ISLAM DAN ALAM

0
683
Realitas sosial yang kita saksikan dewasa ini memperlihatkan dengan transparan betapa kecenderungan-kecenderungan destruktif masih terus meluas baik dalam tataran sosial, ekonomi, politik maupun kebudayaan. Dan kita melihat dengan kasatmata pula betapa besar akibat buruk yang terjadi karena perbuatan-perbuatan itu. Tuhan mengatakan: “Telah nampak kerusakan di daratan dan di laut disebabkan oleh tangan-tangan manusia, supaya Tuhan menimpakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan Tuhan)”.(Q.S. Al Rum, 30:41).
Manusia hari ini seakan-akan telah menyingkirkan Tuhan dari hidupnya. Mereka sekan-akan tidak lagi mengakui hak-hak Tuhan atas mereka bahkan merampasnya. Hak-hak Tuhan adalah hak-hak kemanusiaan, karena Tuhan melalui ajaran-ajaran-Nya memang hadir untuk manusia, kemanusiaan dan alam. Dia menganugerahkan alam semesta untuk kesejahteraan semesta. Allah menyatakan : “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran lalu aku jadikan air itu menetap di bumi (tanah)… Lalu dengan air itu Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur; di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebagian dari buah-buahan itu kamu makan dan pohon kayu keluar dari Thursina (pohon zaitun) yang menghasilkan minyak dan menjadi kuah bagi orang-orang yang makan. Dan pada binatang-binatang ternak benar-benar terdapat pelajaran yang berharga bagi kamu”.(Q.S. Al Mukminun,23:18-21).
Tuhan melalui firman di atas mengingatkan agar manusia kembali kepada Tuhan. Jika semua orang beragama mengakui dan meyakini bahwa hanya Tuhan satu-satunya yang harus disembah, dicintai, diagungkan dan dipuja, maka pernyataan dan keyakinan ini seharusnya membawa konsekwensi-konsekwensi yang bersifat sosial, kemanusiaan dan alam. Dengan kata lain keyakinan ini seharusnya merefleksikan cita-cita kemanusiaan universal, kemanusian sejagat, termasuk di dalamya adalah menjaga kelestarian alam. Cita-cita itu adalah mencintai manusia, menghormati hak-hak mereka, melindungi alam dan melestarikannya, serta memanfaatkannya demi kesejahteraan bersama.
Jangan Merusak Alam dan Lingkungan
Belakangan ini bumi Indonesia yang subur-makmur, seakan tak pernah bosan ditimpa bencana Alam. Kerusakan lingkungan terjadi di mana-mana di darat maupun di laut. Banjir besar telah terjadi berkali-kali menelan banyak korban manusia. Padang ilalang dibakar tanpa batas. Kini kebakaran hebat dan meluas terjadi di banyak tempat dan menimbulkan ruang-ruang sosial muram bahkan gelap. Asap-asap beterbangan memenuhi angkasa raya dan ruang hidup dan berkehidupan manusia. Tak pelak jika ia lantas membuat manusia menjadi sesak dada, sulit bernafas dan menghirup udara kotor yang mampu mematikan.
Menurut Al Qur-an, sebagaimana sudah disebutkan, kerusakan-kerusakan ini adalah karena ulah kerakusan manusia dan tangan-tangan “jail” mereka. Mereka merusak lingkungan, tempat manusia dan binatang-binatang bereksistensi dan menikmati hidup. Maka kerugian yang diakibatkannya kembali kepada manusia juga.(Q.S. Al Rum, 30:41).
Eksploitasi tanah, penebangan, pembakaran pohon-pohon dan hutan secara liar dan tidak bertanggungjawab akan menimbulkan bahaya besar bagi keseimbangan ekologi, dan dalam waktu berikutnya akan membunuh manusia baik secara pelan-pelan maupun cepat. Penyalahgunaan alam seperti itu betul-betul bertentangan dengan etika ketuhanan dan kemanusiaan dan dikutuk dengan tegas. Pemanfaatan alam menurut Islam sama sekali tidak boleh mengabaikan eksistensi hewan dan tanam-tanaman. Lagi-lagi kita juga harus mengatakan bahwa tindakan mengabaikan eksistensi binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan akan berpulang akibatnya kepada manusia baik sendiri-sendiri maupun kolektif.
Dalam sejumlah ayat al Qur-an, Tuhan menyatakan bahwa seluruh alam semesta adalah milik-Nya (Q.S. Al Baqarah, 2:284). Manusia diberi izin tinggal di dalamnya dalam rangka memenuhi tujuan yang telah direncanakan dan ditetapkan Tuhan.(Q.S. Al Ahqaf,46:3). Dengan begitu alam bukanlah miliki hakiki manusia. Kepemilikan manusia hanyalah amanat, titipan atau pinjaman yang pada saatnya harus dikembalikan dalam keadaannya seperti semula. Bahkan manusia yang baik justeru akan mengembalikan titipan tersebut dalam keadaan yang lebih baik daripada ketika dia menerimanya. Nabi yang mulia mengatakan :”Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik dalam mengembalikan utangnya”.
Menanamlah selamanya
Islam selanjutnya menuntut manusia untuk menyelidiki dan memahami pola-pola Tuhan dalam alam. Termasuk dalam hal ini adalah pola perawatan dengan penuh kasih sayang dan sekaligus membuatnya menjadi indah. Lebih dari itu Islam juga menuntut manusia untuk menghidupkan tanah-tanah yang tidak produktif (ihya al mawat) dengan menanaminya pohon-pohon atau tanam-tanaman bukan hanya untuk kepentingan manusia hari ini tetapi juga untuk generasi manusia masa depan. Tuntutan ini berlaku sepanjang masa, bahkan sampai sebelum dunia ini kiamat. Sebuah hadits Nabi menyatakan : “Jika tiba waktunya hari kiamat, sementara di tanganmu masih ada biji kurma, maka tanamlah segera”.(HR. Ahmad).
Cirebon, 31-10-2015

Comments

comments