Bab 3 Sumpah li’an (Review Pengajian Bersama Pengasuh)

0
2260

DSCF0623

اللعان بين الزوجين

Pengajian pada bab ke-3 dalam tafsir al-ahkam ini membahas sebauh sumpah atas penuduhan seorang suami yang ditunjukkan kepada istrinya sendiri. Seperti yang tertera dalam teks skriptural atau Al-Qur’an surat an-nur, ayat 6-10 :

 

التحليل اللفظي

Dan pada perincian atas ayat tersebut secara parsial atau tafsilinya, atas kata perkatanya, seperti yarmun, yang bermakna tuduhan, dalam konteks ini tuduhan seorang suami terhadap istrinya yang telah melakukan serong/selingkuh/skandal atau yang lainnya. Azwajuhum, yang memiliki definisi berbeda seperti pada diskursus ilmu faro’id atau ilmu yang membahas masalah pembagian harta waris. Fasyahadatan, bemakna saksi, namun jika ditarik kepada sisi bahasa, maka syahadah ialah bermakna kabar berita yang pasti. Laknat, telah memiliki definisi tersendiri, yaitu dari akar kata li’an dengan makna tertolak/ditolak dari kasih sayang Allah. Wayudrau’, bermakna tertolak, dan pada kontek ini tertolak kesaksiannya. Al-adzab, bermakna sebuah vonis yang harus diterima sebagai konsekuensi dari persaksian yang tidak memiliki bukti-bukti valid, dan dua siksaan yang harus ditermianya  di dunia dan akhirat, dan di dunia ia akan di vonis dengan cambuk. Tawwab, ialah Allah sebagai satu-satunya dzat yang yang menerima taubat seorang hamba. Hakim, ialah ditunjukkan kepada Allah sebagai hakim yang maha bijaksana.

المعنى الإجمالي

Dalam bahasan global dari ayat tersebut tiada lain mengkrucut pada sebuah hukum atas persaksian seseorang dengan persaksian yang palsu/bohong yang telah dibuat oleh Allah dalam syari’at-Nya. Dalam konteks penuduhan seorang suami terhadap istrinya dengan tuduhan telah berbuat serong/selingkuh dengan laki-laki lain merupakan seburuk-buruknya seorang suami yang tidak memproteksi keluarganya hingga berujung pada penyudutan bahkan jika secara psikisnya ia (istri) merasa tersakiti hatinya. Dengan persyaratan ia (suami) harus menghadirkan 4 orang saksi yang dalam persaksiannya harus bersaksi atasnama Allah, hingga 4 saksi tersebut berlalu seorang istri dapat memberikan pembelaan atas tuduhan yang dilancarkan kepadanya.

Namun jika tuduhan itu benar maka vonis yang di terima istri ialah sama seperti vonis terhadap kasus zina (rajam/dilempari batu hingga meninggal), pada tahap persaksian tersebut, apabila ke empat orang tadi tidak bisa memberikan kesaksian yang valid maka tahap kelima seorang isrti dapat memberikan keterangan, juga dengan kesaksian atasnama Allah sebagai upaya pembelaan terhadap dirinya. Aturan sperti ini telah dikemas dalam syari’at yang telah diturunkan oleh Allah melalui al-Qur’an, akan tetapi dengan beratnya sanksi yang diterima, Allah selalu membuka lebar taubat seorang hamba, dengan taubat yang sebenar-benarnya taubat, yaitu : ia tetap beriman kepada Allah dan berbuat amal baik/shalih terhadap sesama manusia, alam, dan binatang. Begitulah Allah merupakan al-bari :dzat yang yang men-jadi-kan semua mahluk.

