Kemiskinan dan Perempuan

Oleh KH. Husein Muhammad 21 Agustus 2005

0
521

Kata miskin berasal dari kosakata Arab. Dalam al Qur-an kata ini berikut derivasinya disebut sebanyak 69 kali, 23 di antaranya berkmakna kemiskinan. Secara literal Al Raghib al Ishfahani mengartikan miskin sebagai “sesuatu yang tetap, tidak bergerak”.Ini memberikan arti bahwa seorang yang miskin adalah orang yang tidak mampu melakukan apa-apa, tidak bisa bergerak dan tidak berdaya. Ia tidak bergerak, bisa karena kemalasannya, atau karena tidak ada peluang untuk bergerak atau karena ada faktor lain yang membuatnya tidak bisa bergerak. Sementara miskin dalam pengertian sehari-hari adalah “man la yajid ma yakfihi” (orang yang tidak dapat memperoleh sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya).

Dalam percakapan sehari-hari kita, kata miskin sering digandengkan dengan kata faqir (fakir miskin). Kedua kata ini secara substantif memiliki arti yang sama, tetapi ia berbeda pada sisi kwalifikasinya. Ibnu Jarir al Thabari mengatakan bahwa faqir adalah orang yang sangat membutuhkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi ia dapat menahan diri dari minta-minta, sementara orang miskin adalah orang yang membutuhkan tetapi ia minta-minta. ).(Tafsir, jilid XIV/308-309). Ini menunjukkan kemiskinan memiliki kwalifikasi lebih berat daripada faqir. Pandangan lain memberikan arti sebaliknya faqir lebih berat dari miskin.

Terlepas dari perbedaan makna fakir dan miskin di atas, kemiskinan hari ini mungkin menjadi kosa kata yang paling banyak dirasakan tetapi sedikit dibicarakan oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia. Pembicaraan paling emosional, paling bersemangat dan paling getol diperjuangkan adalah tema-tema yang berkaitan dengan isu keyakinan dan moral personal, seperti liberalisme, sekularisme, pelacuran, perjudian, dan sejenisnya. Sementara kemiskinan yang menjadi penyebab kematian berjuta-juta orang tampaknya tidak atau kurang begitu menarik. Pakar kemiskinan Jefrrey Sachs mengungkapkan bahwa bumi manusia setiap tahun ditinggal mati oleh antara 8 sampai 11 juta orang akibat kemiskinan ekstrim. Ini berarti sekitar 20.000 orang mati setiap hari. Mereka tewas mengenaskan dan sia-sia karena ketidakmampuan membeli obat atau membayar biaya rumah sakit, tempat tinggal yang kumuh, busung lapar, ketidakmampuan membeli air minum, ketidakmampuan bersekolah atau melanjutkan sekolah dan seterusnya. Fakta ini menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan salah satu ancaman terbesar abad ini.

“Al faqr huwa al maut al Akbar”, kefakiran adalah kematian besar, kata pepatah Arab. Sementara Nabi Muhammad saw mengatakan : “kaada al faqr an yakuna kufra”, kefakiran/kemiskinan dapat mengantarkan dan menjebak yang bersangkutan pada situasi dan perangkap kekufuran. Kekufuran berarti pengingkaran terhadap hal-hal yang sebelumnya dinyatakan sebagai kebaikan yang harus dijaga. Kekufuran berarti pengingkaran terhadap nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh agama dan oleh norma-norma masyarakat. Dengan kata lain seseorang yang dilanda kemiskinan memiliki potensi yang kuat dan besar untuk melakukan tindakan-tindakan kejahatan atau kriminalitas atau asusila dalam berbagai bentuknya. Kekuatan moral personal seringkali runtuh menghadapi sakitnya penderitaan akibat kemiskinan. Orang sering mengatakan “Tuntutan perut tidak bisa ditunda”, tidak seperti yang lainnya. Realitas manusia Indonesia yang beragama dengan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai prinsip utama memperlihatkan dengan jelas betapa moralitas keagamaan terkikis dan terdistorsi sedemikian besar. Korupsi yang merajalela di mana-mana menjadi indikasi lain dari kemiskinan di samping disebabkan oleh kerakusan. Kejahatan demi kejahatan dan dengan beragam bentuk telah menjadi fenomena sehari-hari dibanyak tempat. Kemiskinan ternyata telah menimbulkan komplekitas kerusakan sosial dan kesusilaan.

