Di Balik Ayat Puasa

Oleh : Muhammad Hamdan

0
317

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqoroh : 183)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Ayat di atas sering kita jumpai ketika bulan ramadhan, baik dalam ceramah, televisi, radio, media cetak dan media lainnya. Kini sudah memasuki sepuluh hari kedua kita menjalankan ibadah puasa. Ritual menahan diri dari hal-hal yang membatalkan seperti makan, minum, melakukan hubungan badan antara suami istri dan hal yang membatalkan lainnya. Ritual tersebut  dijalankan mulai dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari.

Puasa sendiri merupakan suatu ibadah tradisi, di mana umat terdahulu sebelum umat Nabi Muhammad SAW (baca; Muslim) juga melaksanakannya, seperti yang termaqtub dalam ayat di atas, terdapat kalimat:كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ yang artinya, “sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu”. Dalam ayat ini, tersirat makna bahwa sebenarnya puasa bukanlah ibadah yang baru dilaksanakan ketika kedatangan Islam, akan tetapi sudah dilaksanakan jauh sebelumnya. Puasanya umat terdahulu misalnya puasanya Nabi Daud yang satu hari puasa satu hari tidak, kemudian ada puasanya Nabi Nuh yang dilaksanakan selama tiga hari pada tiap-tiap bulan. Para pakar perbandingan agama mendapatkan data bahwa sebelum mengenal agama Samawi, orang-orang Mesir kuno, orang-orang Yunani dan Romawi telah mengenal  puasa. Demikian juga dengan orang-orang Majusi, Budha, Yahudi dan Kristen. Bahkan satu riwayat menerangkan bahwasanya manusia pertama yakni Nabi Adam AS juga melaksanakan puasa.Sedangkan untuk umat islam sendiri, puasa mulai diwajibkan pada tahun kedua hijriyah, lebih tepatnya pada tanggal 10 Sya’ban (melihat kapan turunnya ayat tentang perintah puasa tersebut).

Melihat penjelasan dari semua itu, maka puasa menjadi satu ibadah yang sangat penting. Lalu seberapa pentingnya puasa, dan apa sebenarnya tujuan orang-orang menjalankan ibadah puasa?

Puasa merupakan satu ibadah yang istimewa, di mana dalam pelaksanaanya tidaklah mudah untuk dijalankan. Saya katakan tidak mudah karena puasa merupakan ibadah yang dalam pelaksanaanya dibutuhkan latihan fisik dan psikologis, fisik kita dilatih menahan lapar dan haus agar kita juga peka terhadap penderitaan orang-orang miskin. Secara psikologis kita dituntut untuk bisa berfikir sehat, pengendalian emosi serta menahan amarah dan hawa nafsu, ini merupakan hal yang sangat penting dalam ibadah puasa. Selain itu puasa juga dapat menghindari penyakit hati. Orang bisa saja riya ketika dia sedang melaksanakan sholat, sehingga ia memperlama sholatnya. Ketika shodaqoh di depan orang lain maka nominal uangnya diperbanyak, setelah pulang melaksanakan ibadah haji mempamerkan jubah dan peci putihnya. Tetapi ketika sedang berpuasa, apa yang mau dipamerkan? karena hanya diri sendiri dan Allah lah yang tahu apakah sedang berpuasa atau tidak. Maka dalam puasa dibutuhkan juga ketulusan.

Melihat istimewanya ibadah puasa, maka Allah memakai kata آمَنُواpada awal ayat, karena orang beriman diyakini mampu untuk melaksanakannya. Kenapa Allah tidak memakai lafadz selainamanu, semisal“ya ayyuhannas atau ya bani adam, ataupun ya ayyuhal muslimun”. Ini artinya, perintah pelaku puasa “hanya” ditunjukan dan bisa dilakukan oleh orang-orang yang beriman (amanu) saja, artinya perintah ini khusus dan spesifik.Sekali lagi karena puasa merupakan ibadah yang istimewa maka perintahnya pun ditunjukan untuk orang-orang khusus.

Tujuan puasa bagi umat islam dijelaskan langsung oleh Allah SWT bersamaan dengan ayat diwajibkannya, Allah menggunakan kalimat لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ yang mempunyai arti “supaya kalian bertaqwa”. Lafadz la’alla sendiri mempunyai faidah للترجي yaitu mengharapkan sesuatu yang mungkin terjadi. Faidah tarojinya tidak kembali ke Allah, karena mustahil Allah mengharapkan sesuatu, tetapi faidah tarojinya للموجح الى المخاطبين yakni ditujukan kepada lafadz يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا , orang-orang beriman mengharapkan taqwa.  Atau ada pendapat lain bahwa lafadzh la’alla disini juga berfaidah للتعليل(memberikan alasan), maka kalimat لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  berfaidah لتتقوا, artinya maka menjadi alasan berpuasa itu adalah supaya kamu bertaqwa.

Setelah lafadz la’alla, Allah menggandengnya dengan lafadz tattaqun (kata kerja) bukan dengan lafadz muttaqun (kata benda) yang mempunyai arti bertaqwa. Selain karena alasan mencocokkan pada lafad la’alla, penggunaan kalimat tattaqun  menunjukan bahwa taqwa adalah sebuah proses yang dinamis dan tidak berhenti sepanjang hidup.

Selanjutnya kenapa ibadah puasa yang berat dan istimewa itu diganjar dengan taqwa. Taqwa sendiri merupakan karakter terbaik yang ingin dicapai oleh setiap muslim dengan berbagi ibadahnya, Allah memberikan penghargaan tertinggi kepada hambanya yang mencapai derajat taqwa, sebagaimana firmannya, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.”  (QS. Al-Hujurat : 36). Sepadan rasanya jika ibadah puasa yang dalam pelaksanannya sangat berat kemudian diganjar dengan taqwa. Sedangkan untuk ciri-ciri orang bertaqwa, Allah menjelaskannya dalam QS. Ali Imron ayat 134, “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya),baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Melihat penjelasan di atas, maka الصِّيَامُ (puasa) bisa dikatakan sebagai proses, in put-nya yaitu آمَنُوا (orang-orang yang beriman) dan out put-nya yaitu تَتَّقُونَ (taqwa). Berhasil tidaknya orang berpuasa ialah dinilai dari tingkat ketaqwaanya. Jika taqwa merupakan out put, maka kita melihatnya setelah puasa itu selesai. Jika saat berpuasa dia terlihat lebih taqwa itu wajar karena sedang dalam proses dan terbawa suasana. Maka sudah seharusnya bagi orang yang menjalankan puasa, ketika setelah selesai berpuasa ia menjadi lebih dermawan, lebih bisa mengendalikan amarah, lebih memaafkan dan sebagainya. Out put akan sesuai dengan prosesnya, karena usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Maka penggunaan kata آمَنُوا pada awal ayat dan kata تَتَّقُونَdi akhir ayat bukanlah asal pilih kata untuk mendampingi kata الصِّيَامُ. Puasa dengan latihan fisik dan psikologis juga bisa diibaratkan sebagai madrasahdengan fasilitas dan kurikulum terbaik yang menciptakan lulusan orang beriman dengan ketaqwaan tingkat tinggi. Namun sebaik-baiknya madrasah tetaplah harus didukung oleh usaha yang sungguh-sungguh dari diri sendiri selaku santri ataupun pelajar, tanpa itu semua puasa hanyalah madrasah dengan fasilitas dan kurikulum terbaik yang mubadzir.

Muhammad Hamdan

Adalah santri Dar al-Tauhid dan Mahasiswa Insitut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon

Comments

comments