سبب النزول

Kronologis atas turunnya ayat tersebut menurut tafsir al-ahkam terpatri pada tiga kronolis yang telah dituturkan dalam sebuah hadist : pertama, hadist dari Bukhari dan Thirmidzi dan Ibnu Majjah yang di riwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa telah terjadi perselingkuhan seorang istri yang dimana suaminya (bernama Hallan bin Umayyah) sendiri telah melihat seorang lelaki lain (bernama syarik bin Sakhman) keluar dari rumahnya,  sehingga suaminya melaporkan hal tersebut kepada nabi, dan nabi mengatakan “datangkan saksi, jika tidak bisa maka vonis akan jatuh dipunggungmu”. Sehingga dalam tempo yang lain nabi mengatakan “tunggulah hingga 9 bulan, bahwa janin yang ada dalam kandungan istrimu menyerupai Syarik, dengan ciri matanya tajam, pantatnya besar, dan betis yang besar”. Kedua,bahwa diriwayatkan dari Ibnu Jabir dengan sanad yang sama, dari Ibnu Abbas, namun dengan redaksi yang berbeda. Bahwa disitu terdapat seorang suami yang memergoki seorang laki-laki sedng berbuat mesum dengan istrinya, kemudian sang suami tersebut berinisiatif untuk memanggil orang lain yang nantinya akan dijadikan saksi di hadapan nabi, namun apabila hal itu dilakukan maka perbuatan tersebut akan selesai, dan kisah ini mirip dengan kisah diatas. Ketiga, seorang suami mendapati istrinya berbuat mesum dengan laki-laki lain, dengan sesegera mungkin suami tersebut memanggil 4 orang laki-laki yang juga kelak dijadikan saksi dihadapan nabi.

لطا ئف التفسير

Pada segmen tafsir atas ayat tersebut terdiri dari lima bagian, baik dari nilai sastra yang terkandung dalam ayat tersebut, secara parsialnya, juga dari sisi nilai. Seperti :

  1. Imam Fakhrur Razi mengatakan bahwa keterangan mengenai syari’at yang terkandung dalam bagian sumpah li’an tersebut terbagi dalam dua bagian: pertama, bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan cela atau aib bagi dirinya sendiri dan juga dapat menjadikan rusaknya keturunan. Kedua, bahwa seorang istri juga berhak memberikan keterangannya yang statusnya sama dengan laki-laki, yaitu empat kali memberikan keterangan yang valid dan bersumpah atas nama Allah.
  2. Harus mendatangkan saksi sebagai bukti akan ada kebenaran atas peristiwa tersebut. juga terdapat perbedaan pada tahap kelima antara laki-laki dan perempuan, bahwa bila tahap kelima ini laki-laki mengucapkan sumpah dengan lafad “saya siap menerima konsekuensi di laknat oleh Allah apabila saya memberikan keterangan palsu/salah” dan lafad untuk perempuan “saya siap menerima konsekuensi di ghodob oleh Allah apabila saya memberikan keterangan palsu/salah”. Perbedaan laknat dan ghodob ialah bahwa laknat itu sifatnya sesaat, dan ghodob bersifat langgeng. Dan ghodob lebih berat dari laknat. Dengan alasan bahwa sudah menjadi lumrah bagi seorang istri mengucapkan hal-hal yang bersifat melaknat. Juga jika seorang yang dituduh bukanlah istri sendiri (baca: istri orang lain) maka tidak ada otoritas bagi orang tersebut melaporkan atau menuduh.
  3. Pada ayat ke sepuluh dalam surat tersebut terdapat iltifat (mengunakan kalimat yang berbeda dengan sebelumnya), dengan ada-nya atau hadirnya saksi tersebut menjadikan kesempurnaan dalam memperoleh keterangan dan juga menghindari misspersepsi diantara kedua belah pihak. Dan itu menurut Abu Su’ud.

Keempat, penggunaan lafadz laula merupakan sebuah fiil syarat dan membutuhkan jawab syarat dalam diskursus ilmu nahwunya karena dalam hal ini konteksnya perintah, sehingga terdapat wahn atau hipotesa atasnya dan implikasinya ialah sebuah ucapan yang menunjukkan kedasyatan atau mendramatisir pembacanya, seperti dalam kisah sahabat Umar dengan Abu ‘Ubadah dalam menghadapi peperangan dan Abu ‘Ubadah tersebut mengusulkan untuk lari dari kenyataan, hingga sahabat Umar marah tak terkira kepadanya yang ditunjukkan lewat ucapan. Kelima, menggunakan kata tawabbun hakim bukan rahim dalam ayat tersebut merupakan indikasi dari kemahaluasan Allah dalam memberikan kebijaksanaan pada umatnya, sehingga dalam sumpah li’an tersebut perempuan/istri bisa juga memberikan sebuah pembelaan sesuai dengan kaum laki-laki, seperti di atas, dengan adanya hal tersebut maka ia dapat terhindar dari tuduhan hina tersebut.