Al Qur-an dan Kemiskinan

Al Qur-an sebagai sumber utama dan pedoman kehidupan manusia dan masyarakat muslim sesungguhnya telah memberikan perhatian yang sangat tinggi terhadap problem kemiskinan ini. Banyak sekali ayat yang menegaskan keharusan umat manusia untuk menghapuskan kemiskinan melalui beragam cara yang mungkin di satu sisi dan mengharuskan mereka melakukan pemihakan kepada orang-orang miskin juga dengan beragam jalan yang baik pada sisi yang lain. Sejumlah ayat al Qur-an misalnya memerintahkan manusia untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. “Jika shalat telah ditunaikan, maka pergilah ke mana saja untuk mencari anugerah Tuhan (guna memenuhi kebutuhan hidupnya) dan selalu mengingat Tuhan”. (Q.S. al Jumu’ah,).”Carilah anugerah Allah untuk bekal kebahagiaanmu di akhirat dan jangan melupakan bagianmu untuk kenikmatan duniamu dan berbuat baiklah kepada siapa saja sebagaimana Aِِllah berbuat baik kepadamu”(Q.S. al Qashash,28:77). Sementara pada ayat yang lain al Qur-an mengecam keras orang-orang yang tidak menaruh kepedulian kepada orang-orang miskin. Tuhan menyatakannya sebagai orang yang mendustakan agama”.(Q.S. al Ma’un). Terhadap mereka yang menumpuk-numpuk kekayaan untuk dirinya sendiri dan tidak disalurkan untuk kepentingan sosial, Al Qur-an mengancamnya dengan siksaan yang berat di akhirat kelak. (Q.s. al Taubah, 34). Kepada masyarakat al Qur-an juga mewajibkan membayar zakat. Zakat merupakan sumber keuangan negara yang harus dikeluarkan dan diserahkan untuk kesejahteraan sosial. Dan kepada pemerintah al Qur-an mewajibkan agar menjamin kebutuhan-kebutuhan pokok warganya melalui zakat/pajak atau dana lain yang dihimpunnya dari orang-orang yang mampu. Para penafsir al Qur-an ayat 60 surah al Taubah, sepakat bahwa prioritas pembagian zakat harus diberikan kepada fakir miskin. Selain zakat Islam juga menganjurkan masyarakat untuk bersedekah seagai cara mengatasi kemiskinan masyarakat.

Demikianlah, kita melihat bahwa al Qur-an telah memberikan cara-cara, jalan dan pandangan tentang problema kemiskinan yang memungkinkan masyarakat mampu menghapuskan kemiskinan dan menyayangi orang-orang yang dihimpit derita kemiskinan.

Perempuan dan Kemiskinan

Meskipun kemiskinan dapat menimpa dan diderita oleh siapa saja, manusia laki-laki dan perempuan, akan tetapi realitas kemiskinan yang tengah melanda bangsa Indonesia, bahkan juga masyarakat dunia yang lain, memperlihatkan bahwa korban kemiskinan paling banyak diderita orang-orang yang lemah atau yang dilemahkan. Mereka adalah kaum perempuan dan anak-anak. Keadaan ini terjadi karena struktur sosial masyarakat masih menempatkan perempuan sebagai makhluk domestik dan sekaligus mendudukan mereka sebagai warga kelas dua (subordinat) Dalam struktur sosial yang seperti ini, perempuan akan selalu tergantung kepada laki-laki (suami).Keadaan ini pada gilirannya mereka lalu dipandang rendah, dimarjinalkan dan didiskriminasi dalam berbagai ruang kehidupannya terutama dalam akses ekonomi dan pendidikan. Struktur sosial patriarkhis selalu menciptakan kemiskinan dan kebodohan perempuan jauh lebih besar dibandingkan kaum laki-laki. Hidup mati perempuan dalam konteks masyarakat patriarkhis sangat tergantung pada laki-laki. Sepanjang struktur sosial ini masih terus dilanggengkan, maka kemiskinan perempuan adalah sesuatu yang niscaya.

