya.

Apa yang pernah terjadi pada Nabi Ibrahim ini, sesunguhnya menjadi pelajaran bagi kita untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah dan mementingkan apa saja yang Allah kehendaki, mengalahkan emosi diri dan menyingkirkan keduniaan demi untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada pemilik hidup dan kehidupan ini, melayani dan memberikan kembali apa yang pernah dipinjamkan-Nya kepada kita.

Mungkin jika perintah itu diturunkan pada manusia zaman sekarang yang rasionalis dan materialis yang cenderung mempertuhankan akal mereka, pastilah mereka akan mengajukan banding, atau mencari solusi rasional, atau pula meminta penafsiran kaji ulang terhadap ayat ayat seperti ini.  Namun demikianlah apa yang terjadi. perintah ini diturunkan kepada nabi Ibrahim, seorang yang memiliki iman sempurna, sehingga apapun yang terjadi, jika ini perintah Allah, dia rela menyerahkan jiwa, raga, diri dan egonya sendiri. Barangkali kita tidak bisa membayangkan jika perintah ini terjadi pada diri kita.

Sejatinya perintah penyembelihan anak sendiri yang diperintahkan Allah kepada Nabi Ibrahim ini hanyalah sarana uji coba untuk mengukur sedalam apa nilai keimanan manusia yang bernama Ibrahim itu, apakah dia mau melaksanakan perintah Allah yang diluar akal ini atau tidak? Mana yang lebih penting bagi Ibrahim ; anaknya atau Tuhannya?

Sebagai bukti bahwa ini semua adalah sarana uji coba keimanan adalah bahwa; setelah Nabi Ibrahim menorehkan lidah pedang di atas leher nabi Ismail, Allah memberi perintah kepada Nabi Ibrahim untuk mengganti Ismail dengan seekor domba. Allah berfirman:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Sebelum perintah kurban ini, Nabi Ibrahim diuji Allah untuk menempatkan anak dan istriya di sebuah hamparan padang pasir kering kerontang, tak ada sumber air, tak ada pepohonan dan tak ada tanda tanda kehidupan di atasnya.

Secerdas apapun pikiran manusia, hampir tak bisa merasionalkan bahwa Allah memerintah nabi Ibrahim menempatkan anak istrinya di tanah gersang dan tandus ini. Tetapi sekali lagi, Ibrahim dan keluarganya adalah manusia manusia beriman baja, sehingga betapapun tidak rasionalnya perintah ini, namun iman berkata lain. Dia patuh, pasrah dan melaksanakan apa yang Allah perintahkan.

Manusia ketika itu menilai bahwa tindakan ini sungguh ganjil dan tidak waras, akan tetapi kemudian ternyata justru di tempat itulah keberkahan melimpah ruah, sebab di tempat itulah kemudian dibangun ka’bah, memancar air zam zam dan jutaan orang dari seluruh penjuru dunia mendatanginya untuk melaksanakan ibadah haji.

Inilah rentetan sejarah yang patut kita renungkan bersama bahwa betapapun berat atau tidak rasionalnya suatu masalah atau tugas yang kita hadapi, atau hukum agama yang kita baca, tetapi apabila itu hukum Allah, maka akal harus tunduk, dan yakinilah bahwa dibalik ujian yang kita hadapi ada hikmah dibelakangnya.

Oleh karena itu, marilah kita yang pada tahun ini diberi rizki dan kemampuan melakukan kurban, mulai meluruskan kembali niat bahwa apa yang kita lakukan ini semata mata hanya karena Allah, untuk Allah dan hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah saja, bukan karena pujian orang,bukan karena mengharapkan imbalan dari manusia, tetapi mintalah imbalan kepada Allah agar kelak kitapun mendapat imbalan dari Allah. Jika nanti terbesit keinginan keinginan duniawi, maka segeralah membuangnya jauh jauh dan mohon perlindungan kepada Allah, ucapkanlah Astaghfirullohal ‘adzim A’udzubillahiminasysyaithonirrojim, aku lepas dari bisikan bisikan setan itu.”

Pada ahirnya marilah kita berdoa, semoga mereka yang berkurban diterima amal baiknya oleh Allah swt.

Jika pada hari ini tidak sempat menyembelih, maka menyembelih juga bisa dilakukan pada tanggal sebelas besok, atau dua belas atau tiga belas. Sementara bagi yang belum mampu melakukannya tahun ini merencanakannya untuk tahun depan. InsyaAllah niat kita berkurban pada tahun depan ini dicatat oleh Allah dan mudah mudahan dengan niat ini Allah memampukan kita melaksanakannya. Amin ya robbal alamiin.

Penulis: KH. Mahsun Muhammad MA.
Editor: Ilenmklgn

Comments

comments