الأحكام الشر عية

Dalam hal atau kondisi apakah wajibnya li’an ?

Ketika keadaan suami menuduh istrinya melakukan perselingkuhan dengan laki-laki lain, maka istri bisa mengajukan pembelaan dalam memberikan kesaksian tersebut, dengan dua keadaan : pertama, seperti menuduh istrinya berzina dengan laki-laki lain dengan seperti ucapan “kamu telah berbuat serong”. Kedua, dalam keadaan istri yang sedang mengandung, namun suami tidak mengakui bahwa itu adalah janinnya.

Apakah li’an itu termasuk sumpah atau persaksian?

Terdapat perbedaan pendapat ulama dalam hal itu, seperti : madzab awal yang di nukil dari Abu Hanifah, bahwa li’an merupakan sebuah persaksian atau syahadah. Dengan argumentasi dari surat an-nur ayat 6 yang mengindikasikan bahwa kata syahadah dalam ayat tersebut ialah persaksian,  juga dari hadist Hallan bin Umayyah diatas, juga, bahwa satu orang laki-laki (suaminya) tidak perlu menghadirkan 4 orang saksi, dengan ia mengucapkan 4X dan 1X sumpah maka kedudukannya sama. Madzab kedua, yang di nukil dari jumhur ulama (Syafi’i, Malik, Ahmad), bahwa li’an ialah sebuah sumpah (yamin) bukan sebuah persaksian (syahadah). Dengan dasar argumentasi dari surat al-muanfikun ayat pertama yang terdapat kata syahadah dengan dimaknai bahwa itu ialah sumpah, juga dalam surat yang sama ayat 2 yang terdapat kata yamin yang bermakna sumpah, juga dari hadist nabi yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas :

“لولا الأيمان لكان لي ولها شأن ”

Dan kesimpulan dari pemaparan diatas mengindikasikan bahwa abu hanifah memandang li’an alah persaksian. Dan jumhur ulama memandang li’an sebagai sumpah dengan memiliki shighat memberatkan.

Apakah sah sumpah li’an diucapkan oleh suami yang beragama islam dan istrinya non-islam?

Berangkat dari sebuah riwayat :

” فلا لعا ن بين رقيقين, ولا بين كا فرين, ولا بين المختلفين دينا, ولا بين محدودين في قدف ”

dan ijtihad para imam mujtahid berangkat dari hadist :

“أربعة ليس بينهم لعان: ليس بين الحر والأمة لعان, وليس بين الحرة والعبد لعان, وليس بين المسلم واليهو دية لعا ن, وليس بين المسلم والنصرانية لعان”

Berangkat dari kedua terminologi diatas bahwa tidak sah sumpah tersebut di ucapkan, kecuali oleh, suami-istri, merdeka, dan muslim. Dengan mengucapkan 4 kali sumpah atas kesaksian, dan 1 kali sumpah untuk konsekuensi yang akan diterima bila kesaksiannya palsu. Dan 4 kali pengulangan dalam sumpah pertama ialah dengan maksud menguatkan.

Apakah boleh mengucapkan sumpah li’an tidak di depan hakim/pengadilan?

Kesepakatan ulama atas hal ini aialah tidak sah, karena bila memenuhi prosedur dari pengadilan, maka terdapat upaya mediasi yang stidaknya bisa mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dalam sebuah keluarga (baca : suami-istri), kemudian berlandaskan pada sebuah hadist :

” أيما إمرأة أدخلت على قوم من ليس منهم فليست من الله في شئ ولن يد خلها الله الجنة. وأيما رجل جحد ولده وهو ينظر إليه اختجب الله عنه وفضحه على رؤس الأولين والا خرين ”

Bagaimana cara atau prosedur sumpah li’an?