Dalam konteks Indonesia yang tengah terpuruk dan dilanda kemiskinan yang cukup massif seperti hari ini, kita melihat dengan jelas bagaimana kemiskinan telah melanda ribuan bahkan jutaan perempuan. Ketika laki-laki atau suami miskin, atau menjadi miskin, karena ketiadaan pekerjaan atau di PHK, maka kaum perempuan paling banyak menderita jauhlebih banyak daripada kaum laki-laki. Namun demikian realitas juga menunjukkan kaum perempuan seringkali memiliki daya tahan tubuh dan mental yang lebih kuat dari kaum laki-laki. Kecintaan perempuan pada kehidupan anak-anaknya dan keluarganya mendorong mereka untuk bekerja keras. Mereka harus bekerja berganda-ganda. Fungsi pemberi nafkah keluarga yang selama ini diyakini menjadi kewajiban laki-laki, kini mengalami perubahan. Semakin hari semakin banyak kaum perempuan menggantikan fungsi tersebut. Ketidakberdayaan laki-laki (suami/ayah) menjamin kehidupan keluarganya telah memaksa perempuan (isteri/ibu) bekerja di luar rumah. Kita melihat dengan nyata pasar-pasar tradisional, buruh-buruh pabrik dan di sawah-sawah tampak sekali kaum perempuan jauh lebih banyak dari kaum laki-laki, dan ini semakin hari semakin membengkak. Kaum perempuan menerima kenyataan hidup yang pahit ini bukan hanya demi kebutuhan dirinya, tetapi juga keluarganya, anak-anaknya dan bahkan suaminya sendiri.

TKW dan Trafficking : Korban Kemiskinan

Pada perkembangan terakhir, problem kemiskinan yang menghimpit perempuan pada sisi lain telah memaksa (sebagian juga dipaksa) mereka mencari sumber-sumber ekonomi dengan berbagai cara dan di manapun, bahkan meski seringkali tanpa mempertimbangkan lagi nilai-nilai agama maupun budaya yang dianutnya. Fenomena tenaga kerja Indonesia di luar negeri yang kebanyakan perempuan menunjukkan kenyataan yang tidak bisa dibendung oleh kebijakan apapun, termasuk ketentuan pandangan agama konvensional yang melarang mereka ke luar rumah tanpa mahram. Para TKW tersebut menjalani pekerjaannya dengan mempertaruhkan risiko yang memungkinkan mereka direndahkan dan diperlakukan dengan kekerasan, bahkan tidak jarang menemui kematian. Kasus lain adalah perdagangan perempuan (trafficking in women). Isu ini telah muncul sebagai fenomena yang terus berkembang. Indonesia termasuk negara dengan jumlah kasus trafficking yang besar di dunia. Fenomena ini berlangsung bukan hanya di dalam negeri tetapi juga melintas batas geografis negara. Kajian-kajian ilmiyah tentang perdagangan perempuan dan anak menyebutkan bahwa ada sejumlah faktor mengapa perempuan menjadi korban trafficking. Beberapa di antaranya adalah faktor kemiskinan yang akut. Ini adalah yang paling banyak dijumpai. Selain itu adalah faktor pendidikan yang rendah, perkawinan di bawah umur, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, sempitnya lapangan kerja, pengangguran dan sebagainya. Faktor-faktor ini telah mendorong dan menggerakkan banyak perempuan terperangkap dalam kerja-kerja yang bukan menjadi pilihannya. Sebagian mereka terpaksa menerima menjadi pelacur atau Pekerja Seks Komersial (PSK). Sejumlah penelitian lapangan menemukan kenyataan bahwa pekerjaan sebagai PSK mereka lakukan antara lain dan yang paling banyak juga lantaran faktor ekonomi. Banyak di antara mereka adalah ibu-ibu rumah tangga. Mereka terpaksa melakukan “pekerjaan” itu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya ; untuk makan, sekolah dan untuk berobat. Sebagian lagi karena kekerasan di dalam rumah tangga (perceraian, tidak diberi nafkah dan lain-lain). Posisi gender mereka yang direndahkan mengakibatkan mereka tidak berdaya dan mudah terperangkap dan dieksploitasi secara seksual untuk kepentingan ekonomi pihak lain yang lebih kuat.

