Innalillahi, KH. Prof. Dr. A. Chozin Nasuha Telah Tutup Usia

0
727

Arjawinangun– Kabar duka datang dari Cirebon. Tokoh nasional, ulama, dan juga profesor tafsir Alquran, Prof Dr KH Chozin Nasuha MA telah meninggal dunia.

Berita duka cita itu diperoleh cirebonplus.com pertama kali dari Pengasuh Pesantren Dar Attauhid Arjawinangun, Cirebon, KH Husein Muhammad lewat grup media sosial WhatsApp (WA). Kang Husein, sapaan akrab KH Husein Muhammad mengabarkan bahwa Kiai Chozin telah berpulang ke Rahmatullah pada hari Selasa (30/5) sekitar pukul 17.00.

Inna lillahi wainna ilaihi roji’un. Telah meninggal dunia, Prof Dr KH A Chozin Nasuha, Arjawinangun, Cirebon. Hari ini Selasa (30/05/2017) jam 17.00,” demikian isi pesan dari Kang Husein di grup WA Warga NU Cirebon.

Ungkapan duka cita langsung mengalir dari anggota grup, mulai dari ucapan belasungkawa hingga hadiah Surat Al Fatiha. Ada pula yang menanyakan penyebabnya.

Kang Husein pun langsung menjawab rasa penasaran anggota grup NU. Menurutnya, Kiai Chozin dalam kondisi sehat saat dipanggil Yang Maha Kuasa.

“Boten sakit. Pulang dari Sumber jam 14.00. Tiba di rumah jam 15.00. Terus krasae blenak, buka (puasa), terus istirahat, terus turu selawase,” ungkap ulama yang dikenal dekat dengan almarhum Kh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu dalam bahasa campuran Indonesia-Cirebon yang artinya tidak ada sakit sebelumnya, tetapi sepulang bepergian merasa tidak enak badan hingga terpaksa berbuka puasa, tidur, dan menghembuskan napas terakhir.

Lalu, siapakah KH Chozin Nasuha? Berdasarkan data yang diambil dari website atau blog pribadinya, ulama yang memahami ilmu tafsir itu bernama asli Ahmad Chozin. Ayahnya bernama Abdul Mu’iz bin Kiyai Nasuha bin Kiyai Zayadi. Ibunya bernama Sa’diyah binti Kiyai Sayuthi bin Kiyai Jahari bin Kiyai Adzra’i bin Kiyai Nawawi. Tokoh yang disebut akhir adalah pendiri Pondok Pesantren, Babakan, Ciwaringin, Kabupaten Cirebon.

Ketika berumur tujuh atau delapan tahun, Kiai Chozin masuk Sekolah Rakyat (sekarang SD) tetapi baru beberapa hari, Nyai Harmala binti Kiyai Nasuha (bibi) mengajak mengaji di pesantren. Saat itu ibunda seperti keberatan melepas, tetapi terjadi juga dan akhirnya dititipkan kepada Kiyai Ahmad Jawahir bin Kiyai Nasuha (paman) di Desa Cipeujuh, rumah milik Kiyai Ismail. Tetapi Kiyai Ismail sudah wafat, maka pesantren dikelola oleh Kiyai Ahmad Jawahir.

Di pesantren Kiyai Ahmad Jawahir, beliau tidak belajar kecuali membaca Alqur’an Juz ‘Amma, itu pun tidak mengenal huruf. Setelah satu tahunan lebih, diajak pulang ibunda tinggal di Kalitengah.

Menjelang umur sepuluh tahun, Ny Hj Masturah (bibi ibunda) tidak tega melihat kehidupan yang terombang-ambing, lemah energi, kekurangan gizi, tidak terpelihara dengan baik jasmani, ruhani dan pendidikannya. Maka atas persetujuan al maghfurlah KH Abdullah Syathari, ia dipelihara baik-baik untuk dididik di pesantren miliknya Desa/Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon. Mulai saat itu, ia menemukan kehidupan yang sangat senang, sejahtera, dan bahagia lahir batin.

Di pesantren, setiap habis salat salat subuh berjamaah mengaji Alquran kepada KH A Syathari, pagi hari belajar di SR, dan sore hari belajar di Madrasah Wathaniyah milik pesantren. Berkat pelajaran yang terarah, rapih dan sistematis, maka dalam beberapa bulan ia sudah bisa menulis dan membaca huruf Arab dan latin, bahkan menghitung dengan angka-angka.

Tiga tahun lebih di Pesantren Arjawinangun, akhirnya dijemput oleh keluarga dari Cipeujeuh, karena saat itu ayahnya meninggal. Mayat Ayah belum dikuburkan oleh masyarakat, sebelum ia datang. Setelah melihat wajah sang ayah, mayat pun dikuburkan di Desa Asem, dekat kompleks kuburan Kiyai Isma’il.

Semasa hidup, almarhum mengikuti dua model pendidikan yakni pesantren dan madrasah. Pendidikan pesantren ditempuh di pesantren milik KH Abdullah Syathari dari tahun 1950-1963 di Arjawinangun. Ilmu agama dari tingkat ibtidaiyah sampai aliyah dapat dikuasai dari madrasah, plus kitab kuning yang dipelajari dari pesantren. Sebagai tambahan pelajaran kitab kuning, Kiai Chozin mengaji pasaran selama satu bulan puasa di Pesantren Al Hidayah Lasem asuhan KH Maksum, murid KH Muhammad Khalil Bangkalan, Madura. Ia juga ngaji pasaran di Pesantren Poncol Bringin, Salatiga diasuh KH Ahmad Asy’ari, salahsatu murid KH Hasyim Asy’ari, Jombang.

Setelah keluar dari Pesantren Arjawinangun (1963), masuk Pesantren Krapyak, Yogykarta selama satu tahun dan mengaji kepada KH Ahmad ibn Munawwir, sambil kuliah di semester I Fakultas Syariah IAIN Yogyakarta. Setelah memasuki semester berikut sampai selesai kuliah, ia tinggal di Asrama Mahasiswa Wisma Sarjana yang dibangun Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) di Demangan Baru, Yogyakarta. Pada masa itu, mendapat kiriman dana setiap bulan dari pamanda KHA Makki Rafi’i MA, alumni Universitas Al Azhar Kairo yang menjadi dosen IAIN Raden Fatah Palembang. Ia pun lulus Sarjana Muda tahun 1966 dan Sarjana Lengkap awal tahun 1971.

Pada tahun itu juga saya diangkat menjadi dosen tetap di Fakultas Syariah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam masa itu, ia kembali ke pesantren Arjawinangun.

Masih dalam tugas sebagai dosen, ia pun melanjutkan studi Strata Dua (S2) tahun 1984 dan lulus 1986. Dilanjutkan Strata Tiga (S3) tahun 1986 dan lulus tahun 1990 di Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Dari studi itu, ia mendapat gelar doktor dalam Ilmu Tafsir Alquran dan pada tahun 2004 diangkat menjadi guru besar dengan gelar profesor. (*)

Comments

comments