Barang Langka Itu Bernama “Diam”

Oleh : Saefullah Thaher

0
337

Lebih dari 14 abad yang lalu, melalui sebuah haditsnya Rasulullah SAW menyampaikan sebuah pesan singkat. Mudah dipahami dan dimaknai, tetapi saya rasa bukan perkara mudah untuk diamalkan. Beberapa abad kemudian, Imam Nawawi memilih pesan ini dari ribuan pesan Rasul untuk masuk pada 42 pesan-pesanRasul pilihannya. Pesan sederhana itu berbunyi begini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ

“Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam”

Iman kepada Allah dan hari akhir adalah hal yang asbtrak. Ia terdiri dari pengakuan atau ikrar. Siapa pun bisa mengakui bahwa ia percaya kepada Allah dan hari akhir. Dalam hadits ini, Rasul hendak mendeskripsikan siapa yang memang betul-betul dapat disebut sebagai orang yang beriman. Salah satunya adalah mereka yang mampu berkata baik atau diam.

Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW memberikan dua opsi bagi mukminin. Perkataan yang baik atau diam. Pilihan tersebut mengarahkan pada anjuran untuk berhati-hati dalam berucap. Bahwa akan selalu ada dampak bagi setiap apa yang terucap dari mulut kita. Dalam al-Quran, Allah SWT mengingatkan kita:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainakan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf : 18)

Dalam tafsirnya, Imam al-Baghawy meriwayatkan sebuah keterangan yang sanadnya berpangkal dari dari Abu Imamah bahwa sesunguhnya malaikat yang bertugas mencatat kebaikan berada di sebelah kanan seseorang, sementara pencatat keburukan berada di sisi kiri orang tersebut. Pencatat kebaikan akan mencatat setiap perkataan baik yang teucap dengan hitungan 10 kebaikan. Sementara apabila seseorang mengatakan keburukan, maka malaikat sebelah kanan akan berkata pada malaikat sebelah kiri:

دعه سبع ساعات لعله يسبح أو يستغفر

Tunggu dia selama 7 jam. Semoga dia lekas bertasbih atau beristighfar kepada Tuhannya

Hadits dan keterangan tersebut menunjukkan Maha Adilnya Allah SWT. Allah akan memberikan balasan bagi setiap ucapan yang keluar dari mulut kita. Meski demikian, Allah selalu memberi kesempatan bagi hamba-hamba-Nya yang melakukan kesalahan untuk bertaubat dan menghapus keburukannya dengan kebaikan. Hal ini dapat terlihat dari mekanisme dimana setiap pencatatan ucapan buruk akan ditahan selama 7 jam. Berbeda dengan pencatatan amal kebaikan yang langsung dicatat bahkan diberikan 10 kali pahala kebaikan untuk setiap kebaikan yang terucap.

Dalam ayat lain, Allah juga telah mengingatkan kita untuk senantiasa berhati-hati dalam berucap dan tidak berucap kecuali kita telah mengerti dampaknya dan memiliki ilmu atas apa yang kita ucapkan.

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya sesungguhnya pendengaran, pengelihatan, dan hati seluruhnya itu akan dimintai pertanggungjawaban” (QS. Al-Isra : 36)

Ayat di atas menunjukkan bahwa perkataan baik, sekalipun lebih diutamakan daripada opsi diam karena lebih dulu disebut oleh nabi dalam hadits, juga memiliki tantangan yang lebih. Adalah kita harus memastikan bahwa apa yang kita ucapkan merupakan kebaikan. Kita harus memastikan bahwa apa yang kita ucapkan tidak menimbulkan kemafsadatan.

Tantangan ini lah yang sekiranya sulit untuk dilakukan. Terkadang kita merasa bahwa apa yang kita lakukan adalah kebenaran dan kebaikan, tetapi ternyata ia bukan. Kita pikir apa yang kita ucapkan dapat membawa maslahat bagi orang banyak, tetapi justru melahirkan mafsadat. Kita tak jarang menjumpai ajakan-ajakan kebaikan, namun karena metode yang digunakan kurang tepat, justru berujung pada keributan. Kita tak jarang mendengar seruan amar ma’ruf nahi mungkar, namun justru mendapat respon yang negatif karena pemahaman yang terkesan memaksakan.

