Kisah Surya dan Samsu : Episode 1, “Masalah adalah Ujian dari Tuhan”

0
1162

Surya dan Samsu

Episode 1, “Masalah adalah Ujian dari Tuhan”

“Hidup di dunia ini tak lepas dari permasalahan, masalah merupakan cara Tuhan menguji manusianya. Dengan banyak ujian, orang jadi lebih tangguh.” Kalimat dalam novel itu ia garis bawahi. Ia berhenti membaca, memikirkan kembali kalimat yang mengusiknya itu. Surya, santri putra yang gemar membaca novel. Entah sudah berapa novel yang ia baca, ia sangat suka dengan dunia fiksi, terasa berwarna dan indah untuk dinikmati.

Tiba-tiba Samsu datang membubarkan lamunan Surya, “Wahai pecinta khayal, dunia mana lagi yang sedang kau singgahi?” goda Samsu pada teman sekamarnya itu.

“Ini nih Su, novel terbaru saya, ceritanya lebih menarik dari sebelumnya,” jawab Surya.

“Ah selalu begitu, setiap novel baru selalu kamu bilang lebih menarik,” balas Samsu. Surya merasa sedang diejek. “Segeralah kembali ke dunia nyata, di kantor ada orang tuamu yang sudah menunggu!” lanjut Samsu.

“Yang benar?” jawab Surya tidak percaya. Karena selama ini orang tuanya jarang sekali mengunjungi. Terkadang ia iri, dengan santri lain yang dikunjungi orang tuanya setiap bulan.

“Sejak kapan saya berbohong kepada teman sendiri?” Samsu meyakinkan Surya bahwa ia tidak sedang bergurau. Denga raut wajah penuh bahagia Surya meninggalkan temannya untuk menemui orang tuanya.

Setiba di kantor, ia melihat ibunya sedang menunggu, langsung saja ia sungkem kepada sang ibu. Sudah berapa bulan ia tidak berjumpa, kangen rasanya. Pengurus pesantren mempersilahkan mereka berdua untuk berbincang melepas kangen.

“Ibu sendirian datang ke sini?” Tanya Samsu.

“Ia, bapakmu sedang sakit, ia menitipkan salam untukmu.” Jawab ibu.

“Wa’alaika salam, semoga bapak lekas sembuh, ada perlu apa ibu kesini.” Tanya Samsu lagi. Ibu tersenyum.

“Ibu kangen dengan mu nak, betah rupanya kau disini?” balas ibu, Samsu mengangguk iya. “Oh iya, ini ibu bawa masakan kesukaanmu.” Lanjut ibu sambil menyerahkan rantang makanan, dengan senang hati Surya menerima.

“Sebenarnya ada hal penting yang ingin ibu sampaikan kepadamu nak” ibu mulai bicara dengan nada serius, Surya heran dan bertanya ada apa.

“Kesehatan bapakmu sekarang sudah tidak seperti dulu lagi, bapak sudah sering sakit. Dengan kondisi seperti itu bapak tidak mungkin bekerja keras seperti dulu,” ibu membuka pembicaraan. Mendengar itu, Surya sudah menebak bahwa ibu akan menyuruhnya boyong, berhenti belajar di pesantren dan tinggal di rumah.

“Ibu merasa sudah tidak sanggup membiayai pembayaran pesantren kamu,” air mata ibu menetes perlahan. Benar saja dugaan Surya, ia tidak bisa menjawab apapun. Ia sudah sangat betah di pesantren, ia sedang merasakan nikmatnya menuntut ilmu. Namun ia juga tidak mau egois, ia tidak mau menyusahkan ibunya.

“Bukan ibu tidak setuju, bahkan ibu sangat bahagia kamu bisa menuntut ilmu di pesantren ini, setidaknya kamu bisa mengerti mana yang baik dan buruk, dan kamu juga bisa mengajari adik-adikmu mengaji nanti.” Ibu mencoba menjelaskan, dan pikiran Surya kini melayang kepada kedua adiknya yang masih kecil, mereka juga butuh makan.

“Bagaimana nak?”  kini ibu bertanya langsung. Surya masih diam, bingung apa yang harus ia katakan. Ruang kantor menjadi sunyi, hanya ada bunyi detak jam dinding yang setia berputar. Surya tidak mau membantah perintah ibu, bukankah disebutkan dalam ayat Al-Qur’an,

” فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا “

“maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (Q.S Al-Isro ayat 23)

Baginya, ibu adalah tuhan yang terlihat, perintahnya tidak bisa ditolak.

“Satu bulan lagi kamu naik kelas, ibu tidak mau memaksamu. Ibu ingin kamu fokus belajar sampai ujian nanti. Setelah itu kiranya anak ibu ini bisa memikirkan perkataan ibu dengan bijak.” Rupanya ibu mengetahui kegelisahan anaknya. Dengan senyum hambar Surya mengangguk. Kemudian Surya mengajak ibu untuk makan bersama. Makanan tidak semua dihabiskan, ia sisihkan buat Samsu teman sejati.

Ibu sudah pulang, Samsu sangat senang menerima makanan dari Surya. Namun pikiran Surya masih belum tenang seperti diinginkan ibu. Ia masih harus memikirkan masa depannya. Kemudian ia teringat dengan kalimat dalam novel yang baru ia baca, “Hidup di dunia ini tak lepas dari permasalahan, masalah merupakan cara tuhan menguji manusianya. Dengan banyak ujian, orang jadi lebih tangguh.” Apakah Tuhan sedang mengujinya sekarang?

 

Bersambung…

 

Comments

comments