Islam Nusantara : Sebuah Refleksi

0
1337

wayang-arabPada hari-hari belakangan kita sering di gegerkan dengan istilah-istilah baru yang muncul, baik mulai dari istilah untuk teknologi, politik atau istilah keagamaan sekalipun. Seperti yang terjadi saat ini terdapat istilah Islam Nusantara yang telah digagas oleh Nahdlatul Ulama (NU), pada pra-Mukhtamar ke-33 kemarin di Makasar, yang kemudian digaungkan kembali pada muktamar di Jombang. Berbagai persepsi bermunculan akan adanya istilah tersebut, mulai dari persepsi sempit hingga persepsi luas atanya, ada yang pro dan tentu tidak sedikit yang kontra, namun dalam hal ini islam yang sejatinya ialah ruh di dalam berbagai elemen dan instansi telah menyeruak masuk, juga dalam perhelatan tradisi di Indonesia, seperti halnya mengacu dalam literatur klasik atau kitab-kitab pesantren maka di kenal istilah sebuah kaidah yang berbunyi :

” تغيّرالأحكام بتغيّر الأزمنة والأحوال والفوائد والنّيات ”
“perubahan hukum mengikuti sebab berubahnya zaman, situasi, adat, dan niat”

Maka sudah barang tentu legitimasi atas asas hukum islam seperti Al-Qur’an, hadist, ijma’, qiyyas yang dianalogikan sebagai barang baku, yang kemudian tidak sertamerta dijadikan asas prilaku, dan pola pikir dalam melegitimasi Islam dimana pun berada tanpa mengesampingkan sebuah perhelatan tradisi dimana Islam itu eksis. Atau dalam historikal wali songo dalam menyebarluaskan Islam tidaklah dengan ba bi bu atau secara leterlak, namun melalui kanal-kanal kebudayaan, seperti wayang, langgam, dan nyanyian-nyanyian lainnya yang pada waktu tersebut telah dahulu di isi oleh Hindu-Budha yang lekat dengan Trihitakarananya juga keluhuhuran-keluhuran yang di tularkan oleh missionaris agama tersebut, sehingga akulturasi yang terjadi adalah sebuah dialektika agama dan budaya. Dan merupakan hasil dari interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi dan segala bentuk upaya para wali songo yang estafetnya dilanjutkan oleh para kyai pesantren hingga saat ini. Atau seperti nasehat dalam al-Furuq imam al-Qarafi yang merupakan pengikut madzhab Maliki, beliau mengatakan “janganlah kalian terikat pada apa yang tertulis dalam kitab-kitab sepanjang hidupmu. Jika datang seseorang dari daerah lain yang meminta fatwa hukum kepadamu, maka janganlah kamu tarik kedalam budaya. Tetapi tanyakan dulu tradisi/budayanya, lalu putuskan dengan mempertimbangkan tradisi/budayanya, bukan atas dasar budayamu atau yang ada dalam kitab-kitabmu. Membakukan diri pada kitab-kitab yang ada sepanjang hidup merupakan kekeliruan dan ketidakmengertian dalam memahami tujuan yang dikehendaki para ulama masa lalu”. Dalam kutipantersebut tersirat akan pentingnya sebuah budaya ketika hendak dimasuki unsur-unsur yang baru, dalam arti analisis akan budaya sangatlah diperlukan prosesnya, seperti dalam kaidah mainstream dalam tradisi pesantren :

العدة المحكمة
Adat dapat dijadikan (pertimbangan dalam menetapkan) hukum.

Sehingga prosesi ritual seperti tahlilan, mapag sri, dan nadran ialah sebuah hasil perhelatan agama dan budaya atau tradisi yang telah lekat di Nusantara, sehingga dalam usahanya untuk meleburkan Islam di Nusantara ini diterima dengan baik oleh pemeluk agama dulu. Atau dalam pengertian KH. Said Aqil Siraj bahwa “Islam Nusantara adalah islam eksistensi islam yang santun, ramah, beradab, dan berbudaya. Serta tidak ia merupakan khososis tau tipologi dengan indikasi bahwa ia melebur dengan budaya, bukan memusuhi atau cenderung memberangus dengan upaya anarkis”. Yang belakangan mengisi dan mewarnai kegaduhan di Indonesia.