KH Mustofa Bisri pernah memberikan pesan yang sangat dalam maknanya:

Kebenaran kita berkemungkinan salah, kesalahan orang lain berkemungkinan benar. Hanya kebenaran Tuhan yang benar-benar benar

Nasihat Gus Mus ini sangat relevan dan patut untuk kita renungkan, apalagi di saat perkembangan teknologi yang sangat pesat seperti sekarang ini. Dengan hanya bermodalkan handphone berbasis android dan sepuluh-dua puluh ribu untuk membeli kuota, kita dapat menuliskan sesuatu untuk diketahui semua orang di dunia yang tergabung dengan jejaring kita. Kita dapat menyebarkan ucapan, foto, dan video hingga hanya dalam hitungan detik, semuanya dapat dilihat, didengar, dan dibaca oleh orang lain. Tak jarang, fitur-fitur media sosial justru menjadi media untuk meluapkan kebencian. Mengungkapkan ketidaksepakatan disertai amarah dan ejekan. Menjadi media untuk menyebar berita bohong dan fitnah demi kepentingan pribadi dan golongan. Group-group dan kolom komentar tak ubahnya menjadi ring tempat adu wacana. Debat tak berujung untuk menunjukkan mana yang lebih benar, mana yang lebih pintar, mana yang lebih suci.

Kita lebih mudah mencela karena yang ditatap hanyalah sebuah media, barang mati yang seakan membantunya menyampaikan segala hal. Padahal, yang disampaikannya melalui media, dirasakan juga oleh hati yang sama-sama dimiliki sesama makhluk Tuhan paling sempurna. Bias dan tidak peka karena tak merasa bertemu dan bertatap muka. Ini pendapatku, itu pendapatnya. Dia berbeda denganku, dia sangat aneh sikapnya. Padahal, kita tak mengenal bagaimana perangai asli lawan bicara. Maklum, yang kita ketahui hanyalah foto profil dan isi pemikirannya, terutama yang yang tidak seiya sekata dengan pandangan kita.

Mungkin karena iniah Rasulullah SAW menyebutkan pilihan kedua untuk membuktikan kualitas keimanan kita kepada Allah dan hari akhir. Yaitu dengan diam. Diam dari segala ucapan yang menyakiti hati. Diam untuk membenamkan benih-benih permusuhan. Diam untuk menutupi ketidaktahuan. Diam untuk menghilangkan rasa takabbur, rasa paling mengerti, dan rasa pailng baik dari orang lain.

Imam a-Ghazali mengingatkan kita dalam sebuah karyanya:

اعْتِقَــــــادُكَ فِيْ نَفْسِـــــكَ أَنَّـكَ خَيْرٌ مِنْ غَيْرِكَ جَهْلٌ مَحْضٌ

Keyakinan bahwa dirimu lebih baik dari yang lain (‘ujub) adalah kebodohan belaka.”

[Abu Hamid Al-Ghazali, dalam Bidâyatul Hidâyah]

Momentum bulan suci Ramadhan ini saya kira tepat bagi kita –khususnya pengguna media sosial- untuk dijadikan sebagai waktu bercermin. Semakin banyak menyampaikan kebaikan dengan memastikan bahwa apa yang kita ucapkan betul-betul kebaikan. Memulai untuk semakin berhati-hati dalam berucap. Semakin menjaga lisan agar selamat dari segala fitnah, dengki, dan permusuhan. Dengan ini, semoga kita bisa menjadi sebenar-sebenar muslim seperti apa yang disabdakan Rasulullah SAW.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim adalah orang yang ucapan dan perbuatannya menjadikan muslim-muslim lain selamat.

Saefullah Thaher

Adalah alumni Pon-Pes Dar al-Tauhid dan mahasiswa UGM Yogyakarta

Comments

comments