Pertama mengucapkan kalimat sumpah atas kesaksian dengan kalimat di bawah ini, di ucapkan sebanyak empat kali oleh laki-laki (suami) :

” أشهد با الله إني لصادق فيما رميتها به من الزنى ”

Dan mengucapkan sumpah akan menanggung konsekuensi/resiko pada tahap ke limanya (suami) :

لعنة الله عليه إن كان من الكاذبين فيما رماها به من الزنى ”

Dan untuk istri, dalam pembelaan atas dirinya mengucapkan hal yang sama dengan urutan yang sama :

“أشهد با الله إنه لمن الكاذبين فيما رماني به من الزنى”

Dan mengucapkan sumpah akan menanggung konsekuensi/resiko pada tahap ke limanya (istri)

غضب الله عليها إن كان من الصا دقين فيما رما ني به من الزنى ”

Dan sebaiknya untuk menguatkan sumpah tersebut di anjurkan untuk menempati dua dimensi yang kekuatan hukum dan keadaannya saling menguatkan, sperti dalam waktu bulan Ramadhan, juga di ucapkan di tempat yang sakral, seperti masjid.

Menolak sumpah li’an apakah tetap terkena hukuman?

Dalam hal ini terdapat dua pandangan atasnya.

Imam Malik, Syafi’i, dan Ahmad: bahwa ketika seorang suami menolak li’an maka terkena vonis, seperti vonis qodzaf, dan apabila istri yang menolak sumpah li’an tersebut maka ia terkena hukuman seperti hukan atas zina. Dengan dasar argumen dari al-qur’an surat an-nur ayat 4 dan 6, dan sebuah hadist :

” الرجم أهون عليك من غضب الله” و ” البينة أو حد في ظهرك”

Dan imam Abu Hanifah mengatakan bahwa, ketika sorang suami menolak sumpah tersebut maka ia di tahan, hingga ia telah meyakinkan dirinya bahwa ia tidak membohongi dirinya sendiri, dan apabila istri yang menolaknya maka ia di tahan sampai mengaku. Dengan dasar argumen dari surat an-nur ayat 6, dan hadist :

” لايحل دم امرىء مسلم إلا بإ حد ى ثلا ث : زنى بعد إحصان, أوكفر بعد إيمان, أو قتل نفس بغير نفس ”

Apakah ayat li’an telah disalin oleh ayat qodzaf?

Dalam dua pandangan tentang ayat ini :

Pertama, ayat li’an turun sesudah ayat qodzaf dengan kronoligis yang berbeda. Kedua,Para sahabat memahami ayat ini ialah ayat qodzaf, dengan menyamakan hukum atas penuduhan terhadap istri (li’an) dan penuduhan terhadap orang lain (qodzaf). Ketiga, ayat li’an diturunkan untuk meringankan beban para suami pada waktu itu.

Apakah statusnya menjadi cerai di antara keduanya setelah mengucapkan sumpah li’an?

Dalam sebuah riwayat hadist di sampaikan bahwa :

” المتلا عنان إذاتفرقالا يجتمعان أبدا” و “مضت السنة ألا يجتمع المتلا عنان”

Dan apabila telah mengucapkan sumpah li’an maka tidak ada rujuk atasnya.     

Juga ketika seorang suami mengucapkan sumpah li’an maka status pernikahannya batal (baca: cerai) meski tidak menunggu jawaban istri (imam Syafi’i), sedangkan imam Malik mengatakan mereka belum bercerai sebelum terjadi kesepakatan cerai atasnya. Imam Abu Hanifah juga mengatakan bahwa sebelum keduanya mengatakan dan disaksikan oleh hakim perceraian belum terjadi.

Apakah ketika sumpah li’an itu palsu, istri bisa di rujuk?

Ketika seorang suami memberikan kesaksian paslu maka ia terkena vonis qodzaf/tuduhan kepda orang lain, yaitu 80 cambukan, namun untuk rujuk dengan istrinya imam mujtahid berpendapat : tidak halal istrinya karena dengan alasan telah pisah (baca : cerai) untuk selamanya dan tidak ada jalan untuk rujuk, dan ini dikemukakan  oleh imam Syafi’i dan Malik. Dan imam Abu Hanifah berpendapat bahwa status suami-istrinya memang telah pisah namun bisa di kembali utuh dengan cara melamarnya kembali. Dan dalam suatu riwayat, imam Ahmad berpendapat mengenai hal ini bahwa terdapat dua pandangan, pertama, pisah dan tidak bisa rujuk. Kedua, pisah, namun bisa kembali dengan jalan melamarnya.

