Distorsi dan Kepentingan

Oleh : Muhammad

0
191

Distorsi dalam sebuah makna kerap sekali terjadi. Hal ini dikarenakan perubahan karakter masyarakat. Memang tak dapat dipungkiri bahwasannya perubahan adalah sesuatu yang niscaya. Karena perubahan adalah salah satu ciri khas masyarakat yang berkembang. Entah perubahan itu berawal dari makna positif, atau sebaliknya.

Gelar ‘Haji’ yang disematkan pada nama seseorang yang pulang kembali pasca beribadah haji di tanah suci saat zaman kolonial adalah penanda agar mereka diwaspadai. Pemerintah kolonial mencurigai mereka yang selepas berhaji memberontak dan mengadakan perlawanan, karena mereka memiliki pengaruh politik yang begitu besar di masyarakat. Hal ini disebabkan para ulama Nusantara banyak yang mengajar di Masjidil Haram meniupkan semangat-semangat anti kolonial. Sebut saja Syekh Khathib Al-Minangkabaui, Syekh Junaid-Al Batawi, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Arsyad Al-Banjari dan sebagainya.

Sir Thomas Stamford Raffles dalam bukunya History of Java, menuliskan dua aspek negatif mengenai haji. Pertama, mereka dianggap sebagai orang istimewa dan suci, sehingga rakyat sederhana terlalu cepat berkesimpulan bahwa mereka mempunyai kekuatan gaib. Pemikiran ini timbul karena latar belakang rasionalisme. Kedua, ada unsur politik, karena dengan adanya pemikiran seperti ini, para haji mempunyai pengaruh politik dan sering berperan sebagai pemimpin pemberontakan terhadap orang Eropa. Namun, pada masa kini, gelar haji hanya sebuah gengsi dalam meningkatkan strata sosial dan menaikkan kelas. Ia kehilangan ruhnya, bukan lagi sebagai penyulut dan pemimpin gerakan resistensi yang berpihak kepada rakyat kecil.

Kalimat Pribumi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti ‘Penghuni asli; yang berasal dari tempat yang bersangkutan.’ Secara etimologi, kata ‘Pri’ bisa juga diartikan mempunyai dan ‘Bumi’ artinya tanah. Kedua kata ini disadur dari bahasa Sansekerta. Kata pribumi umum digunakan pertama kali pada masa kolonial, dibuat untuk tujuan politik.

Pada masa kolonial, masyarakat Nusantara dibagi menjadi tiga strata. Pertama, Golongan masyarakat Eropa kulit putih yang berasal dari Belanda maupun negara benua Eropa lainnya. Kedua, Golongan Arab dan Asia Timur yang disebut dengan Vreemde Oosterlingen dalam undang-undang kolonial. Golongan ini lebih berkonsentrasi dalam dunia perdagangan. Perumahan merekapun terkonsentrasi dalam satu lingkungan. Bisa dilihat pada masa sekarang peninggalannya seperti daerah Pecinan, Kampung Arab, dan lain sebagainya. Ketiga, Golongan Pribumi yang disebut Inlander. Golongan ini mencakup penduduk asli daerah tersebut, semisal suku Jawa, suku Sunda, suku Batak, suku Bugis, dan lain sebagainya.

Tujuan diadakannya stratifikasi sosial pada zaman itu bertujuan membatasi dan mengawasi interaksi sosial, politik, dan ekonomi. Golongan  pribumi mendapat kelas paling bawah dalam strata. Mereka mendapatkan perlakuan dan hak terbatas dalam kebijakan kolonial. Seperti pengadaan tanam paksa dengan menjual kepada pemerintah dengan harga yang rendah, atau sebagai buruh proyek pembangunan dengan upah yang kecil.

Akhir-akhir ini, kata pribumi kembali populer, namun bukan dalam konotasi yang seperti dipahami pada zaman kolonial. Ia dipakai untuk sebuah ‘kebanggan’ menghadapi identitas yang dianggap oleh mereka—yang hanya segelintir orang—adalah ‘asing’. Pernyataan yang lebih mengarah kepada pengakuan rasis untuk zaman sekarang yang mana perkara yang berbau rasis menandakan rendahnya pengetahuan mereka. Walaupun secara politis, kata ini sama dipakai untuk stratifikasi, namun kini ia dipakai dalam kelas yang lebih tinggi. Faktanya, tidak ada istilah pribumi menurut pandangan kependudukan Indonesia. Semua penduduk Indonesia menurut negara adalah sama, tidak ada di Kartu Tanda Penduduk (KTP) kolom suku.

Sebuah kata secara esensial bebas nilai. Tergantung siapa dan apa tujuan menggunakan kata tersebut. Entah itu tujuan politik atau sosial. Kesepakatan masyarakat bisa mempengaruhi nilai sebuah kata. Kepentingan juga mempunyai efek yang lebih besar terhadap objek yang dipakai sebagai alat untuk memuluskannya. Pada akhirnya, akal harus digunakan untuk menelaah dan cross-check terhadap asal-muasalnya, agar tidak terjerumus oleh arus dan dijadikan sebagai alat dalam memenuhi sebuah kepentingan.

Muhammad

Adalah alumni pesantren Dar al-Tauhid dan sekarang sedang menempuh pendidikan di Al-Azzar Kairo

Comments

comments