Kasus perdagangan perempuan sesungguhnya pernah diungkap oleh Al Qur-an melalui kasus perbudakan perempuan. Dalam sebuah ayat al Qur-an menyatakan. “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak perempuanmu untuk melakukan pelacuran padahal mereka menginginkan kesucian (tidak menghendakinya) karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa”.(Q.S. al Nur, 24:33).

Ayat di atas menegaskan paling tidak empat hal. Pertama, kewajiban melindungi mereka yang lemah atau dilemahkan. Dan seperti yang sudah dikemukakan, orang-orang yang dilemahkan pada umumnya adalah kaum perempuan dan anak-anak. Kedua, kewajiban memberi ruang kebebasan atau kemerdekaan kepada orang-orang yang terperangkap dalam praktik perbudakan. Ketiga, kewajiban menyerahkan hak-hak ekonomi mereka. Keempat, haramnya mengeksploitasi integritas tubuh perempuan untuk kepentingan-kepentingan duniawi (ekonomi, kekuasaan, kebanggaan diri).

Demikianlah, kita melihat dengan sangat jelas bahwa faktor utama yang menyebabkan banyak perempuan menjadi korban trafficking dan kejahatan kesusilaan lainnya – sebagaimana sudah dikemukakan- adalah faktor kemiskinan dan pendidikan perempuan yang rendah. Maka cara yang harus dilakukan adalah dengan menghapuskan kemiskinan itu sendiri, menyediakan pendidikan, membuka lapangan kerja bagi mereka dan seterusnya. Tugas ini tentu saja pertama-tama harus menjadi komitmen negara. Pemerintah baik di pusat maupun di daerah melalui berbagai institusi yang ada di dalamnya perlu menjalin aliansi strategis untuk membangun komitmen bersama bagi upaya menangani sumber atau akar masalah trafficking tersebut. Ini berarti bahwa pemerintah harus dapat memastikan kesempatan dan hak yang sama untuk lak-laki dan perempuan dalam mendapatkan akses pendidikan, pekerjaan, kesehatan. Upah pekerjaan perempuan harus dihargai sama dengan upah laki-laki. Pemerintah baik di pusat maupun daerah juga perlu membangun jaringan kerjasama secara sinergis dengan lembaga-lembaga masyarakat termasuk tokoh-tokoh agama dalam upayanya mencegah, menanggulangi dan menghapuskan praktik-praktik yang merugikan dan yang membuat derita serta memiskinkan perempuan, apapun bentuknya.

Cara lain yang lebih strategis meskipun mungkin membutuhkan waktu yang sangat panjang adalah menciptakan ruang budaya setara dan adil jender. Perempuan harus dipandang sebagai makhluk Tuhan yang sama dan setara dengan laki-laki dari sisi jender berikut seluruh hak dan kewajibannya. Perempuan harus diperlakukan secara terhormat dan dihargai, sama seperti terhadap laki-laki. Mereka tidak boleh direndahkan apalagi dieksploitasi dalam bentuk dan untuk kepentingan yang melanggar hak-hak dasar dan moral kemanusiaan. Dan semua orang tidak boleh membiarkan perempuan berada dalam keadaan tidak memperoleh akses pendidikan, pekerjaan dan kesehatan reproduksinya. Membiarkan kebodohan, kemiskinan dan kesakitan perempuan sama artinya dengan mempersiapkan generasi yang bodoh dan miskin.

Comments

comments