Sehingga dalam pandangan ahlussunnah wal jama’ah yang diakomodir oleh NU dengan tiga prinsipnya : tawassuth (toleran), tasammuh (seimbang), tawazzun (moderat), sehingga apa yang terjadi dalam dinamika keIndonesiaan dapat diminimalisir. Kemudian dengan melestarikan tradisi-tradisi yang telah berjalan secara simultan dapat juga dikoordinir dan dituntun ke arah yang lebih baik, seperti halnya tradisi sesajen, menabuh kentong sebagai tanda masuknya waktu merupakan pelestarian yang terus dijaga oleh Nahdlatul Ulama tersebut. Seperti dalam slogannya :

المحافظة على القديم الصّالح والأخذ بالجديد الأصلح
“melestarikan nilai-nilai tradisional yang relevan dan
adoptif terhadap produk-produk modernitas yang lebih baik”

Tanpa mindset yang inklusif (open mind), sulit rasanya untuk memungkinkan seseorang bisa menerima produk-produk modernitas yang menjadi nilai-nilai kebaikan dan kemaslahatan dunia modern. Sebagaimana disinggung di atas, bahwa syariat diturunkan bukan untuk kemaslahatan Tuhan, tetapi untuk kemaslahatan manusia. Kemaslahan manusia yang berkaitan dengan urusan kehidupan duniawi (sosial, ekonomi, politik, dll.), sangat dipengaruhi oleh dinamika ruang dan waktu, sehingga wujud kemaslahatan itu sendiri juga bersifat dinamis. Maka di sinilah manusia dituntut untuk senantiasa kreatif menggali dan mencari rumusan-rumusan kemaslahatan baru yang relevan. Karena Islam, setelah melalui sejarah panjang selama kurang lebih lima belas abad atau seribu lima ratus tahun, telah bertemu dengan berbagai macam peradaban. Dalam konteks pertemuan ini, Islam terserap ke dalam banyak dimensi kehidupan; rohani, politik, hukum, ekonomi, pengetahuan dan lain sebagainya. Di sinilah Islam menjadi agama dengan spirit kosmopolit. Sebuah spirit yang mengandaikan adanya gerak ganda antara proses menjadi lokal sekaligus menjadi universal. Proses pertama mengandaikan adanya penerimaan, pengimanan, penyerapan, pemahaman, penghayatan dan pelaksanaan oleh pemeluknya. Pelokalan ini dalam konteks keindonesiaan, meminjam istilah al-maghfur lah Gus Dur, adalah bentuk pribumisasi Islam. Yaitu upaya penerjamahan ajaran Islam yang tertuang dalam al-Quran dan al-Sunnah (hadist) melalui intepretasi atau penafsiran fiqhiyyah dengan menggunakan instrumen Ushul Fiqh dan Qawaid Fiqh. Tujuannya adalah memberikan landasan atau tendensi keagamaan untuk praktik-praktik masyarakat lokal tertentu tanpa mencerabut kesadaran mereka sebagai bangsa yang memiliki kebudayaan dan peradabannya sendiri.

Dalam upayanya yang panjang, Islam menjadi sebuah spirit kenegaraan, kebangsaan, dan kebudayaan dalam bingkai Indonesia yang dalam skala tertentu telah terkikis dan terdegradasi oleh pemahaman fundamentalis, terlebih aksi-aksi radikalnya yang kian memprihatinkan. Oleh sebab itu maka Islam Nusantara selain sebuah tipologi lebih efisien dikatakan sebagai tafsir atas sebuah kebudayaan, hal ini karena sifatnya yang substansial dan fleksibel yang dapat mengisi sebuah ruang eksis dalam segala sesuatunya. Sehingga tidak lagi terdengar atau terlihat aksi-aksi anarkis yang mengatasnakan agama sebagai legitimasi atas apa yang dilakukannya, atau mengutip kata dari RA. Kartini “Agama memang menjauhkan kita dari dosa tapi, berapa banyak dosa yang kita lakukan atas nama agama”. Dan pada hari sebetulnya yang begitu urgen bukanlah retorika yang berapi-api tentang suku, adat, agama, ras (SARA). Namun membangunkan kembali semangat-semangat NKRI yang pudar dalam bingkai kebhinekaannya, juga menjadikan semangat pancasila sebagai asas berkehidupan, saling menghargai, menjaga dan mengayomi bukan hanya sesama manusia, namun juga pada alam.

والله أعلم

Arjawinangun
Dar al-Tauhid, 23 April 2016

Comments

comments