Apakah bisa sumpah li’an suami ditunjukkan kepada seorang anak (tidak mengakui status anaknya)?

Saat seorang suami menafikan anaknya, maka secara hukumnya ia (anak) mengikuti garis keturunan ibunya (baca : martilineal), tidak wajib memberi nafkah kepada anaknya, dan status warisnya mengikuti ibunya, senada dengan sebuah hadist yang di riwayatkan oleh ‘Amru bin Syu’aib, :

“وقض رسول الله صلى الله عليه والسلام في ولد المتلا عنين أنه يرث أمه وترثه أمه, ومن رماها به جلد ثما نين”

Dn karena seorang istri dapat menepis tuduhan tersebut, maka sang suami mendapat hukuman cambuk sebanyak 80 kali. Dan status suami-istrinya ialah cerai. Dan dengan adanya syari’at ini ditetapkan karena melihat sisi sensifitas (ikhtiath) dari pandangan masyarakat, sehingga ia (anak) tidak bisa memperoleh zakat mal, dan ketika ia membunuh maka tidak ada qishosh atasnya, dan tidak dilegalkan persaksiannya dalam segala hal, dan status anaknya tidak di ketahui. Dan imam al-Fakhr mengatakan 5 hukum yang saling bersinergi karena li’an : ditolak vonis atas perempuan tersebut (baca:mantan istri), menafikan status anak, cerai, tidak bisa rujuk, dan wajib atas vonis terhadap suaminya.

ما تر شرإليه الآيات الكريمة

  1. Ketika hendak melepaskan diri dari hukuman karena tidak mampu mendatangkan saksi maka harus mengucapkan sumpah li’an atau dijatuhi vonis.
  2. Saat orang lain yang bukan suaminya menuduh istrinya berzina, maka itu bukanlah li’an, melainkan qodzaf.
  3. Tujuan dari adanya li’an ialah untuk membebaskan seorang suami dari vonis qodzaf, dan istri dari vonis zina.
  4. Harus dengan sumpah lian yang diulang sebanyak 5 kali, sperti yang tuturkan di atas.
  5. Untuk mengucapkannya hendaknya memilih waktu dan tempat yang memiliki nilai sakral, seperti Masjid dan waktunya ketika hari jum’at atau bulan Ramadhan.
  6. Setelah mengucapkan li’an maka tidak bisa rujuk selamanya.
  7. Mengkhususkan kata “laknat” untuk suami dan “ghodob” untuk istri, karena kedua sifatnya berbeda, maka out put hukumnya pun berbeda.
  8. Kasih sayang Allah begitu besar dengan adanya li’an

حكمة التشريع

Ayat ini diturunkan dalam sebuah kegelisahan seorang suami yang mengetahui istrinya kedpatan berzina dengan laki-laki lain, juga sebagai jawaban dari Allah kepada hamba-Nya dengan cara yang luhur, juga memproteksi diri dari sebuah bahaya yang nampak dalam realitasnya, juga dengan semakin terdegradasinya moral dalam kehidupan manusia, yang kian hari dalam amabng kehancuran. Dengan sebuah persaksian yang harus di hadirkan dalam mengindikasikan validitas atas tuduhannya tersebut, namun jika tidak terbukti atas apa yang ia samapikan maka si penuduh mendapatkan vonis yang berat, sama halnya dengan vonis atas qodzaf (80 cambuk) dan kasus seperti ini merupakan sebuah ulasan sejarah atas apa yang terjadi pada Siti Maryam, juga pada masa Nabi Muhammad yaitu seperti apa yang menimpa pada Hallan bin Umayyah, dan dengan adanya hal ini, maka Islam memberikan sebuah solusi atas rasa kebingungan yang terjadi pada seorang suami. Dan sumpah li’an ialah di tunjukkan bagi istrinya, dan qodzaf ialah ditunjukkan bagi orang lain.

Begitu bijaksana Allah membuat sebuah ritme kehidupan ini, dengan solusi atas kebingungan-kebingungan yang melanda umat Islam, Allah memberikan solusi atanya, semoga kita selalu dilindungi oleh-Nya.

والله أعلم

Pojok Badar Atas, 16 Maret 2016

 

Comments

comments