Eksistensi al-Barzanji Sebagai Sumber Awal Sejarah Islam (kenabian) di Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun

Oleh: Ghina Alawiyah

0
609

Al barzanji, sebuah kitab karya Syekh Jafar Al Barzanji bin Hasan bin Abdul Karim yang sangat luar biasa. Di dalamnya mengandung banyak pengetahuan tentang kenabian dan syair-syair kepada Nabi Muhammad  yang di rangkum dalam karya sastra luar biasa. Karya tersebut awalnya berjudul ‘Iqd al Jawahir  tetapi kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi masyarakat atau ormas Islam terbesar di Indonesia yang mengunggulakan ke tradisionalannya menjadikan barzanji sebagai sebuah tradisi pemersatu sebagaimana tahlil dan manaqib. Banyak pesantren NU yang mengadakan marhabanan atau pembacaan barzanji pada setiap malam jum’at selepas tahlil dan sholat jama’ah Isya. Salah satunya Pesantren Dar Al Tauhid di Arjawinangun Cirebon.

Pembacaan al barzanji di Pesantren Dar Al Tauhid ini sudah berlangsung  sejak lama bahkan mungkin sejak awal didirikan. Karena pendiri pesantren ini yaitu KH. Abdullah Syathori adalah murid langsung dari Hadratussyaikh Hasyim Asyari. Ini adalah tradisi yang mengakar kuat. Sayangnya, ketradisian pembacaan barzanji ini tidak diseimbangkan dengan pengetahuan tentang isi dari barzanji tersebut. Dewasa ini, banyak santri yang tidak tahu makna dari tiap kalimat di dalam barzanji. Ini berarti secara tidak langsung dalam beberapa dekade ini Barzanji tidak berperan sebagai sumber awal sejarah Islam bagi santri Dar Al Tauhid. Padahal Barzanji adalah kitab yang paling awal dan sering mereka baca daripada kitab lain yang hanya dibaca di madrasah.

Banyak santri yang mengatakan bahwa pengetahuan awal tentang sejarah Islam mereka dapatkan dari kitab di madrasah seperti khulashoh Nurul Yaqin. Mereka juga mengatakan bahwa mereka mengerti sekilas mengenai isi Barzanji setelah bertahun-tahun mempelajari nahwu shorof.

Nurkholish majid, seorang ustadz dan santri senior di pesantren ini menyatakan bahwa dulu pernah ada kajian tentang kitab Barzanji ini. Itupun sudah bertahun-tahun lalu. Dia mengatakan bahwa tidak dijadikannya kitab Barzanji sebagai bahan kajian dikarenakan pergeseran kitab dan penerapan kirikulum baru. Sangat disayangkan. Sebuah tradisi yang sangat mengakar kuat, bukan hanya di Pesantren Dar Al Tauhid tapi juga NU secara umum hanya cukup sebagai tradisi saja, buka alat pengetahuan dan pembelajaran.

Comments

comments